SUATU saat kelak segala jenis koran, tabloid, atau majalah berwujud kertas bakal tersingkir dari muka bumi. Media cetak tamat riwayatnya karena dinilai ketinggalan kereta. Fenomena inilah yang dinujumkan pakar media dari Colombia AS, Roger Fidler. ''Media cetak akan digilas arus revolusi infomasi yang kini mulai bergulir,'' ujar direktur Lab Disain dari grup media yang berpengaruh di Amerika, Knight Ridder Information. Koran dan majalah yang muncul nanti serba elektronik. Majalah dapat dikemas seperti dua papan yang ditangkupkan, dilipat. Bentuknya mirip komputer laptop, tapi punya dua layar monitor di kedua mukanya, selebar halaman majalah. Di situlah berita majalah, iklan, dan foto disajikan. Untuk edisi berikutnya, pelanggan tinggal memasang disket baru, dan kantor redaksi majalah akan mengirim lengkap informasi mutakhirnya lewat jaringan. Lebih cepat, efisien. Majalah atau koran itu tak terlalu berat, bahkan mungkin bobotnya kurang dari satu ons. Dengan begitu majalah elektronik itu dapat ditenteng ke mana-mana, dibaca di dalam mobil, pesawat, atau sembari tiduran di sofa. Informasi yang muncul di layar, baik tulisan, gambar, foto, dan iklan tentu tak mengabaikan soal keserasian tata letak, tipologi huruf, atau komposisi warna. ''Itu soal estetika, akan selalu diperlukan oleh media apa pun,'' kata Fidler, seperti yang dimuat dalam journal IFRA Newspaper Techniques yang beredar awal tahun ini. Pada skala terbatas bisnis informasi (berita dan foto) lewat kabel telepon itu memang telah berlangsung. Kantor berita Reuter atau AFP, misalnya, telah melakukannya. Segala informasi yang dikirim lewat kabel itu bisa langsung tersaji di layar komputer. Lepas dari soal harga langganannya, komoditas jasa semacam itu cuma diminati perusahaan pers. Masyarakat luas tak tertarik. Penjualan informasi dari komputer ke komputer itu, menurut Fidler, memang punya banyak kelemahan. ''Huruf-hurufnya monoton,'' ujarnya. Pembaca cepat bosan menatap layar monitor yang berisi deretan huruf, apalagi seperti yang sekarang, tanpa diselingi gambar, foto, grafik, dan tata letak yang apik. Teknologinya belum memungkinkan. Ketimbang membaca artikel di depan layar monitor dengan kondisi seperti itu, kata Fidler, orang lebih memilih bacaan yang tercetak di atas kertas. ''Apalagi untuk bacaan ringan dan hiburan,'' kata Fidler. Tapi seperti terbukti dalam bisnis berita Reuter dan AFP itu, media elektronik ini punya keunggulkan. Berita-beritanya bisa mengalir tanpa harus terikat pada status harian, mingguan, atau bulanan. Penggalan bisa mendapatkan kesempatan memperoleh pilihan berita yang amat bervariasi. Mereka tinggal memilih menu yang dibutuhkan. Lebih dari itu, media elektronik ini menghemat kertas. Hutan tak perlu ditebang untuk dijadikan bahan bubuk kertas. Kekuatan media cetak dan keunggulan media elektronik akan bergabung dalam bisnis media di masa depan. Fidler tidak mengada-ada. Gejala ke arah sana memang sudah tampak. Teknologi telah memungkinkan pengiriman berjuta-juta bit informasi secara cepat lewat serat optik atau gelombang radio. Mikro-chip sudah diproduksi semakin mungil, tapi punya kemampuan mengolah informasi yang berlipat ganda. Pada sisi lain, layar elektronik pipih yang bisa menampilkan citra dengan resolusi tinggi kini bukanlah mimpi. Pengembangan teknologi LCD (liquid crystal display), yang selama ini dimanfaatkan untuk komputer berlayar pipih seperti pada Laptop dan tabung katode di layar tivi, telah melangkah maju. Gabungan teknologi itu yang akan dipakai pada TV pipih yang kini sedang digarap. ''Sebelum akhir abad ini kita bisa menonton TV yang digantung di dinding,'' Fidler menujumkan kelahiran tivi pipih itu. Sebagai raksasa media, yang antara lain menerbitkan harian The New York Current, Knight Ridder terlibat pula dengan eksperimen koran elektronik itu. Yang dihasilkan kini adalah sebuah koran elektronik, lebar dua halaman tabloid, tebalnya sekitar 20 cm. Halaman tabloid ini bisa menyajikan halaman-halaman koran secara bergantian, dengan kapasitas lebih dari 40 halaman. Foto-foto yang muncul di situ tak kalah dengan kualitas gambar di layar televisi. Tapi untuk mencapai bentuk yang diharapkan -- tipis dan ringan -- masih perlu waktu. Sebab untuk membuat koran elektronik itu lebih tipis 1 cm saja diperlukan biaya riset yang besar. ''Tunggu saja. Jangan khawa-tir, teknologi mutakhir ini selalu menjanjikan kejutan,'' ujarnya. Dengan lahirnya koran, majalah, atau tabloid di atas kertas elektronik itu perusahaan-perusahaan pers akan berubah menjadi bank data. Mereka akan mengolah informasi, foto, gambar, iklan dalam komputer, lalu mengirimnya dalam bentuk data elektronik ke pelanggan lewat jaringan kabel atau gelombang radio. Tak ada lagi penjaja koran. Kehadiran teknologi canggih untuk bidang kewartawanan itu, kata Fidler, tak menjamin terbebasnya dunia pers dari penyensoran atau tuntutan pengadilan. Kertas elektronik dan kabel serat optik tak menjamin pemberitaan akan lebih akurat dan bebas dari sikap tendensius. Teknologi itu pun tak membuat para pemegang kekuasaan kehilangan jalan untuk melakukan penyensoran. ''Sensor hanya bisa berkurang bila masyarakat tumbuh menjadi semakin dewasa,'' tutur Fidler. Putut Trihusodo
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini