Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Protein merupakan zat gizi makro yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, penyembuhan, hingga meningkatkan daya tahan tubuh. Karenanya, konsumsi protein menjadi salah satu nutrisi penting yang harus ada dalam menu sehari-hari. Menurut Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Unibebrsitas Indonesia, Sandra Fikawati, protein hewani dan nabati berfungsi untuk pertumbuhan dan penyembuhan, pembentukan organ tubuh, massa otot. “Penting untuk kita ketahui, fungsi protein hewani sangat signifikan terutama dalam tumbuh kembang anak karena sebagai zat penyusun dan pembangun sel-sel yang menyusun organ tubuh. Sumber utama protein hewani yang baik bisa didapat antara lain dari susu, telur, ikan, dan lain - lain,” ujar pakar yang karib disapa Prof Fika ini.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Lebih rinci Fika menyebutkan, pentingnya protein hewani karena asam amino esensialnya lebih lengkap yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh kembang. Protein hewani berasal dari hewan yang memiliki kualitas protein lebih baik, karena ada asma amino esensial. Jadi protein itu ada senyawa kimia yang terdiri dari asam-asam amino fungsinya untuk pertumbuhan, membangun dan mengatur. “Tubuh memerlukan 20 jenis asam amino, sembilan di antaranya asam amino esessial, yang didapat dari makanan yang mengandung protein hewani. Sisanya bisa dapat dari tubuh sendiri. Cara kerja asam amino esensial itu mendukung hormonal, termasuk hormon pertumbuhan,” katanya kemudian.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurutnya, sebagai salah satu sumber protein hewani yang baik, kandungan gizi pada susu lebih lengkap dibanding telur maupun ikan. Keunggulan lainnya, susu banyak difortifikasi dengan zat gizi yang tidak ada atau kurang misalnya fe (zat besi). Foritifikasi lain pada susu seperti vitamin A, D, fe, menjadikan kandungan gizi susu cukup lengkap. Pada umumnya selain juga praktis, dan susu bisa diminum tanpa atau dengan makanan pendamping apapun dan kapanpun.
Karena beragam gizi yang terdapat di dalam susu, sehingga bisa memenuhi semua kebutuhan gizi di segala usia sejak masa kanak - kanak, dewasa hingga lansia. Kontribusi susu pada setiap fase kehidupan adalah dengan adanya protein, pada masa kanak – kanak, kebutuhan gizi ini fungsinya untuk kunci tumbuh kembang. Memasuki usia pra dan dewasa, kalsium dalam susu dibutuhkan untuk mencegah osteoporosis. Untuk sepanjang usia, susu juga mendukung daya tahan tubuh yang sangat dibutuhkan untuk membantu mencegah terjadinya infeksi.
“Jadi dari usia dini, dewasa hingga lansia, pasti semua butuh susu karena kebutuhan gizi lengkap ada dalam susu.Oleh karena itu, peran keluarga sangatlah penting, karena jenis makanan yang dikonsumsi sangat tergantung pada pola makan yang diterapkan keluarga terutama ibu sebagai pengambil keputusan. Di sinilahpentingnya peran keluarga dalam hal ini orang tua untuk selalu menyediakan asupan gizi yang optimal pada untuk seluruh anggota keluarga,” ujar Fika.
Kurangnya protein hewani meningkatkan resiko terjadi Stunting
Program Coordinator Sekretariat Stunting INEY, Bappenas, Harris Rambey PhD, menyebutkan dalam masa tumbuh kembang anak, protein dibutuhkan untuk membangun kognitif, membangun sel-sel tubuh, pertumbuhan anak baik secara fisik maupun kecerdasannya. “Inilah konsep dasar tentang pentingnya asupan makanan yang mengandung tinggi protein. Dengan catatan ASI sudah eksklusif selama 6 bulan. Lalu dilanjutkan dengan tahap MPASI yang bergizi dan tinggi kandungan protein hewani seperti susu,” kata Harris.
Jika dibandingkan anak yang mengonsumsi susu dan protein hewani dengan anak yang tidak mengonsumsi susu dan protein hewani lainnya, risiko terkena stunting memang cukup besar bagi yang tidak atau kekurangan protein hewani dan susu.
Sesuai rekomendasi WHO maupun IDAI, dr Denta mengingatkan, usia 6 bulan pertama anak harus mendapatkan ASI tanpa makanan tambahan lainnya. Setelah usia 6 bulan, kemudian mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) seperti protein hewani maupun nabati. Namun harus diingat bahwa prinsip pemberian MPASI adalah makanan dengan gizi lengkap dan seimbang. Jadi harus mengandung semua jenis zat gizi dari karbohidrat, lemak dan vitamin serta mineral.
Senada dengan itu, Fika menjelaskan ada sejumlah efek buruk ketika tubuh kekurangan asupan protein hewani, di antaranya tubuh akan kekurangan hormon pertumbuhan, gangguan regenerasi sel, sel tidak tumbuh dengan baik, belum lagi sistem kekebalan tubuh terganggu, jadi sering sakit, massa otot tidak bertambah. Itulah sebabnya susah berkembang atau bertumbuh kalau kekurangan protein hewani. Pada akhirnya berujung stunting dan terburuknya adalahgangguan kognitif. “Protein hewani penting dalam mencegah dan mengatasi stunting, meskipun tidak boleh juga diabaikan semua zat gizi mulai dari karbohidrat, lemak, dan mikronutrien, semua tetap diperlukan,” kata dokter Denta.
Ia menegaskan kembali ASI adalah asupan bayi yang wajib diberikan setelah lahir, setelah MPASI, maka bayi harus diberikan gizi yang lengkap dan seimbang. Mulai MPASI, susu bisa sebagai sumber protein hewani adalah pelengkap dan bisa dikombinasikan dengan makanan lain. Sumber protein hewani lainnya seperti daging, ikan, atau telur.
“Prinsip pemberian MPASI adalah makanan dengan gizi lengkap dan seimbang. Jadi harus mengandung juga karbohidrat, lemak dan vitamin serta mineral. MPASI tidak bisa menu tunggal. Misalnya hanya diberikan sayur atau buah saja. Tetap harus menu lengkap dengan tekstur yang disesuaikan usia anak. Oleh karena itu ada makanan pendamping ASI yang sudah difortifikasi dengan kandungan gizi lebih lengkap,” ungkap dr. Denta.
Solusi jitu cegah stunting dengan susu dan telur
Denta menambahkan bahwa stunting adalah hasil dari asupan gizi yang tidak mencukupi dalam waktu lama atau kondisi status gizi buruk yang dibiarkan dalam waktu lama. "Kalau gizi buruk biasanya berat badannya tidak bertambah, tetapi jika sudah stunting tinggi badannya pun ikut terpengaruh,” ujar Denta
Ia menegaskan dampak yang paling jelas dari stunting ini selain secara fisik anak jadi pendek, kerusakan akibat stunting pun sudah sampai ke otaknya. Jadi sulit dipulihkan lagi. Akan lebih sulit dikejar daripada gangguan pertumbuhan atau gangguan status gizi yang lain.
Jika selama hamil, asupan gizi dari ibu baik, maka bayi tidak mungkin kekurangan gizi. Setelah itu langsung diberikan ASI ekslusif 6 bulan, dilanjutkan MPASI. “Nah, di tahap MPASI ini bisanya terjadi masa kritis, atau risiko kekurangan gizi. Kebutuhan nutrisi di usia 6 bulan selepas ASI ekslusif ini meningkat. Orangtua harus bisa memenuhi kebutuhan gizi karena ada gap yang lebar antara kebutuhan nutrisi dan kebutuhan kalori yang tidak bisa dipenuhi dengan ASI saja. Jika gap ini tidak terpenuhi, maka tentu akan terjadi gangguan pertumbuhan, ganggun status gizi, dan bila dibiarkan saja tanpa intervensi, maka terjadilah stunting,” papar dr. Denta mengingatkan.
Prof Fika menambahkan, susu, telur dan ikan, mengandung protein hewani yang bagus untuk mencegah dan mengatasi stunting. Telur dan ikan bagus tapi kurang praktis dikonsumsi, mesti diolah dulu. "Sementara susu lebih praktis tinggal minum. Satu ekor ikan mengandung 7 gram protein, satu kotak susu mengandung minimal 6 gram protein," katanya.
“Tapi anak-anak seringkali tidak menghabiskan satu ekor ikan jadi asupan proteinnya mungkin saja cuma 1 gram, sementara satu kotak susu kemasan sedang bisa langsung habis sekali minum dapat 4 gram protein. Harganya pun sama dengan jajanan lain, jadi tidak benar kalau dibilang susu itu mahal,” kata Fika.
Baca: Manfaat Makan Telur, Salah Satunya untuk Kesehatan Mata