Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Koalisi Masyarakat Sipil Beberkan Dampak Negatif Proyek Giant Sea Wall

Koalisi masyarakat sipil Maleh Dadi Segoro (MDS) menolak proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall di Pantura Jawa.

12 Januari 2024 | 08.44 WIB

Warga beraktivitas di sekitar terpaan gelombang laut pesisir Pantai Utara di Pekalongan, Jawa Tengah, Senin, 1 Juni 2020. Kredit: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/pras.
material-symbols:fullscreenPerbesar
Warga beraktivitas di sekitar terpaan gelombang laut pesisir Pantai Utara di Pekalongan, Jawa Tengah, Senin, 1 Juni 2020. Kredit: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/pras.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

TEMPO.CO, Jakarta - Koalisi masyarakat sipil Maleh Dadi Segoro (MDS) menolak proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall di Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Sebelumnya, pemerintah mengklaim giant sea wall sebagai solusi banjir rob dan tenggelamnya kawasan Pantura Jawa. Bahkan, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto; Menko Perekonomian Airlangga Hartarto; dan dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Kerja membentuk gugus tugas untuk membangun infrastruktur tersebut.

“Kami menilai bahwa pemerintah kembali gagal memahami akar masalah dari penyebab ada bagian Pantura Jawa yang tenggelam,” kata Koordinator MDS Martha Kumala Dewi melalui keterangan tertulisnya, dikutip Tempo, Jumat, 12 Januari 2024. 

Martha membeberkan sejumlah dampak negatif tanggul laut yang digagas pemerintah. Pertama, kata dia, tanggul laut akan mengonsentrasikan pembangunan dan aktivitas ekonomi di Pantura Jawa. Menurutnya, hal ini kontraproduktif dengan kondisi ekologi Pantura Jawa yang mengalami amblesan tanah. 

Ia mengatakan pembangunan infrastruktur dan aktivitas ekonomi yang semakin padat ptomtis mendatangkan beban dan membutuhkan air. Sementara, kebutuhan air untuk rumah tangga dan industri di Pantura Jawa banyak dipenuhi melalui ekstraksi air tanah dalam.

“Jadi, konsentrasi ekonomi di Pantura Jawa yang datang bersama dengan tanggul laut akan semakin memperparah amblesan tanah melalui pembebanan fisik dan ekstraksi air tanah dalam yang akan bertambah,” ujarnya.

Dampak negatif kedua, lanjutnya, orientasi  membangun tanggul laut mengalihkan perhatian dari usaha mengurangi terjadinya amblesan tanah.

Selanjutnya: Tanggul laut menguntungkan industri tapi merugikan perkampungan nelayan

Ketiga, tanggul laut seperti yang sudah berdiri pada proyek Tol Tanggul Laut Semarang Demak (TTLSD), menguntungkan wilayah yang kuat seperti kawasan industri yang diutamakan pengembangannya. “Namun, merugikan yang lemah, seperti perkampungan nelayan karena semakin terpapar pada perubahan arus air laut yang menyebabkan abrasi pantai,” kata dia.

Keempat, kata dia, tanggul laut menimbulkan ketimpangan geografis antara wilayah barat dan timur, antara wilayah daratan dan pesisir Pantura Jawa. Martha berujar, tanggul laut akan mengurangi dampak banjir di wilayah daratan, tapi merusak ekosistem di wilayah pesisir. 

“Selain itu,  wilayah Pantura bagian timur akan menerima resiko hempasan gelombang laut akibat beban pembangunan di wilayah Pantura bagian barat, terutama dalam kasus TTLSD,” ujarnya.

Dampak negatif kelima, kata dia, tanggul mempersempit dan menutup ruang tangkap nelayan. Keenam, mematikan mangrove dan ekosistem pesisir. Ketujuh, memperparah banjir karena air dari darat terkepung di belakang tanggul.

“Terakhir, tanggul laut menciptakan kesenjangan wilayah antara perkotaan dan pedesaan, permbangunan terkonsentrasi di perkotaan,” kata dia.

Pilihan EditorEstimasi Biaya Pembangunan Giant Sea Wall di Pantura Jawa Rp 164,1 Triliun

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus