DUA minggu sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir, Audrey Hepburn minta diantar melihat kebun mawarnya. ''Saya ingin menghirup udara musim dingin dan biarkan angin membelai pipiku.'' Ia kemudian digendong Robert Wolders, kekasihnya, turun ke tingkat bawah. Dipapah oleh dua perawat, dia memandang kebun bunga yang beku oleh salju. ''Jangan telantarkan bunga-bunga ini kalau saya sudah pergi,'' pesannya. Pekan lalu pejabat PBB di Jenewa mengumumkan bahwa aktris dan duta keliling UNICEF untuk anak-anak itu meninggal di rumahnya di Tolochenaz, Swiss, karena terserang kanker usus besar. Miss Hepburn, dengan nama asli Ed van Heemstra Hepburn Ruston, lahir dari ibu seorang baroness Belanda dan ayah seorang bankir Inggris, di kota kecil dekat Brussels, 63 tahun lalu. Ketika usianya sekitar 12 tahun, dan sedang liburan di Belanda, negara kincir angin ini diduduki Nazi. Petaka itu menimpa keluarganya. Di depan matanya ia menyaksikan abangnya diseret tentara Nazi masuk kamp kerja paksa. Paman dan keponakannya dihukum mati. Ia bersama ibunya berusaha meloloskan diri. Usai perang ia jadi model foto dan belajar balet di London, lalu masuk sekolah akting. Ketika shooting Monte Carlo Baby di Riviera, Collete, pengarang sandiwara Gigi memintanya main di Broadway, New York. Usianya kala itu 22 tahun. Gigi sukses dan kariernya menuju Hollywood terbuka lebar. Tahun 1953 ia dipercayai memegang peran wanita utama dalam Roman Holiday. Oscar pun diraihnya. Semua yang hadir terpesona oleh kecantikannya. Ia mengenakan busana berhias mutiara karya Givenchy ketika menerima Oscar. Waktu itu usianya baru 25 tahun. Tentang perannya dalam Roman Holiday, Time menulis, ''Ia bisa menyatukan peran seorang aristokrat dan gadis berakal nakal.'' Dari 26 film yang pernah diperaninya beberapa pernah diputar di sini: Roman Holiday (1953), Sabrina (1954), War and Peace (1957), Funny Face (1957), The Nun's Story (1959), dan Charade (1963). Ketika Roman Holiday diputar di Indonesia, tahun 1955, penontonnya membeludak. Ceritanya ialah kisah asmara antara putri raja, yang melarikan diri dan kesasar di Roma, bertemu dengan wartawan foto Amerika. Dalam film itu rambut Audrey dipotong pendek gaya pony. Mode rambut pendek ini segera melanda remaja putri. Termasuk skuter yang dikendarai wartawan foto, yang diperankan Gregory Peck, menjadi kendaraan populer. Di tahun yang sama pula ia mendapat hadiah Tony untuk perannya dalam sandiwara Ondine, lantas menikah dengan Mel Ferrer yang jadi aktor pembantu dalam sandiwara tersebut. Kecantikannya membangkitkan rasa kagum dan hormat. William Wyler, sutradara Love in the Afternoon (1957), berkomentar, ''Tebarkan pandanganmu sekeliling. Tiba-tiba pandangan kita akan terpaku oleh makhluk yang mempesona ini, bagaikan anak kijang lincah yang keluar dari hutan. Dalam waktu lima menit semua orang pasti jatuh cinta padanya.'' Tinggi tubuhnya 157 cm, berat badannya sekitar 54 kg. Lehernya yang jenjang menyangga raut mukanya yang bertulang pipi indah. Matanya yang besar hitam dan tubuhnya yang langsing sungguh mempesona. ''Saya bukan lahir sebagai aktris,'' katanya merendah. ''Tetapi saya hanya memperhatikan bagaimana mengekspresikan perasaan.'' Apa rahasia suksesnya sampai menggondol Oscar lima kali? ''Ah, saya tak pernah merasa lebih hebat dari Greta Garbo,'' ujarnya. ''Setiap kali menerima skrip baru saya harus belajar akting sebagai pemula,'' tambahnya. Sederetan aktor terkenal pernah main bersamanya: William Holden dan Humprey Bogart dalam Sabrina, Fred Astaire dalam Funny Face, Sean Connery dalam Robin and Marian (1976). Tahun 1967 Audrey lebih banyak tinggal di Swiss. Pondoknya yang punya 8 kamar merupakan rumah petani Swiss abad ke-18, dan menghadap danau Jenewa. ''Rasanya nyaman sekali hidup dalam ketenangan,'' katanya. Dua kali ia menikah, dua kali pula gagal. Pertama dengan Mel Ferrer, lalu dengan psikiater Andrea Dotti. Dari keduanya lahir dua anak laki-laki yang kini berangkat dewasa: Sean dan Luca. Tahun-tahun terakhir hayatnya ia hidup bersama dengan Robert Wolsders, bekas aktor yang jadi bisnismen dan duda almarhumah aktris Merle Oberon. Mengapa ia mengundurkan diri dari film? Dalam wawancara televisi tahun lalu, ia berkata, ''Menjadi terkenal merupakan kesempatan yang mengagumkan. Tapi saya lantas berpikir, mengapa tidak mengubah nama yang terkenal itu menjadi nama yang berguna?'' Trauma masa kecilnya dalam peperangan rupanya sangat membekas di hatinya. ''Pengalaman masa kecil saya mendorong untuk lebih mengabdikan diri kepada korban perang, kekejaman, dan membantu yang lapar.'' Empat tahun terakhir ia jadi duta keliling untuk proyek UNICEF di Afrika dan Amerika Latin, khususnya untuk menyantuni anak-anak. Ia juga berkampanye di beberapa negara kaya. ''Hati saya hancur melihat bayi-bayi menderita AIDS,'' katanya. Meski sakit, ia mengunjungi Somalia. ''Saya tak percaya, penderitaan Somalia karena kesalahan kita bersama. Tapi saya percaya akan tanggung jawab bersama. Somalia adalah tanggung jawab kita bersama.'' Tahun 1992 pemerintah AS menganugerahkan Presidential Medal of Freedom, medali tertinggi untuk orang sipil. Tetapi ia tak bisa hadir karena kesehatannya. Konon Oscar kehormatan untuknya akan diserahkan nanti pada pembagian Oscar 1993 ini. ''Semangat hidupnya untuk menolong orang lain itulah yang mengagumkan,'' kata Steven Spielberg. Toeti Kakiailatu
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini