Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Gempa M6,1 yang terjadi pada Rabu pagi lalu, 26 Februari 2025, merusak sebanyak 11 unit rumah dan satu tempat ibadah di Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara. Guncangan gempa yang diukur BMKG berada pada skala intensitas hingga IV MMI itu dikabarkan bisa dirasakan selama 2-3 detik dan sudah cukup untuk membuat kerusakan tersebut.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Laporan BNPB menyebutkan total 35 jiwa terdampak oleh guncangan gempa yang tepatnya terjadi pada pukul 05.55 WIB atau 06.55 waktu setempat itu. Data dampak dihimpun hingga Rabu petangnya. Saat yang sama, Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Bolaang Mongondow Timur bersama tim gabungan terus melakukan pendataan dan pemantauan di lokasi kejadian serta pembersihan material rumah rusak.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Kepada semua unsur pemerintah daerah dan warga Kabupaten Bolaang Mongondow Timur untuk selalu waspada terhadap potensi gempa susulan yang sewaktu-waktu dapat terjadi," bunyi imbauan yang dikeluarkan BNPB dalam keterangan tertulis yang dibuat Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Abdul Muhari, pada Rabu malam.
Peta pusat gempa di Bolaang Mongondow Timur. Dok. BMKG
Sementara itu, gempa susulan dicatat BMKG masih terjadi dan dirasakan di Bolaang Mongondow Timur pada hari ini, Kamis 27 Februari 2025. Gempa susulan yang terkini terjadi pada Kamis pagi, pukul 08.08 WIB. Gempa itu berkekuatan M4,7 dan dapat dirasakan pada skala II-III MMI di Kotamobagu dan II MMI di Minahasa Tenggara.
Gempa itu, menurut BMKG, adalah gempa susulan ke-11 yang guncangannya bisa dirasakan. Episentrumnya berada di laut, 47 kilometer sebelah tenggara Tutuyan, Boltim, atau selisih dua kilometer dari pusat gempa utama pada Rabu pagi lalu. Kedalamannya sama, 10 kilometer.