Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kriminal

Tolak BBM Bersubsidi Naik, Ribuan Pedagang Warteg Ancam Kepung Istana

Harga BBM bersubsidi belum naik saja, pedagang warteg sudah dihadapkan dengan tingginya harga telur, cabai dan minyak goreng.

31 Agustus 2022 | 14.27 WIB

Warga saat makan di sebuah warteg di Jakarta, Selasa 10 Agustus 2021. Antara lain, Hotel dan guest house, restoran, rumah makan, warteg, dan kafe yang diizinkan beroperasi selama PPKM Level 4, salon dan barbershop yang usahanya berada pada lokasi tersendiri, Pelaksanaan akad nikah di hotel dan gedung pertemuan. TEMPO/Subekti.
Perbesar
Warga saat makan di sebuah warteg di Jakarta, Selasa 10 Agustus 2021. Antara lain, Hotel dan guest house, restoran, rumah makan, warteg, dan kafe yang diizinkan beroperasi selama PPKM Level 4, salon dan barbershop yang usahanya berada pada lokasi tersendiri, Pelaksanaan akad nikah di hotel dan gedung pertemuan. TEMPO/Subekti.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

TEMPO.CO, Tangerang - Ribuan pengusaha warteg yang tergabung dalam Himpunan Pedagang Warteg Indonesia (HiPWIn) menyatakan menolak rencana kenaikan BBM bersubsidi. Mereka mengancam akan berdemo ke Istana Merdeka Jakarta jika pemerintah tetap menaikkan harga Pertalite dan Solar.

"Himpunan Pedagang Warteg akan Kepung istana untuk menyampaikan aspirasi penolakan ini," ujar Ketua Umum HiPWIn Rojikin Manggala, Rabu 31 Agustus 2022.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

HiPWIn, yang beranggotakan 20 ribu pedagang warteg, secara tegas menolak  rencana pemerintah menaikan harga BBM jenis pertalite dan solar. Kenaikan harga BBM akan memperburuk pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor.

"Daya beli masyarakat akan berkurang, dan risiko kebutuhan belanja akan membengkak," kata Rojikin. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Pada usaha warung makan seperti warteg, kenaikan BBM bersubsidi akan memberikan efek domino. "Berdampak pada biaya distribusi rantai pasok pasti akan naik, dan secara otomatis harga bahan pokok akan mengikuti, ini yang kami khawatirkan," ujarnya. 

Keterpurukan ekonomi para pedagang karena pandemi yang berlangsung dalam tiga tahun terakhir ini belum pulih 100 persen, ekonomi rakyat masih banyak yang susah. "Dari pedagang warteg,  saat pandemi penurunan omzet sampai 80 persen dan sekarang baru beranjak naik sampai 70 persen," kata pemilik 7 warteg ini. 

Jika harga BBM bersubdisi dinaikan, kata Rojikin, niat pemerintah dalam upaya pemulihan ekonomi nasional hasilnya akan berbalik. "Kami meminta pemerintah mengkaji lagi  rencana kenaikan harga BBM jenis pertalit dan solar." 

Harga BBM belum naik saja, pedagang warteg sudah dihadapkan dengan tingginya harga kebutuhan pokok seperti telur, cabe, minyak goreng. "Saat ini daya beli masyarakat mulai naik kembali sejak pandemi. Tetapi  sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan stabilitas harga bahan pokok," ujar dia. 

Untuk itu HipWin mendesak pemerintah untuk menstabilkan harga kebutuhan pokok tersebut. Pemerintah bisa menghubungkan atau memfasilitasi petani langsung dengan pedagang. "Ini untuk memutus rantai distribusi pasokan bahan baku. Karena semakin panjang rantai distribusi harga semakin tinggi," kata Rojikin. 

Saat ini, kata dia, pedagang warteg masih berada di posisi paling belakang dalam rantai distribusi. Rantai distribusi yang panjang meliputi petani ke pengepul, pasar induk, pasar tradisional dan baru ke pedagang makanan. "Kami pun saat ini melakukan upaya bekerja sama dengan petani langsung atau produsen utama," kata Rojikin. 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus