Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Maraknya kasus penipuan dan kegagalan manajemen risiko di Indonesia menjadi peluang bagi Kroll, konsultan investigasi dan risiko, unjuk gigi. Dari hasil studi perusahaan global asal Amerika Serikat yang sudah melebarkan sayap ke lebih dari 140 negara ini, 8 dari 10 perusahaan di Indonesia sempat merugi karena kecurangan transaksi (fraud), baik dari orang dalam maupun pihak eksternal. Hal ini diakibatkan oleh sistem pengawasan dan tata kelola yang penuh celah, terutama di era digital.
Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun dan mengatasi masalah klien di berbagai negara, Kroll menawarkan solusi untuk pengawalan keuangan perusahaan yang lebih baik. Berikut ini kutipan wawancara Tempo dengan Direktur Pelaksana dan Kepala Asia Tenggara Investigasi dan Intelijen Forensik Kroll, Reshmi Khurana, pekan lalu.
Reshmi Khurana, Direktur Pelaksana dan Kepala Asia Tenggara Kroll. Dokumentasi Pribadi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Solusi apa yang ditawarkan Kroll kepada korporasi?
Kroll memberikan saran kepada klien mengenai berbagai macam hal yang terkait dengan risiko, tata kelola, dan kepatuhan. Kami juga membantu investor menilai kualitas target investasi mereka sebelum mencapai kesepakatan. Kroll juga membantu menyelidiki kesalahan dalam organisasi, mencari aset rekanan, melindungi klien dari serangan cyber, serta mendukung proses restrukturisasi bisnis.
Berarti Kroll bertindak sebagai konsultan?
Keahlian teknis kami tadi dipadukan dengan teknologi, kemudian hasilnya bisa menjadi wawasan dan saran yang independen untuk klien. Hal ini membantu mereka untuk membuat keputusan bisnis yang lebih baik.
Siapa saja target konsumen Kroll?
Klien kami adalah perusahaan; firma hukum; firma jasa keuangan, termasuk bank; instansi pemerintah; organisasi multilateral; ataupun individu yang berpengaruh di dunia. Biasanya mereka datang karena sudah tahu reputasi kami dalam memberikan saran yang independen. Klien juga memahami keterampilan investigasi kami.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Seberapa besar kebutuhan konsultan manajemen risiko bagi perusahaan Indonesia?
Sebagai negara tujuan investasi, sangat penting bagi perusahaan Indonesia untuk mengantisipasi masalah tata kelola dan kepatuhan. Penanganan risiko yang baik juga membuat perusahaan lebih menarik di mata investor, mitra, ataupun perusahaan pengelola dana. Pada Juli 2021, Kroll menggandeng Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) Indonesia untuk mengadakan Indonesia Risk Survey, survei soal insiden penipuan dan korupsi yang melibatkan 241 responden, baik dari pemerintahan maupun pihak swasta. Kami menemukan fakta menarik; hampir 80 persen responden mengakui organisasi mereka sempat menjadi korban penipuan (fraud), 83 persen percaya fraud itu dilakukan karyawan sendiri. Mengenai langkah deteksinya, ada 62 persen responden mengatakan kecurangan itu ketahuan dari sistem pelaporan pelanggaran perusahaan. Ada 32 persen yang mengakui kerugiannya lebih dari Rp 1 miliar per tahun.
Bagaimana masukan Kroll ihwal survei soal fraud tersebut?
Melihat hasil survei, sebagian besar perusahaan masih mengandalkan solusi tradisional, seperti sistem pelaporan pelanggaran dan audit. Perusahaan yang beroperasi di industri resmi, misalnya jasa keuangan, diharuskan memiliki strategi anti-penipuan, sistem anti-pencucian uang, dan untuk beberapa kasus harus juga punya sistem manajemen anti-penyuapan. Secara teratur, perusahaan diaudit oleh regulator, seperti Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, serta Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), untuk memastikan penerapan syarat tersebut. Namun, menurut pengalaman kami, persyaratan regulasi saja tidak cukup. Budaya organisasi, komitmen manajemen, dan faktor internal lainnya memainkan peranan penting untuk mendorong budaya anti-fraud. Adapun perusahaan di luar industri resmi, terutama yang tidak terdaftar, lebih berisiko mengalami fraud dan kejahatan keuangan. Perlu strategi komprehensif dari regulator dan pelaku industri untuk memastikan tata kelola bisnis non-regulasi berjalan baik.
Apa kelemahan audit dan sistem pelaporan pelanggaran?
Secara historis, sistem pelaporan pelanggaran telah terbukti efektif, tapi tetap saja merupakan strategi yang reaktif. Kita tidak memiliki banyak kendali untuk hasilnya. Sebagian besar audit juga telah dirancang untuk memastikan mekanisme pelaporan perusahaan sesuai dengan standar akuntansi. Tidak banyak audit yang dirancang dengan mempertimbangkan risiko penipuan. Kita harus lebih mengandalkan strategi proaktif untuk mendeteksi penipuan.
Bagaimana cerita ekspansi Kroll ke Indonesia?
Indonesia adalah potensi pasar yang besar dan menarik bagi kami. Selama lebih dari satu dekade, kami sudah menjadi konsultan bagi perusahaan global yang berinvestasi di Indonesia. Kami membantu pemecahan masalah operasional di lapangan, termasuk menggelar penyelidikan sensitif tentang tata kelola dan kepatuhan. Selama beberapa tahun terakhir, kami juga sudah bekerja dengan perusahaan di Indonesia, baik itu bank, firma hukum ternama, konglomerat, maupun badan usaha milik negara (BUMN). Pada 2020, Kroll mengakuisisi Borrelli Walsh, perusahaan yang membantu penanganan restrukturisasi, pemulihan, dan kepailitan. Mereka sudah memiliki sejarah panjang sebagai penasihat klien global dan lokal sehingga sangat mendukung pengenalan kami di Indonesia.
Bagaimana perkembangan bisnis Kroll di dunia dan di Indonesia?
Kantor kami berada di lebih dari 30 negara. Kami dapat melayani klien kami dengan lancar, tidak seperti banyak rekan bisnis serupa yang beroperasi dengan model waralaba. Kami juga tidak menyediakan layanan statutory audit sehingga tingkat independensi kami tidak tertandingi dalam industri ini. Kami sangat independen dan bekerja berdasarkan fakta. Hal ini sangat dihargai oleh klien.
Bagaimana pengaruh teknologi terhadap bisnis antisipasi fraud ini?
Kita hidup di era digital. Teknologi membantu kami beroperasi di lingkungan baru dan saat menghadapi jenis penipuan yang baru. Layanan manual tidak bisa diandalkan untuk mengatasi penipuan atau pencucian uang dalam tubuh penyedia layanan keuangan yang memiliki jutaan pelanggan. Pasalnya, ada miliaran transaksi di sana. Saat ini organisasi dan instansi cenderung memakai analisis data (data analytic) sebagai referensi informasi yang lebih baik. Sistem ini lebih efektif untuk mendeteksi transaksi yang mencurigakan. Salah satu layanan yang kami hadirkan di Indonesia adalah investigasi forensik. Yang kami sajikan adalah sumber daya yang kompeten dan berpengalaman dengan latar belakang multidisiplin. Kami juga dibantu jaringan global.
Apa target jangka panjang Kroll di Indonesia?
Tujuan kami adalah membangun praktik berkelanjutan di Indonesia. Kami juga ingin menarik talenta lokal terbaik dan melayani klien lokal terbaik. Kami sangat percaya bahwa lembaga keuangan pemerintah, entitas swasta, dan organisasi sektor publik lain menyadari pentingnya tata kelola risiko. Mereka butuh masukan dari perusahaan seperti Kroll. Tim Kroll sudah hadir di kawasan ASEAN, termasuk Malaysia dan Vietnam. Kami juga berkomitmen untuk terus mengembangkan praktik kami di India, Singapura, Cina, dan Jepang, yang sudah berlangsung selama lebih dari 20 tahun. Kami mulai beroperasi di Australia beberapa tahun lalu, dan pertumbuhan di sana sangat fenomenal.
Profil Managing Director Kroll:
Nama: Reshmi Khurana
Pendidikan:
- Bachelor of Arts, Delhi University
- MSc Economics, The London School of Economics and Political Science
Karier:
- Managing Director and Head of Southeast and South Asia, Kroll (2018-sekarang)
- Associate Managing Director, Kroll (2005-2012)
- Director, Kroll (2003-2004)
- Konsultan, McKinsey and Co (2001-2003)
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo