Pemeriksaan barang-barang impor kini secara bertahap mulai dioperkan oleh SGS (Societe Generale de Surveillance) kepada PT Surveyor Indonesia (SI). Menurut Chief Executive Officer SGS yang baru, Robert P. Collier, sejak awal Januari tahun ini SI mulai dicoba menangani pemeriksaan barang-barang impor dari Thailand, Australia, dan Belanda. ''Resmi, operasinya akan dimulai April mendatang. Agustus nanti daerah operasi SI akan diperluas menjadi tujuh negara,'' kata Collier kepada Sri Wahyuni dari TEMPO. SGS adalah perusahaan asal Swiss yang mulai berkibar di Indonesia tahun 1985, ketika ditunjuk pemerintah RI menjadi ''polisi lalu lintas'' untuk barang ekspor-impor, menggantikan Ditjen Bea Cukai. Kontraknya berlaku tiga tahun. Untuk barang-barang impor, SGS mengecek di negara asal barang. Tapi untuk barang eskpor, pengecekan dilakukan SGS bersama BUMN Departemen Perdagangan yakni PT Sucofindo. Tahun 1988 kontrak SGS diperpanjang tahun demi tahun. Dan tahun 1991 lahirlah PT SI yang kelak mengambil alih peran SGS. Setelah dibimbing dua tahun, SI rupanya kini sudah siap. Menurut Collier, saham-saham SI dimiliki pemerintah (76%), SGS (20%), dan PT Sucofindo (4%). Di PT Sucofindo ternyata ada saham SGS sebanyak 5%. Di Sucofindo, SGS berperan untuk evaluasi bantuan teknis bagi urusan investasi yang, misalnya, menyangkut penelitian senilai US$ 15 miliar dolar per tahun. Sedangkan pemeriksaan barang-barang impor tahun 1985 - 1991 antara US$ 10 miliar dan US$ 21 miliar. Sungguh, bisnis jasa raksasa. SGS telah pula mendirikan PT Qualitech Perdana dengan 60% pemilikan di tangan SGS dan 40% milik Sucofindo. Perusahaan ini baru beroperasi setahun, menangani bisnis jasa konsultasi kontrol dan jaminan kualitas. ''Kegiatannya antara lain konsultasi untuk pemenuhan standar mutu barang internasional yang disebut ISO-9000,'' kata Collier. Menurut Collier, Krakatau Steel adalah salah satu pemakai jasa Qualitech Perdana. Sebegitu jauh Qualitech belum berlaba, tapi tahun ini sudah akan mencapai titik impas. Sedangkan tahun 1991 SI mencatat laba Rp 3,7 miliar yang naik fantastis pada tahun 1992 menjadi Rp 23,2 miliar.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini