Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Perjalanan

Protes Pajak Turis Objek Wisata di Wales Tutup saat St. David's Day

St David's Day diperingati setiap 1 Maret, namun wisatawan akan kecewa karena objek wisata di Wales tutup sebagai protes terhadap pajak turis

27 Februari 2025 | 11.03 WIB

Kastil Talacharn (Laugharne Castle) di Wales Barat (visitwales.com)
Perbesar
Kastil Talacharn (Laugharne Castle) di Wales Barat (visitwales.com)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Jelang perayaan St. David Day, tempat-tempat wisata di Wales, Inggris, berencana mengibarkan bendera setengah tiang atau bahkan menutupnya sebagai protes terhadap pajak turis Wales.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

St David's Day diperingati setiap 1 Maret. Ini waktu yang sempurna untuk menghabiskan waktu di Wales. Namun wisatawan lokal atau mancengara akan kecewa karena puluhan tempat wisata memilih tutup sebagai protes terhadap pajak turis yang diusulkan pemerintah.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Protes yang diinisiasi oleh Wels Association of Visitor Attractions atau WAVA, dirancang untuk menyoroti dampak pajak yang diusulkan terhadap masyarakat dan bisnis lokal. Juru bicara WAVA Ashford Price mengatakan sekitar 100 lebih bisnis akan tutup total pada Hari St. David, atau mengibarkan bendera Welsh setengah tiang. 

Pemerintah Welsh telah mengusulkan pajak bagi pengunjung sebesar £1,25 per malam (Rp 25.948), tetapi jika ditambah PPN, maka jumlahnya menjadi £1,50 (Rp 31.138).  WAVA berpendapat hal ini akan menghalangi pengunjung untuk datang ke Wales dan berdampak tidak proporsional pada wisatawan lokal. Meski tidak ada rincian atraksi wisata yang ikut protes, namun WAVA memiliki lebih dari 100 anggota, termasuk objek wisata populer seperti Anglesey Sea Zoo, Zip World, Oakwood Theme Park, dan Royal Mint Experience.

Pajak turis Wales

Pajak turis biasanya bertujuan untuk mengurangi beberapa dampak dari pariwisata yang berlebihan. Namun WAVA mengatakan hal ini tidak relevan bagi Wales, karena kunjungan wisatawan lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. “Wales baru-baru ini kehilangan 23 persen pengunjungnya yang bermalam, dan saya tidak tahu ada objek wisata yang angkanya kembali seperti sebelum COVID," ujar Ashford Price, seperti dilansir dari Euronews.

Menurut statistik Pemerintah Welsh, Wales menerima 892 ribu kunjungan pada tahun 2023, 13 persen lebih sedikit dibandingkan tahun 2019. Pengeluaran wisatawan mencapai £458 juta (Rp 9,5 triliun) pada tahun 2023, turun 11 persen dari tahun 2019. “Wales tetap menjadi satu-satunya negara Inggris yang tidak memulihkan angka pengeluaran dari tahun 2019,” katanya.

Wales akan menjadi negara Inggris pertama yang memberlakukan pajak turis menyeluruh. Tujuannya adalah untuk  mendukung masyarakat yang terkena dampak tingginya jumlah pengunjung dan memastikan pariwisata tetap berkelanjutan. Selain itu, pajak juga akan digunakan untuk mendukung bahasa Welsh.

Saat ini rancangan undang-undang pajak turis dalam tahap konsultasi. Rencananya akan ditetapkan dalam undang-undang paling lambat pada tahun 2027. Peraturan perundang-undangan tersebut juga mencakup persyaratan untuk membuat dan memelihara daftar akomodasi pengunjung di Wales.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus