Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pendapat

Berita Tempo Plus

Neo-nazi dan penyakit peradaban

Aksi kekerasan terhadap orang asing oleh golongan neo-nazi di jerman merupakan penyakit peradaban yang harus dihadapi di seluruh dunia. timbul karena manusia modern kehilangan nilai dan norma kehidupan.

30 Januari 1993 | 00.00 WIB

Neo-nazi dan penyakit peradaban
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

PADA bulan November yang lalu harian Generalanzeiger yang terbit di Bonn memuat tulisan berikut. Seorang pemuda Jerman, berumur kira-kira 25 tahun, memohon di hadapan pegawai kantor imigrasi Kota Bonn, supaya dia ''dibebaskan'' dari kewarganegaraannya. Alasannya, ia segan disebut orang Jerman setelah rangkaian aksi kekerasan anti-orang asing yang terjadi di Jerman belakangan ini. Permohonan pemuda itu ternyata tak dapat dikabulkan. Hukum Jerman tidak mengizinkan seorang Jerman melepaskan kewarganegaraannya bila tidak langsung menjadi warga negara di negara lain. Tapi dalam kasus ini bukan masalah hukum yang menarik perhatian, melainkan motif si pemuda. Dan motifnya berupa perasaan, yaitu perasaan ''malu''. Malu karena sesama warga negara Jerman, golongan neo-Nazi, banyak melakukan aksi kekerasan, seperti pembakaran rumah, penganiayaan, bahkan pembunuhan (20 kali di tahun 1992) terhadap orang asing yang menjadi tamu bangsa Jerman. Pertama-tama saya kaget (''Kok, begitu cepat mau melepaskan identitas nasionalnya.''), dan tidak yakin bahwa permohonan itu pantas. Tapi, setelah merenungkannya, saya dapat menilainya sebagai aksi yang sangat berarti, bahkan terhormat, untuk mengekspresikan rasa jijik terhadap perbuatan golongan neo-Nazi. Saya tidak mungkin melakukan hal yang sama, karena terlalu cinta tanah air dan juga negara saya. Tapi saya terharu, dan sebagai orang Jerman merasa bangga, ada orang Jerman seperti pemuda itu. Dan lebih bangga lagi bahwa semangat yang sama terlihat juga dalam ribuan aksi lain yang terjadi di Jerman akhir-akhir ini. Sebelumnya saya agak pesimistis dan bahkan takut menyaksikan aksi kekerasan neo-Nazi yang merajalela. Apalagi istri saya sendiri orang asing (dari Indonesia), dan anak-anak saya, biarpun fasih berbahasa Jerman, pun kelihatan sangat asing. Saya waktu itu bahkan menulis surat kepada teman-teman di Indonesia, bahwa kami mulai memikirkan kemungkinan untuk pindah ke Indonesia. Sejarah lama tak mungkin terulang! Hanya saja, akibat payah bulan-bulan yang hitam itu nama baik bangsa dan negara Jerman tercemar. Kini orang Jerman di luar negeri, terutama di Eropa, mulai dicaci maki atau dituduh Nazi. Itu sebenarnya sangat tidak adil, kalau kita ingat bahwa hanya minoritas kecil yang mendukung, apalagi menjadi anggota neo-Nazi. * * * Dalam majalah Spiegel (edisi 48/1992) termuat wawancara dengan Presiden Ceko-Slowakia Vaclav Havel. Ditanya apakah dia tidak khawatir tentang perkembangan golongan ekstrem kanan (neo-Nazi) di Jerman, jawab Havel yang budayawan itu: ''Gejala seperti itu bukannya tampak di Jerman saja. Itu sebenarnya penyakit peradaban yang harus kita hadapi di seluruh dunia. Itu bukan khas Jerman. Ekses rasa benci (penggunaan kekerasan) terhadap orang asing terdapat juga di negara saya.'' Jawaban Havel mungkin dapat melegakan hati orang Jerman, meskipun rasa lega itu tidak pada tempatnya. Yang menarik adalah istilah ''penyakit peradaban''. Bagi saya istilah itu sangat tepat untuk menggambarkan yang kini sedang terjadi di banyak negara Eropa: banjir kekerasan yang tidak hanya berhubungan dengan renaisans nasionalisme, rasisme, dan sukuisme saja. Konon, pada tahun 1992 lebih dari 20 orang gelandangan dibunuh di Jerman. Motifnya mirip motif pembunuhan terhadap orang asing yang meminta suaka di Jerman: mau membersihkan Jerman dari mereka yang dianggap sebagai benalu. Penggunaan kekerasan dengan motif lain juga makin sering terjadi: terhadap orang homoseks, orang cacat, dan minoritas yang lain. Bahkan penggunaan kekerasan yang tak jelas motifnya bertambah terus. Juga terhadap benda, kotak telepon misalnya. Kekerasan antaranak sekolah pun bertambah terus. Banyak murid sekarang membawa senjata ke sekolah. Sebenarnya tak mengherankan sama sekali. Bukankah mereka mengikuti saja contoh yang diberikan oleh film-film yang disiarkan oleh TV atau yang dapat diputar di video? Seorang sosiolog menulis, bahwa remaja masa kini merupakan ''bom waktu'' yang kelak akan membahayakan keamanan negara. Jadi, variasi-variasi kekerasan sudah mulai dianggap ancaman yang serius, dan rasanya ''kekerasan'' memang pantas dipakai sebagai kata kunci untuk menggambarkan gejala penyakit peradaban. * * * Ternyata kehidupan dalam masyarakat modern, masyarakat industri, tidaklah gampang, biarpun kebutuhan materiil sudah dipenuhi. Soalnya, kebutuhan jiwa ternyata diabaikan. Nilai-nilai lama telah runtuh. Norma-norma lama mulai tidak berlaku. Tak ada lagi pegangan dan anutan. Kepercayaan terhadap Tuhan, pentingnya peran keluarga, dan seterusnya, semua itu mulai digeser oleh materialisme, konsumerisme, dan individualisme alias egoisme. Manusia modern menghadapi kekosongan nilai. Kebebasan mutlak yang diraihnya ternyata terlalu berat untuk dipikul. Manusia modern adalah manusia yang bingung. Kebingungan itu menjadi frustrasi dan agresivitas, yang pada orang tertentu ternyata telah menjelma menjadi kekerasan. Dan golongan ekstrem kanan seperti neo-Nazi Jerman itu sebenarnya hanya satu dari sekian banyak contoh. *)Ketua South-East Asia Section di Seminar fur Orientalische Sprachen (SOS) Universitas Bonn Jerman editor Orientierungen - Zeitschrift zur Kultur Asiens (majalah mengenai kebudayaan Asia).

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus