Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Bekasi - Empat orang wisatawan asal Kota Bekasi hilang diduga terbawa arus ombak ketika tsunami Selat Sunda di Pantai Anyer, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Sabtu malam, 22 Desember 2018. Mereka adalah Masnadi, Sulaiman, Soleh dan Nurhasan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Korban hilang ini merupakan bagian dari rombongan pengurus Partai Golkar di Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medansatria. Total jumlah rombongan dalam acara family gathering tersebut sebanyak 65 orang (sebelumnya ditulis 61 orang).
Pengurus Partai Golkar Kecamatan Medansatria, M. Soleh, mengatakan kegiatan rombongan pada malam kemarin yaitu doa bersama yang dilanjutkan makan malam, lalu istirahat.
Karena itu, sebagian besar dari korban selamat tengah berada di penginapan yang mereka sewa. "Ada lima orang yang sedang mancing ketika Tsunami datang," kata Soleh kepada wartawan usai tiba di Bekasi pada Ahad, 23 Desember 2018.
Menurut Soleh, lima orang di antaranya Masnadi, Sulaiman, Soleh, Nurhasan, dan Nurdin, menghabiskan malam dengan memancin ikan di bibir pantai. Begitu suara bergemuruh air laut pasang pukul 21.30 WIB, rombongannya keluar untuk menyelamatkan diri dengan cara berlari sejauh dua kilometer mencari dataran lebih tinggi.
Dua jam kemudian, pihaknya mengidentifikasi empat orang telah hilang. Hanya satu orang diantara rombongannya yang sedang memancing selamat, yaitu Nurdin. Korban tersebut kini sedang dirawat di rumah sakit di daerah Pandeglang.
"Korban hilang sampai sekarang masih dalam pencarian, sebagaian besar rombongan telah pulang," ujar Soleh.
Sebelum tsunami Selat Sunda datang, Soleh bersama ombongan lainnya melihat AnakKrakatau memerah, seperti mengeluarkan larva pijar. Namun, ia tak melihat ada tanda-tanda air akan pasang pada malam tersebut. "Enggak ada tanda-tanda, tahunya suara gemuruh ketika air pasang," ujar Soleh.