Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

BI Luncurkan KEKSI 2024, Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional

Memasuki 2025, BI fokus memperkuat ekosistem ekonomi syariah dengan mengusung tiga strategi utama

4 Maret 2025 | 00.00 WIB

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti (keempat dari kiri) saat acara peluncuran Kajian Ekononi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2024 di BI, Jakarta, Jumat 21 Februari 2025. Dok. Bank Indonesia.
Perbesar
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti (keempat dari kiri) saat acara peluncuran Kajian Ekononi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2024 di BI, Jakarta, Jumat 21 Februari 2025. Dok. Bank Indonesia.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sepanjang 2024, ekonomi dan keuangan syariah Indonesia tercatat tumbuh positif meski di tengah ketidakpastian global. Kinerja ini didorong oleh sektor unggulan Halal Value Chain (HVC), seperti industri makanan-minuman halal, modest fashion, dan pariwisata ramah muslim (PRM), yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sektor pertanian syariah juga tetap stabil, menopang ketahanan ekonomi syariah nasional. Secara global, 2025, pertumbuhan ekonomi negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) diproyeksi meningkat menjadi 4,1 persen. Sementara itu, di dalam negeri, ekonomi syariah diprediksi tumbuh di kisaran 4,8–5,6 persen, didukung oleh pembiayaan perbankan syariah yang diperkirakan meningkat 11–13 persen.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kinerja ekonomi dan keuangan syariah tersebut terangkum dalam laporan Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2024 yang diluncurkan Bank Indonesia pada Jumat, 21 Februari 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Masih merujuk pada laporan KEKSI 2024, dalam upaya menjaga stabilitas dan mendorong ekspansi ekonomi syariah, BI telah melakukan berbagai langkah strategis sepanjang 2024. Salah satu upaya utama adalah memperkuat kebijakan moneter syariah dengan mengintegrasikan pendalaman pasar uang syariah guna mendukung kecukupan likuiditas perbankan syariah. BI juga menjaga stabilitas sistem keuangan syariah melalui kebijakan makroprudensial yang longgar, termasuk insentif likuiditas bagi perbankan syariah melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pertumbuhan pembiayaan. Selain itu, BI aktif menjalin sinergi kebijakan ekonomi syariah dengan kementerian, lembaga terkait, dan pelaku industri guna mempercepat pengembangan ekosistem ekonomi syariah nasional. Upaya ini didukung oleh peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah melalui penyelenggaraan berbagai program edukasi seperti Festival Ekonomi Syariah (FESyar) dan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF), yang menjadi ajang promosi industri halal Indonesia di tingkat global.

Tiga Strategi BI Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah di 2025

Memasuki 2025, BI fokus memperkuat ekosistem ekonomi syariah dengan mengusung tiga strategi utama, yang sejalan dengan dukungan BI dalam Asta Cita. Pertama, penguatan ekosistem produk halal melalui pengembangan industri makanan-minuman halal, modest fashion, dan pariwisata ramah muslim (PRM). Pemerintah dan BI juga mendorong peran UMKM dalam rantai pasok halal untuk memperkuat daya saing produk halal Indonesia di pasar internasional. Kedua, pengembangan keuangan syariah dilakukan melalui perluasan instrumen Sukuk Bank Indonesia (SukBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) yang bertujuan memperdalam pasar keuangan syariah sekaligus meningkatkan efektivitas kebijakan moneter syariah. BI juga terus memperkuat peran perbankan syariah dengan memberikan insentif likuiditas melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna meningkatkan akses pembiayaan ke sektor riil. Ketiga, peningkatan literasi, inklusi, dan gaya hidup halal menjadi prioritas melalui penguatan Strategi Nasional Literasi dan Inklusi Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (SNLIEKSI) serta berbagai program edukasi berbasis digital.

Ilustrasi KEKSI 2024

Selain itu, BI menekankan pentingnya peran keuangan sosial syariah dalam menciptakan ekonomi yang lebih inklusif. Dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) dioptimalkan untuk memperkuat perlindungan sosial, stabilitas ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam mewujudkan hal ini, sinergi antara pemerintah, lembaga filantropi, sektor swasta, dan pemanfaatan teknologi digital terus diperkuat.

Peluncuran KEKSI 2024 menjadi tonggak penting bagi pengembangan ekonomi syariah Indonesia ke depan. Dengan strategi yang semakin terarah dan kolaborasi yang semakin erat, BI optimistis bahwa ekonomi syariah dapat menjadi sumber pertumbuhan baru yang stabil dan inklusif bagi perekonomian nasional.[AP1] ”Kami berharap KEKSI 2024 dapat menjadi referensi dalam merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, serta kebijakan ekonomi nasional.” ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo. Untuk informasi lebih lanjut, publik dapat mengakses buku KEKSI 2024 di sini.

Iklan

Iklan

Artikel iklan

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus