Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Logo DW

Keadilan bagi Keluarga Korban 'Perang Narkoba' di Filipina

Reporter

Editor

dw

image-gnews
Keadilan bagi Keluarga Korban 'Perang Narkoba' di Filipina
Iklan

Pada usia 51 tahun, Mary Ann Domingo akhirnya memenuhi impian seumur hidupnya untuk lulus SMA. Namun, dia berharap putranya, Gabriel, dan suaminya, Luis, dapat menghadiri wisudanya.

Lewat tengah malam pada tanggal 15 September 2016, sekitar 15 hingga 20 orang yang di antaranya adalah polisi berseragam dan beberapa orang bertopeng, masuk ke rumah Domingo untuk melakukan operasi penggerebekan narkoba.

Baca juga:

Saat itu merupakan puncak dari kampanye anti-narkoba di Filipina yang dicanangkan oleh mantan Presiden Rodrigo Duterte, dan Luis adalah target mereka.

Domingo mengatakan bahwa dia dan anak-anaknya diseret ke jalan. Namun Gabriel, 19 tahun, menolak untuk meninggalkan ayahnya. Polisi menembak dan membunuh mereka berdua, mengeklaim bahwa kedua orang itu telah melawan saat ditangkap.

Pada bulan Juni lalu, empat polisi yang terlibat dalam insiden tersebut dinyatakan bersalah atas pembunuhan oleh pengadilan di Kota Caloocan, sebelah utara Manila. Bagi Domingo, putusan tersebut merupakan hasil akhir upayanya dalam mencari keadilan.

Baca juga:

Selama delapan tahun, Domingo dan keluarganya terus berpindah-pindah sebagai bagian dari program perlindungan saksi informal yang diorganisir oleh kelompok-kelompok agama dan organisasi hak asasi manusia.

"Kami kelelahan,” kata Domingo, seraya menambahkan bahwa sebagai saksi pembunuhan, dia dan keluarganya merasa tidak aman dan melarikan diri dari rumah mereka.

Besarnya skala pembunuhan terkait narkoba membuat organisasi-organisasi keagamaan berebut untuk memberikan perlindungan bagi puluhan keluarga korban.

"Mereka semua sangat ketakutan. Mereka tidak tahu ke mana mereka bisa pergi atau siapa yang bisa mereka percaya. Mereka hanya tahu bahwa mereka harus lari,” kata Jun Santiago, seorang Bruder Penebus di Gereja Baclaran, kepada DW.

Bertahun-tahun mencari keadilan

Kristina Conti, Sekretaris Jenderal Persatuan Pengacara Rakyat Nasional, telah menjadi pengacara Domingo sejak 2018. Dia mengatakan kepada DW bagaimana Domingo mengubah kesedihannya menjadi tantangan bagi pihak berwenang.

"Ini merupakan terobosan bagi keluarga korban untuk menuntut polisi. Ketika kami mengajukan kasus ini, ada secercah harapan,” kata Conti. Dia menambahkan bahwa meskipun terkadang ada keraguan apakah kasus ini akan berlanjut, Domingo "tidak pernah goyah dalam memperjuangkan keadilan.”

Conti mengatakan bahwa para pejabat berusaha menutupi tanggung jawab polisi dalam pembunuhan dalam perang melawan narkoba.

"Kami menduga ada upaya menutup-nutupi dan kami menemukannya dalam berbagai cara: bukti-bukti yang tidak lengkap, dokumen-dokumen yang dirahasiakan,investigasi yang buruk atas keabsahan operasi polisi,” ujarnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kesaksian saksi Domingo adalah bukti terkuat mereka. Untuk memperkuat kesaksiannya, mayat Gabriel dan Luis digali untuk diotopsi postmortem untuk menentukan penyebab kematiannya. Temuan dari ahli patologi forensik terkemuka di Filipina, Dr. Raquel Fortun, mengungkapkan bahwa kedua orang itu mengalami beberapa tembakan yang mengindikasikan adanya niat untuk membunuh.

Selama proses penggalian dan otopsi forensik, Santiago terus mendampingi Domingo. Domingo dengan lembut memeluk kepala Gabriel, melipat ujung-ujung kantong mayat di sekelilingnya seolah-olah itu adalah selimut. Dasi yang dibelikannya untuk Gabriel sebelum dia terbunuh kini sudah menghitam dan berdebu.

Sehari sebelum dia meninggal, Domingo membelikan putranya sebuah dasi untuk dipakai di pekerjaan katering barunya. Yang pada akhirnya Gabriel tidak pernah memakai dasi itu untuk bekerja. Sebaliknya, dia memakainya untuk pemakamannya sendiri.

"Otopsi forensik diperlukan untuk mengumpulkan lebih banyak bukti, tetapi sangat traumatis bagi Mary Ann melihat putra dan suaminya seperti itu,” kata Santiago.

Menatap masa depan

Pada hari kelulusannya, Domingo dikelilingi oleh keluarganya. Delapan tahun yang lalu, mereka saling menghibur satu sama lain saat Gabriel dan Luis dimakamkan.

Kini, putri Domingo, Alexa, telah lulus dari perguruan tinggi dengan predikat terbaik dan baru-baru ini lulus ujian lisensi guru. Anak laki-laki Gabriel, Gab, berusia 8 tahun dan semakin mirip dengan ayahnya. “Gabriel pasti akan sangat bangga dengan saya. Dia sangat menginginkan hal ini untuk saya,” kata Domingo.

Beberapa tahun yang lalu, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas, atas dorongan Gabriel, dan bergabung dengan putranya dalam sebuah program pembelajaran alternatif.

"Kami duduk bersebelahan di kelas. Dia selalu memamerkan saya kepada teman-temannya, dan berkata: 'Lihatlah mama saya, begitu gigih untuk mendapatkan pendidikan. Dia bisa saja berada di panggung itu bersama saya. Kami bisa saja berbagi momen ini bersama,” kata Domingo.

Domingo berencana untuk mendapatkan gelar sarjana di bidang pengembangan masyarakat dan menjadi pekerja sosial. Dia juga berencana untuk mengajukan tuntutan hukum terhadap orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan suami dan putranya.

"Mereka tidak lagi bersama kami, tetapi impian mereka tetap bersama kami. Mimpi mereka akan membawa kita terus maju,” kata Domingo.

(fr/ha)

Iklan

Berita Selanjutnya

1 Januari 1970


Artikel Terkait

    Berita terkait tidak ada



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Berita terkait tidak ada