Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Jusuf Kalla menjadi pengurus masjid sejak sekolah menengah pertama.
Ia bercerita, bapaknya meminta untuk mengelola keuangan masjid di sebelah rumah mereka.
Masjid cenderung lebih terbuka dan diisi kegiatan anak-anak muda.
JUSUF Kalla menjadi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia sejak 2010. Meski demikian, ia sudah aktif mengurus masjid sejak bangku sekolah menengah pertama di Sulawesi Selatan. “Hidup saya tak lepas dari pengurus masjid,” ujar Kalla, 82 tahun, di rumah pribadinya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kalla bercerita, bapaknya, Haji Kalla, yang mendirikan kerajaan bisnis Kalla Group, memintanya menjadi bendahara masjid yang bersebelahan dengan rumah mereka di Makassar. Karena itu, ia mengaku paham dengan perilaku dan sejarah kepengurusan masjid.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Mantan wakil presiden itu kini tak hanya memimpin Dewan Masjid Indonesia. Kalla juga menjadi ketua di Masjid Raya Makassar dan Masjid Al-Markaz serta penasihat di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. “Saya ini menjadi pengurus masjid yang terlama,” tuturnya.
Selama lebih dari satu jam, Kalla menerima wartawan Tempo untuk wawancara mengenai pengelolaan masjid-masjid di Indonesia untuk laporan khusus “Di Bawah Lindungan Masjid” pada Kamis, 20 Maret 2025. Ketua Umum Palang Merah Indonesia itu menjelaskan perkembangan masjid yang makin terbuka bagi semua kalangan.
Apa kesibukan Anda setelah tak lagi di pemerintahan?
Ada empat, saya menyebutnya A-B-S-D. A itu agama, yang meliputi mengurus dan membangun masjid. B itu bisnis. Tapi bukan pelaksana, hanya penasihat saja dan pergi ke kantor untuk urusan bisnis mungkin sekali dalam sepekan. S itu sosial, misalnya mengurus Palang Merah Indonesia dan pendidikan. D itu damai.
Bagaimana Anda bisa bergiat mengurus masjid?
Saya ini pengurus masjid termasuk yang terlama. Bapak saya, Haji Kalla, adalah bendahara masjid seumur hidup. Jadi kami punya rumah selalu dekat masjid di Makassar. Saya masuk ke Masjid Raya Makassar menjadi bendahara. Ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, bapak menyuruh saya untuk mengurus keuangan masjid. Saya mulai dari mencatat dan mengumpulkan. Meskipun ada orang yang mengatur dan mengumpulkan, saya tetap mengurusnya.
Jabatan itu masih Anda pegang sampai sekarang?
Setelah bapak saya meninggal, saya menggantikannya menjadi bendahara masjid. Itu terus sampai saya menjadi ketua masjid. Saya sekarang menjadi ketua di Masjid Raya Makassar dan Masjid Al-Markaz. Di Jakarta, saya diminta menjadi penasihat dan pengurus sejumlah masjid. Salah satunya di Masjid Sunda Kelapa. Hidup saya tidak lepas dari pengurus masjid.
Dari 650-800 ribu masjid di Indonesia, berapa banyak masjid yang terbuka bagi siapa saja?
Saya melihat masjid selalu terbuka bagi orang Islam dan aliran apa pun. Masjid hari ini jauh lebih inklusif. Anak-anak muda mendominasi dan menggelar pengajian di sana.
Ada juga masjid yang tertutup dan cenderung eksklusif?
Saya kira itu lebih ke soal keamanan dan kebersihan, bukan karena ideologi pengurusnya. Tidak banyak masjid yang begitu. ●