Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Kilas Balik Berdirinya UGM: Peran Sultan Hamengkubuwono IX, Siapa rektor UGM Pertama?

Tepat hari ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) berusia 73 tahun. Begini sejarah awalnya dan peran Sultan Hamengkubuwono IX. Apa fakultas pertama?

19 Desember 2022 | 09.33 WIB

Sultan Hamengkubuwono IX setelah dinobatkan, 18 Maret 1940. Dok. Perpustakaan Nasional/ Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Perbesar
Sultan Hamengkubuwono IX setelah dinobatkan, 18 Maret 1940. Dok. Perpustakaan Nasional/ Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Universitas Gadjah Mada atau disingkat dengan UGM merupakan penggabungan dan pendirian kembali dari berbagai balai pendidikan, sekolah tinggi, perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, Klaten, dan Surakarta.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Nama Gadjah Mada berawal dari dibentuknya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang terdiri dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan. Lalu, pada 3 Maret 1946, pendirian universitas ini baru diumumkan di Gedung KNI Malioboro, di antaranya oleh Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo, Ir. Marsito, Dr. Soleiman, dan Dr. Soeharto.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Mengutip Khazanah Buletin Kearsipan, pada Januari 1946, Soekarno dan Hatta memindahkan ibu kota Republik Indonesia (RI) ke Yogyakarta lantaran memanasnya pertempuran pejuang kemerdekaan dan Sekutu serta NICA di Jakarta dan Bandung. Akibatnya, Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung pindah ke Yogyakarta dan dihidupkan kembali di sana.

Lembaga pendidikan lain yang berdiri pada waktu bersamaan juga berada di Klaten, yaitu Perguruan Tinggi Kedokteran, Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan, Sekolah Tinggi Farmasi, Perguruan Tinggi Pertanian, dan Institut Pasteur Bandung. Kehidupan pendidikan tinggi di Klaten pun semakin ramai ditambah berdirinya Fakultas Kedokteran Gigi dan Sekolah Tinggi Hukum Negeri.

Baca: UGM Borong 13 Penghargaan di Anugerah Diktiristek Kemendikbud 2022

Peran Sultan Hamengkubuwono IX

Namun, serangan Belanda ke ibu kota RI di Yogyakarta dalam Agresi Militer Belanda II melumpuhkan semua kegiatan belajar mengajar di Yogyakarta, Klaten, dan Surakarta sehingga semua perguruan tinggi terpaksa ditutup. Kemudian, pada 20 Mei 1949, diadakan rapat Panitia Perguruan Tinggi di Pendopo Kepatihan Yogyakarta yang dipimpin Prof. Dr. Soetopo, dengan anggota rapat antara lain, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Prof. Dr. M. Sardjito, dan Slamet Soetikno, S.H. Salah satu hasil rapat adalah pendirian perguruan kembali di wilayah republik yang masih tersisa, Yogyakarta.

Meskipun hasil ini telah disepakati, tetapi terdapat kesulitan utama, yaitu tidak adanya ruangan untuk kuliah. Namun, Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersedia meminjamkan ruangan keraton dan beberapa gedung di sekitarnya.

Pada November 1949, di Kompleks Perguruan Tinggi Kadipaten, Yogyakarta berdiri kembali Fakultas Kedokteran Gigi dan Farmasi, Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknik, Akademi Ilmu Politik, serta Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan diresmikan. Selain itu, dibuka pula Fakultas Hukum di Yogyakarta dengan pimpinan Prof. Drs. Notonagoro, S.H.

Melansir ugm.ac.id, akhirnya pada 19 Desember 1949, lahirlah Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan enam fakultas berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, yaitu: 

1. Fakultas Teknik (Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti),

2. Fakultas Kedokteran (Farmasi, Kedokteran Gigi, dan Akademi Pendidikan Guru bagian Kimia dan Ilmu Hayat),

3. Fakultas Pertanian (Akademi Pertanian dan Kehutanan),

4. Fakultas Kedokteran Hewan,

5. Fakultas Hukum, (Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik, serta Akademi Pendidikan Guru Bagian Tata Negara, Ekonomi, dan Sosiologi),

6. Fakultas Sastra dan Filsafat (Akademi Pendidikan Guru Sastra).

Prof. Dr. M. Sardjito pun ditetapkan sebagai Rektor UGM yang pertama. Lalu, Dewan Kurator UGM juga dibentuk yang terdiri dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Ketua Kehormatan), Sri Paku Alam VIII (Ketua), wakil ketua, dan anggota.

Nama Gadjah Mada memiliki makna tersendiri, yaitu mengandung semangat dan teladan Mahapatih Gadjah Mada lantaran berhasil mempersatukan nusantara. Teladan ini diterjemahkan ke dalam rumusan jati diri UGM sebagai universitas nasional, universitas perjuangan, universitas Pancasila, universitas kerakyatan, dan universitas pusat kebudayaan.

Barulah pada 1951, pembangunan fisik kampus Bulaksumur, Yogyakarta dimulai dan memasuki dekade 1960-an, UGM sudah memiliki berbagai fasilitas untuk mendukung proses pembelajaran. Kini, UGM memiliki 18 fakultas, satu Sekolah Pascasarjana, dan satu Sekolah Vokasi dengan puluhan program studi.

RACHEL FARAHDIBAR 

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram http://tempo.co/. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus