TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu Granmaster
catur Indonesia, Ardiansyah, meninggal karena kanker hati pada 28 Oktober 2017. Atlet senior ini menghembuskan nafas terakhirnya di rumah susun Klender, Jakarta Timur, di umurnya yang ke 67 tahun.
"Beliau berpulang pas tepat hari Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 2017," ujar Humas Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi), Urry Kartopati, saat dikonfirmasi Tempo, Senin, 30 Oktober 2017.
Adriansyah adalah salah satu dari empat granmaster pria yang Indonesia miliki saat ini. Bersama Cerdas Barus dan Susanto Megaranto, Ardiansyah adalah pemain catur yang masih aktif. Ada juga Utut Adianto yang kini menjadi anggota dewan di Komisi 10 DPR RI dan Ketua Umum organisasi catur tanah air (Percasi).
Gelar Grand Master Ardiansyah diperoleh pada Olimpiade Catur di Lucerne, Swiss, 1982. Di usianya yang lebih dari 60 tahun, Ardiansyah merupakan grandmaster tertua yang dimiliki Indonesia.
"Terakhir beliau ikut Kejuaraan Piala Jaksa Agung (Jatim) pada Juli 2017 di Surabaya. Beliau datang di acara pembukaan tapi besoknya langsung pulang, karena sakit," kata Urry.
Ardiansyah memang mengandalkan profesi atlet sebagai mata pencaharian utama. Ia tinggal seadanya bersama sang anak, Rara, di rusunnya. Meski begitu, menurut Urry, saat dijenguk, Ardiansyah kerap menyayangkan kurangnya perhatian terhadap atlet-atlet tua seperti dirinya.
"Saat zamannya dia dulu, mungkin perhatian pemerintah kepada atlet belum seperti sekarang. Mereka dulu hanya mendapatkan piagam dan piala saja," kata Urry.
Menurut dia, dua bulan sejak tahu diagnosa dokter terkait penyakitnya, Ardiansyah lebih banyak dirawat di rumah. Beberapa kali Percasi menjenguk, semakin lama, kondisinya semakin parah.
Urry mengatakan Percasi sendiri tak bisa banyak membantu. Apalagi dana yang dimiliki pun terbatas. Belum ada program khusus yang dibuat bagi para pecatur senior seperti Ardiansyah.
Namun di era kepemimpinan Utut Adianto sebagai Ketua Percasi, Urry mengatakan, program untuk para atlet senior mulai dipikirkan. Rencananya, para atlet senior berprestasi seperti Ardiansyah dan Cerdas Barus, akan difasilitasi untuk menjadi pengajar pelatih catur di daerah-daerah.
"Selain lebih hemat dibanding membawa pelatih daerah ke Jakarta, program ini bisa membantu secara finansial para pecatur senior ini," kata Urry.
Namun sebelum rencana itu terrealisasi, Ardiansyah telah terlebih dulu meninggal. Jejak-jejak kejayaannya di dunia
catur tersimpan di lantai 4 rumah susun sederhana di Klender,Jakarta Timur.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini