Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
INFO NASIONAL - Masyarakat bukan hanya menggunakan air untuk sumber kehidupan tapi juga sebagai tempat pembuangan sampah. Hal inilah yang menurut Sastrawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, menyebabkan Sungai Ciliwung menjadi kotor. Selain keruh karena lumpur, debit air di Sungai Ciliwung juga kotor oleh sampah.
Menurut Bondan, sampah yang ada di Sungai Ciliwung banyak macamnya. Ada yang sifatnya organik dari sampah dapur, ada juga kotoran manusia. Belum lagi sisa-sisa kayu yang disebabkan penebangan pohon membuat isi sungai menjadi lebih beragam.
Awal Abad 20, ragam sampah menjadi bertambah dengan hadirnya limbah plastik yang dibuang ke Sungai Ciliwung. “Ini yang menyebabkan Sungai Ciliwung yang sudah kotor dan terpolusi semakin terpolusi,” kata Bondan melalui YouTube Tempodotco.
Jumlah sampah plastik di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun 2010, yaitu 11 persen. Berdasarkan Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di 2023, timbunan sampah di Indonesia sebesar 40,2 juta ton.
Menurut Asep Kuswanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jakarta, permasalahan yang ada di Sungai Ciliwung itu merupakan permasalahan yang harus dilihat dari hulu ke hilirnya. “Hulunya ada di puncak di Bogor kemudian mengalir ke Depok hingga akhirnya ke Jakarta.
Pemerintah Provinsi Jakarta, kata Asep, terus berupaya untuk mengurangi sampah-sampah yang berasal dari aliran Sungai Ciliwung. “Kami membangun saringan-saringan sampah, terbaru di jalan TB Simatupang,” kata dia. Semua sampah yang berasal dari hulu Sungai Jakarta akan kami cegat istilahnya di saringan sampah TB Simatupang.”
Sampah plastik, kata Asep, menjadi salah satu konsen Pemprov Jakarta. Sampah plastik merupakan salah satu bagian yang masuk dalam komposisi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bantar Gebang yang sebesar 14 – 17 persen.
Pemprov Jakarta, Asep melanjutkan, sesungguhnya mempunyai Peraturan Gubernur tahun 142 tentang kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat. Pemprov telah melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai.
“Kami akui masih punya PR yaitu di pasar tradisional,” kata Asep. Saat ini masih banyak penggunaan kantong-kantong kresek di pasar tradisional yang diberikan oleh pedagangnya.
Menurut Irfan Bakhtiar, Direktur Climmate & Market Transformation WWF-Indonesia, baik Jakarta, Bogor, dan Depok menjadi bagian dari Sungai Ciliwung. Oleh karena itu untuk menangani permasalahan sampah, plastic smart cities (PSC) coba diterapkan di tiga kota ini.
World Wide Fund for nature (WWF), menginisiasikan program PSC untuk mencegah kebocoran sampah plastik ke alam. “Intensi program ini tidak menyelesaikan semua problem di Ciliwung. Tidak serta merta dengan plastic smart cities terus masalah banjir selesai, enggak,” kata Irfan.
Tetapi PSC setidaknya berkontribusi pada pengurangan risiko terhadap bencana. “Itu satu. Kemudian yang kedua ketika kita melihat point of view-nya adalah dari sampah plastik yang mengalir ke laut itu coba kita tahan di sumbernya.”
WWF-Indonesia, lanjut dia, mencoba masuk ke kelompok-kelompok swadaya masyarakat untuk membantu mereka yang sudah memiliki kesadaran. “Jadi kita juga menumbuhkan kesadaran di tingkat masyarakat.”
Apakah itu melalui bank sampah atau di tingkat rumah tangga. “Di Bogor misalnya, kami bersama-sama dengan Satgas Ciliwung melakukan penyadartauan masyarakat di 56 RT. Bagaimana mereka kita coba dorong untuk mulai memilah dari rumah. Nah kesadaran-kesadaran semacam ini kan memang tidak mudah untuk semuanya tumbuh. Itu harus dikondisikan dan peran-peran lembaga masyarakat sipil seperti WWF dan mitra-mitranya di situ.”
Program ini, menurut dia, tidak bisa dikerjakan sendiri. “Pemerintah tidak bisa sendirian, begitu juga WWF. Kita harus punya banyak teman karena dengan program ini WWF tidak ingin membesarkan dirinya, kita ingin yang bergerak itu banyak pihak,” ujar Irfan.
Menurut dia, tidak ada atensi WWF untuk selamanya mengerjakan program itu, oleh karena itu WWF-Indonesia merangkul mitra-mitra. “Kita mencoba memastikan bahwa mitra-mitra kita itu akan sustainable sehingga nanti ketika project ini harus berakhir inisiatif-inisiatif baik ini terus berjalan,” harap Irfan.
Abdul Rahman, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok mengatakan, instansinya wajib menggandeng dan berkolaborasi dengan NGO. “Apalagi sekelas WWF, kita sangat merasakan manfaat dari keberlangsungan. Saya berharap WWF terus melakukan intervensi pendampingan berkelanjutan program tidak hanya pada periode tertentu saja tetapi secara berkesinambungan,” kata dia.
Denni Wismanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor menuturkan sejak 2021 WWF mensupport tidak hanya dari sisi finansial dan sarana saja, tetapi juga edukasi masyarakat. “Begitu diedukasi kemudian gimana pendukungannya, bagaimana pewadahannya mereka juga bantu.
Terkadang, lanjut Denni, WWF-Indonesia juga membantu mengundang para ahli. “Hampir lima bank sampah di Bogor yang sudah diberikan bantuan oleh WWF. Bukan bantuan finansial saja tapi bantuan mengelola bank sampah sehingga bank sampah itu bisa menjadi satu bagian sirkular ekonomi di masyarakat.”
Dindin Komarudin, Founder Yayasan Kumala menuturkan, banyak bank sampah yang “tarik napas panjang” karena operasional yang tinggi, sementara hasil dari pengelolaan tidak sebanding. Menurut dia, memungkinkan bagi pemerintah dan dunia usaha untuk bersinergi dalam hal pengelolaan sampah. “Inilah arti kolaborasi tadi, di situ ada pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media sehingga kalau kerja bareng akan lebih baik.” (*)
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini