Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Lingkungan

Berita Tempo Plus

Hitam keruh di sungai sagu

Sungai sagu, riau tercemar. penduduk yang meminumnya gatal-gatal dan sakit perut. pt caltex dan penduduk saling menyalahkan.

30 Januari 1993 | 00.00 WIB

Hitam keruh di sungai sagu
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

PENDUDUK Kampung Sei Limau tiap kali menghadapi krisis air. Bila musim kemarau tiba, air di kawasan itu berubah asin, dan warga setempat -- sekitar 500 orang -- terpaksa mencari air tawar ke Sungai Sagu. Belakangan, air Sungai Sagu pun tak bisa diandalkan. Sungai yang panjangnya 4 kilometer itu digenangi limbah minyak mentah, yang oleh warga setempat dikenal sebagai minyak onggak. Gara-gara tercampur onggak, air sungai yang semula berwarna cokelat kemerahan berubah menjadi hitam keruh. ''Dulu, kami bisa menangkap 10 kilogram ikan setiap hari. Sekarang, seekor pun tidak,'' kata Edi Akhmad, warga Sei Limau. Kuat dugaan, minyak itu terbawa dari rawa di hulu Sungai Sagu. Dan sejak sepuluh tahun silam, PT Caltex Pasifik Indonesia (CPI) membuang limbahnya ke rawa-rawa itu. Caltex juga membangun kanal sepanjang 2 kilometer, yang menghubungkan stasiun pengumpul minyak -- namanya Pusaka -- dengan rawa. Inilah, konon, asal-muasal pencemaran Sungai Sagu. Merasa dirugikan, tahun 1990 penduduk Sei Limau mengajukan protes lisan pada Caltex. Karena tidak ditanggapi, mereka meluncurkan protes tertulis -- tahun 1991. Tembusannya dikirim ke Pemda Riau dan Himpunan Pelestari Alam dan Lingkungan Hidup (Hipalhi) Riau. Itu pun tak digubris. Pada akhir Desember tahun lalu, Hipalhi berunding dengan warga Sei Limau, lalu bertindak sebagai perantara. ''Sudah tiga kali kami menelepon Caltex, tapi mereka acuh tak acuh. Terpaksa kami membeberkannya ke media massa,'' ujar Andreas Kahuripan, direktur eksekutif Hipalhi Riau. Dalam reaksinya, pihak Caltex berusaha membuktikan bahwa mereka tak bersalah. Kamis minggu lalu, utusan Caltex menemui Menteri Negara KLH Emil Salim, yang juga kepala Badan Pengendali Dampak Lingkungan (Bapedal) Pusat. Kepada Emil, utusan itu menyerahkan laporan hasil pengecekan di lapangan. Lebih dari biasa, kali ini Emil tampak berhati-hati sekali. ''Dengarkan faktanya dari Caltex sendiri,'' ujar Emil seraya mempersilakan sang wakil Caltex bercerita kepada TEMPO dan wartawan dari dua media cetak lainnya. Soemarman, koordinator environmental affair dari Caltex itu, menyatakan bahwa selama ini Caltex selalu memperhatikan lingkungan. Pertengahan 1991 Caltex mengetes kondisi air pada saluran pembuangan limbah di beberapa tempat. ''Secara kimiawi air limbah tidak mengubah kualitas air sungai,'' kata Soemarman. Ditambahkannya, hasil tes Agustus 1992 menunjukkan, kadar minyak dalam limbah 0,1 ppm dan suhu air 41 derajat Celsius. Sedangkan ambang batas untuk kandungan minyak di air adalah 25 ppm dan suhunya 45 derajat Celsius. Benarkah hasil tes Caltex itu? Menurut Wakil Kepala Bapedal, Nabiel Makarim, suhu air sebenarnya sudah melampaui ambang batas. ''Kalau tak percaya, nyemplung saja ke situ,'' ujarnya menantang. Sementara itu, Soemarman menambahkan, atas permintaan penduduk, pada tahun 1992 Caltex memperpanjang kanal pembuangan limbah -- lengkap dengan tanggul penahan luberan -- sampai 7 kilometer, terentang melintasi rawa dan langsung menyetor limbah ke Sungai Siak. Soemarman menyebutkan pula, setiap tiga bulan Caltex memeriksa air pembuangan limbah. Hasilnya dilaporkan ke Migas Jakarta serta diperkuat dengan analisa contoh air dari lembaga penelitian independen PT Corelab, juga di Jakarta. ''Kalau dilihat kandungan minyaknya, limbah kami amat kecil kemungkinannya untuk mencemari,'' kata Soemarman, sambil berkisah tentang instalasi pengolah limbah Caltex -- namanya Pusaka -- yang sanggup menurunkan kandungan minyak hingga jauh di bawah ambang batas. Namun, menurut Kepala Desa Sei Limau, M. Syarif, rawa dan Sungai Sagu tetap tercemar. ''Kalau airnya diminum, perut jadi sakit. Ikan pun tak kunjung muncul,'' tuturnya mengeluh. Beberapa orang terserang muntah berak dan gatal-gatal. Kebun karet sekitar rawa pun tampaknya terancam punah. Di sini terkesan bahwa kandungan minyak yang cuma 0,1 ppm itu tidak klop dengan kenyataan di lapangan. Kalau memang klop, mengapa Sungai Sagu tetap berminyak? ''Ini mungkin rembesan badan jalan milik Caltex yang menggunakan onggak atau minyak mentah,'' begitu dugaan Dr. Adnan Kasry, ahli lingkungan dan staf Bapedal Riau. Seperti diketahui, badan jalan yang menghubungkan sumur-sumur minyak Caltex dengan stasiun minyak Pusaka terbuat dari campuran tanah dan minyak mentah. ''Bila banjir datang, kotoran ini merembes ke kanal pembuangan limbah dan sebagian meluncur ke rawa,'' kata Adnan. Caltex mungkin sudah melakukan banyak hal, tapi tak terasa manfaatnya bagi penduduk. Keluhan mereka meletup lagi November lalu. Menteri Emil Salim lantas memerintahkan agar Biro KLH Provinsi Riau meninjau ke lapangan. Minggu kedua Januari lalu, Kepala Biro KLH Riau, Said Abdulrahman, memimpin tim peninjau yang diperkuat oleh staf Kanwil Pertambangan, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Dinas Perikanan, camat Sungai Apit, dan lurah Sei Limau. Sampel air diciduk, lantas dites. Hanya, sampai tulisan ini diturunkan, hasilnya belum diketahui. Bahwa air menjadi hitam, menurut Soemarman, itu tak lain karena erosi kanal dan gambut rawa. ''Perlu Anda ketahui, kanal selebar 4 meter itu dipakai oleh perusahaan kayu milik penduduk untuk menggelontorkan kayu gelondongan. Akibatnya, tebing kanal rusak dan melebar hingga menjadi 6 meter,'' tokoh Caltex ini bicara agak sinis. Tapi keterangan Soemarman tidak dengan sendirinya bisa memastikan bahwa Caltex bebas dari tuduhan pencemaran. Mengapa? Katakanlah erosi dan gambut bisa membuat air yang cokelat menjadi hitam, tapi unsur minyak dari mana datangnya? Lalu Nabiel Makarim mengatakan bahwa sinyalemen Soemarman itu masih diselidiki kebenarannya. Kini, tiap kali minum air Sungai Sagu, penduduk pasti sakit perut. ''Air sungai itu memang tidak layak minum. PH-nya rendah, ikan pun sulit hidup di sana,'' ujar Soemarman lebih lanjut. Bagaimanapun, pihak Caltex menegaskan bahwa bukan limbah minyaklah yang menyebabkan Sungai Sagu mengandung bibit penyakit. Tuduhan bahwa badan jalan yang terbuat dari campuran tanah dan minyak mentah tersebut juga dianggap tidak beralasan. ''Kami memang membangun 3.000 kilometer jalan operasional yang menghuL bungkan sumur minyak dengan stasiun pengumpul. Namun, seperti halnya aspal, minyak di jalan itu tidak akan luntur terkena banjir. Sebab, tanah dan minyak telah menyatu sedemikian rupa,'' begitu alasan Victor P. Siburian, asisten presiden Caltex. Victor menduga, di balik protes warga, ada apa-apanya. Menurut petinggi Caltex ini, penduduk ingin agar jalan-jalan di tepi kanal yang melewati rawa diperkeras, su paya bisa dilalui kendaraan bermotor beroda empat. Dan itu sulit dipenuhi, karena biayanya tinggi -- per meter bisa mencapai puluhan dolar. ''Tapi kami berniat membantu penduduk untuk membuat sumber air bersih. Mungkin dengan membuat sumur pompa,'' ucap Victor, seperti menawarkan sebuah jalan keluar dari krisis air minum yang membebani penduduk. Kini warga Sei Limau cuma bisa menunggu bukti, siapa pelaku pencemaran Sungai Sagu. Lalu, adakah peluang untuk menemukan sumber air tawar? Priyono B. Sumbogo dan Irwan E. Siregar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus