Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kesehatan

Dokter: Jangan Anggap Remeh Batuk Pilek di Musim Hujan

Musim hujan, jangan anggap remeh jika terserang batuk pilek, sakit tenggorokan, dan influenza agar tidak mengganggu produktivitas.

17 Desember 2024 | 20.14 WIB

Ilustrasi batuk pilek. Shutterstock
Perbesar
Ilustrasi batuk pilek. Shutterstock

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Praktisi kesehatan dr. Monica Cynthia Dewi meminta masyarakat tak mengabaikan penyakit batuk pilek atau selesma, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), sakit tenggorokan, dan influenza yang kerap terjadi di musim hujan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Meski tampak ringan, penyakit musiman ini kerap mengganggu produktivitas, terutama saat kita harus menyelesaikan pekerjaan akhir tahun atau mempersiapkan liburan," katanya, Selasa, 17 Desember 2024.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Penelitian di Current Medical Research and Opinion menemukan batuk pilek menyebabkan penurunan produktivitas sebanyak 26,4 persen. Sementara itu, penelitian dalam Journal of Occupational and Environmental Medicine menunjukkan influenza dapat mengurangi produktivitas pekerja sebanyak 67-74 persen. Monica mengatakan cuaca yang tidak menentu di pengujung tahun sering menjadi penyebab naiknya kasus penyakit musiman tersebut.

“Perubahan suhu ekstrem antara hujan dan panas dapat melemahkan daya tahan tubuh, membuat masyarakat lebih rentan terhadap infeksi virus dan bakteri," ujar Manajer Medis Halodoc itu.

Kiat sehat jelang akhir tahun
Agar masyarakat, terutama para pekerja, tetap sehat meski harus menuntaskan pekerjaan sambil mempersiapkan liburan akhir tahun, dia memberikan kiat sehat. Salah satunya menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, cukup istirahat cukup, dan minum suplemen vitamin. Lalu, lakukan tindakan preventif seperti vaksinasi flu.

Monica menambahkan warga bisa memanfaatkan layanan kesehatan digital untuk mendapatkan pengobatan cepat pakar kesehatan. Masyarakat juga perlu segera mencari bantuan medis apabila gejala tidak membaik dalam 2-3 hari meski sudah minum obat yang biasa digunakan.

Menurutnya, masyarakat perlu berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami demam tinggi lebih dari 38 derajat Celcius selama lebih dari dua hari, sulit bernapas atau nyeri dada, serta apabila gejala mengganggu aktivitas sehari-hari seperti pekerjaan atau perencanaan liburan.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus