Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Wawancara

Berita Tempo Plus

Kepala Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional, Hasto Wardoyo: Agar Keluarga Berencana Ngetren Lagi

Belum genap dua pekan dilantik menjadi Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo langsung punya kesibukan yang menumpuk.

13 Juli 2019 | 00.00 WIB

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo. TEMPO/M Taufan Rengganis
Perbesar
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo. TEMPO/M Taufan Rengganis

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Belum genap dua pekan dilantik menjadi Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo langsung punya kesibukan yang menumpuk. Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek memberikan dua tugas besar kepada mantan Bupati Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini. Pertama, mengatasi masalah laju pertumbuhan penduduk yang masih tinggi. Kedua, menata anggaran BKKBN yang dinilai belum efektif.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sejatinya Hasto masih menjabat Bupati Kulon Progo hingga 2022. Tapi Presiden Joko Widodo memilih dokter spesialis kebidanan dan kandungan itu mengepalai BKKBN karena ia dinilai sukses menjalankan program Keluarga Berencana (KB) yang membawanya dianugerahi sejumlah penghargaan tingkat nasional. Penghargaan terbaru diberikan pada awal pekan ini oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia atas keberhasilan pemerintah Kulon Progo menekan tingkat kematian ibu melahirkan pada 2018.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dalam masalah keluarga berencana di tingkat nasional, Hasto mengakui tantangan terbesarnya adalah mengatasi pertumbuhan penduduk sembari menjaga struktur demografi, agar populasi penduduk usia produktif tetap lebih besar ketimbang populasi usia non-produktif. "Belum ada resep mujarabnya," ujar Hasto saat diwawancarai Praga Utama dari Tempo, Rabu lalu di kantornya.

Bagaimana proses pemilihan Anda menjadi kepala BKKBN?

Sebetulnya saya sudah mendengar isunya sejak Januari. Ada yang memberi tahu bahwa nama saya diusulkan ke Sekretariat Presiden untuk menempati posisi Kepala BKKBN karena jabatan ini kan kosong agak lama. Akhir Januari lalu, saya dikabari sudah ada keputusan saya terpilih, tapi masih saya anggap isu. Rupanya, April lalu, Surat Keputusan Presiden soal penunjukan saya bocor, beredar di banyak grup WhatsApp, ha-ha-ha.

Anda mendapat dua tugas besar dari Menteri Kesehatan, soal jumlah pertumbuhan penduduk dan menata anggaran lembaga, mana yang Anda prioritaskan?

Tentu dua-duanya harus saya jalankan. Untuk masalah pertumbuhan penduduk, kondisinya kan berbeda-beda di setiap daerah, kami harus arif menyikapinya. Tapi intinya, kami berupaya mempertahankan bonus demografi, bahwa jumlah penduduk usia produktif harus tetap lebih banyak, dua kali lipat dari jumlah penduduk usia tidak produktif (di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun). Ini tugas besar kami.

Apa yang akan Anda lakukan untuk menekan laju pertumbuhan penduduk?

Saya melihat, dalam data Pasangan Usia Subur (PUS), masih banyak yang sudah punya dua anak dan enggak mau tambah (anak) lagi tapi belum pakai kontrasepsi. Angkanya cukup tinggi, sekitar 10,5 persen dari total PUS sebanyak 36 juta jiwa. Idealnya angka ini nol persen, artinya negara berhasil melayani warga yang benar-benar membutuhkan kontrasepsi. Ini yang menurut saya harus jadi core BKKBN.

Apakah slogan "Dua Anak Cukup" masih relevan atau meniru program di Cina untuk membatasi satu keluarga satu anak?

Kita tidak bisa serta-merta meniru Cina karena kondisi setiap daerah bervariasi. Konsep dua anak cukup itu merupakan jumlah ideal secara medis. Melahirkan pertama dan kedua itu masih belum berisiko bagi ibu. Tapi kalau sudah lebih, risikonya juga ikut naik. Kampanye dua anak itu artinya cukup, sehat, dan ideal dari sisi persalinan dan usia. Karena biasanya, jika sudah anak ketiga, usia ibu sudah di atas 35 tahun, risikonya semakin tinggi. Tujuan program KB adalah menciptakan keluarga sehat. Dengan begitu, seharusnya pasangan suami-istri yang sudah menikah lama tapi istrinya sulit hamil pun seharusnya masuk program KB. Artinya harus ada program berencana untuk mereka yang ingin hamil, mereka juga harus dapat perhatian negara, terutama yang tingkat ekonominya kurang.

Apakah itu berarti suatu saat negara membantu pasangan yang kesulitan punya anak, melalui proses bayi tabung, misalnya?

Belum sampai ke sana. Soal teknisnya bagaimana saya belum bisa bicara banyak. Tapi paling tidak KB harusnya memperhatikan hal seperti itu juga. Secara filosofis hak-hak reproduksi itu kan termasuk di dalamnya orang yang sulit hamil. Soal bagaimana nanti pemerintah memberikan perhatian, disesuaikan dengan kemampuan.

Ada pemuka agama yang menganggap program KB menyalahi takdir atau kodrat Tuhan. Bagaimana BKKBN menyikapi hal seperti ini?

Kami paham juga ada pendapat begitu, tapi tolong jangan memandang BKKBN dan program KB berseberangan dengan ajaran agama. Saya mau mengutip salah satu hadis yang menyatakan, "Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat, maka hendaklah dia menanamnya." Saya memaknai hadis itu sebagai pesan agar kita menyiapkan sesuatu yang baik untuk generasi berikutnya dan kita tidak boleh meninggalkan generasi yang lemah.
Keluarga Berencana jangan dipersepsikan untuk menentang takdir atau sunah Rasul. Justru ini adalah upaya kita untuk memperhatikan generasi selanjutnya. Sederhananya, kalau secara ekonomi tidak mampu, ya, janganlah punya banyak anak. Statistik mengatakan orang-orang yang fertility rate-nya di atas 2,4 justru terbanyak ada di kantong kemiskinan. Begitu juga dengan yang tingkat pendidikannya rendah. Jangan-jangan mereka memang sebetulnya tidak ingin punya anak lagi tapi tak tahu harus bagaimana dan tidak tahu ada sarana kontrasepsi.

Bagaimana Anda menjalankan program KB sewaktu masih menjadi Bupati Kulon Progo?

Di Kulon Progo, saya berfokus menurunkan angka kematian ibu melahirkan. Caranya, kami menyasar orang-orang yang masih berusia muda dan sudah punya anak supaya tak terlalu banyak dan sering menambah anak. Untuk orang-orang yang sudah terlalu tua kami dekati melalui kontrasepsi. Salah satu program yang berhasil adalah vasektomi berhadiah kambing. Jadi, bapak-bapak yang mau ikut program kami beri hadiah seekor kambing. Terbukti peminatnya banyak, dari semula 40 orang jadi 120 orang, sampai-sampai kami kehabisan kambing, ha-ha-ha. Hasilnya, pada 2018 angka kematian ibu saat bersalin menjadi hanya tiga orang dari 5.600 persalinan. Idealnya nol, tapi kalau dibandingkan dengan daerah lain, kita termasuk rendah, ada kabupaten yang angka kematiannya masih 40-an.

Bukankah vasektomi masih banyak penolakan?

Vasektomi bisa dipilih oleh para suami kalau para istrinya punya tekanan darah tinggi, sehingga tidak cocok pakai alat kontrasepsi lain, atau punya risiko mempengaruhi hormonnya. Ada juga kasus para istri yang takut dipasang spiral, susuk, atau tidak mau suntik hormon. Vasektomi menjadi solusi untuk menurunkan kehamilan berisiko. Ini termasuk metode kontrasepsi jangka panjang. Selain vasektomi, ada tubektomi untuk perempuan.
Penolakan vasektomi karena ada anggapan bahwa metode ini melawan takdir. Padahal teknologi sekarang sudah canggih. Vasektomi atau tubektomi untuk perempuan tidak memutus fungsi reproduksi. Saluran sperma atau indung telur diikat pakai sejenis cincin dan ini bisa dibuka lagi suatu saat menggunakan alat khusus. Fungsi reproduksi pun bisa dipulihkan. Makanya istilah sterilisasi itu tidak tepat.

Bagaimana Anda meng-counter isu-isu atau mitos tentang kontrasepsi?

Memang ada mitos kalau vasektomi itu orang jadi impoten. Itu salah, orang vasektomi itu tidak mempengaruhi hormon. Libido itu hubungannya dengan hormon. Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa metode ini tidak mempengaruhi kesehatan. Jadi, kalau meng-counter isu menyesatkan ya pakai bukti ilmiah. Toh, ada jurnalnya. Ada kajian statistiknya. Percayalah pada ilmu pengetahuan.

Kalau begitu, vasektomi atau tubektomi bisa dianggap sebagai metode kontrasepsi paling ideal?

Belum bisa disebut ideal karena belum umum dipilih oleh masyarakat. Tapi bisa dibilang ini metode paling mantap, tidak mudah gagal, dan aman. Sebetulnya metode susuk juga termasuk mantap, karena praktis, mudah, dan aman. Tapi masih banyak juga yang takut. Yang paling populer justru metode suntik. Padahal ini paling rentan, karena harus suntik berulang per tiga bulan atau per satu bulan. Orang bisa lupa.

Program KB sekarang terkesan mandek, tidak sepopuler pada zaman Orde Baru. Bagaimana seharusnya kampanye dijalankan?

Generasi kan sudah berganti. Pada zaman Orde Baru, kampanye dilakukan top-down dari pemerintah ke masyarakat. Setiap hari kita didoktrin melalui nyanyi-nyanyian, kampanye di mana-mana, sampai lembaga negara seperti TNI-Polri diwajibkan hingga ada perlombaannya. Orang sekampung bisa digiring untuk ikut program KB. Sekarang manusianya sudah beda, situasinya sudah tidak bisa lagi top-down dengan cara doktrinasi semacam itu, tidak efektif. Harus ada metode bottom-up, memanfaatkan saluran media sosial, misalnya. Memang saat ini belum ada bentuk ideal. Nah, ini termasuk salah satu tugas saya bersama BKKBN, melakukan rebranding agar KB bisa ngetren lagi.

Seusai pelantikan, Anda sempat menyinggung pentingnya edukasi kesehatan reproduksi remaja…

Betul, ini persoalan yang sangat penting diangkat. Anak dan remaja harus tahu tentang tubuh dan dirinya sendiri. Kita menghadapi masalah serius. Contohnya banyak remaja perempuan tidak tahu soal menarche atau haid pertamanya. Padahal ini ilmu sederhana. Ini bisa jadi titik awal untuk edukasi organ reproduksi yang lebih dalam. Misalkan apa saja risiko hubungan seksual di usia muda. Di luar negeri, pendidikan ini diajarkan secara serius, di sini masih dianggap tabu, diajarkan sambil cekikikan dan malu-malu. Padahal ini ilmu.

Apa yang bisa Anda lakukan?

Di Kulon Progo, saya bikin modul buku kesehatan reproduksi untuk siswa SD-SMP-SMA.

Apa perbedaan materi yang diajarkan?

Di tingkat SD, misalnya, anak laki-laki kelas I itu harus tahu bahwa dirinya harus punya dua buah zakar. Kalau hanya satu, kemungkinan satunya lagi tidak turun, ini bahaya karena buah zakar yang tidak turun bisa menjadi penyebab kanker ketika mereka menginjak usia belasan tahun. Jika kondisi ini bisa diketahui sejak anak-anak masih usia 6 tahun kan bisa segera dilakukan tindakan. Ada lagi soal penyakit gondongan (parotitis epedemica). Ternyata virus penyebab gondongan bisa menimbulkan antibodi yang akan merusak produksi sperma, sehingga bisa mandul.

Bagaimana dengan soal pernikahan di bawah umur yang juga masih banyak terjadi?

Ini termasuk materi yang diajarkan untuk tingkat remaja. Mereka diberi tahu bahwa mulut rahim perempuan berusia di bawah 18 tahun masih mengalami ektorpion (kondisi di mana sel-sel kelenjar yang seharusnya ada di dalam serviks (leher rahim) tumbuh di luar serviks. Sehingga terbentuk daerah peradangan yang terlihat tergerus dan terinfeksi). Bahayanya, jika sel-sel kelenjar ini terkena penetrasi alat kelamin laki-laki, maka berpotensi menjadi kanker setelah 15-20 tahun kemudian. Ini menjelaskan kenapa usia pernikahan ideal adalah 21 tahun. Sebab, pada saat itu kondisi ektorpion sudah berhenti. Jika pengetahuan semacam ini disosialisasi, diharapkan ada penolakan terhadap pernikahan dini pada anak di bawah usia ideal.
Jadi, alasan umur ideal menikah di atas 21 tahun itu bukan soal sosiologis dan psikologis saja, tapi juga soal biologis. BKKBN gencar mengkampanyekan pengetahuan semacam ini melalui program Generasi Rencana (Genre). Tujuannya adalah membentuk generasi muda yang mengenali dirinya sendiri, dan jadi keluarga berencana setelah menikah di usia dewasa.

Apakah mungkin materi semacam ini masuk kurikulum di sekolah?

Mungkin saja, di Kulon Progo kan sudah saya terapkan. Modul kesehatan reproduksi diajarkan melalui pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Ingat, Penjaskes itu ada kesehatannya lho, bukan hanya pelajaran olahraga.
Dengan posisi Kepala BKKBN, saya bisa memberikan masukan kepada pemerintah bahwa pelajaran kesehatan reproduksi bisa dimasukkan ke pelajaran sekolah. Anak-anak di usia transisi harus mengerti tentang kesehatan reproduksi karena justru hal yang sering membahayakan masa depan mereka adalah persoalan reproduksi, seperti hamil di luar nikah, pernikahan dini, pelecehan seksual, atau pemerkosaan.

Dr Hasto Wardoyo, SP.OG.

Lahir: Kulon Progo, 30 Juli 1964

Pendidikan:
- Spesialis II Fakultas Kedokteran UGM, lulus 2006
- Spesialis I Fakultas Kedokteran UGM, lulus 2000
- S-1 Fakultas Kedokteran UGM, lulus 1989

Pekerjaan:
- Bupati Kulon Progo periode 2011-2016 dan 2017-2022
- Kepala Instansi Kesehatan Reproduksi & Bayi Tabung RSUP Dr Sardjito, 2010

Tanda Jasa:
- Dokter Teladan, 1992, Presiden RI
- Satya Lencana Bidang KB, 2010, Presiden RI

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus