Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Olahraga

PBSI Terapkan Sistem Baru dalam Promosi dan Degradasi, Atlet Bulu Tangkis Bisa Terdepak Kapan Saja dari Pelatnas

Wakil Ketua Umum I PBSI Taufik Hidayat mengatakan sistem baru ini diterapkan untuk memastikan hanya atlet bulu tangkis terbaik yang ada dii pelatnas.

28 Maret 2025 | 00.33 WIB

Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat mengunjungi Pelatnas PBSI untuk bertemu dengan para atlet yang menjuarai Badminton Asia Mixed Team Championships 2025, di Cipayung, Jakarta Timur pada Rabu, 19 Februari 2025. TEMPO/Bagus Pribadi
Perbesar
Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat mengunjungi Pelatnas PBSI untuk bertemu dengan para atlet yang menjuarai Badminton Asia Mixed Team Championships 2025, di Cipayung, Jakarta Timur pada Rabu, 19 Februari 2025. TEMPO/Bagus Pribadi

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menerapkan sistem baru dalam promosi dan degradasi pelatnas bulu tangkis. Tak lagi seperti dulu yang dilakukan setiap enam bulan hingga satu tahun, kini atlet bisa saja terdepak kapan saja tanpa harus menunggu evaluasi berkala seperti sebelumnya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Wakil Ketua Umum I PBSI Taufik Hidayat mengatakan sistem baru ini diterapkan untuk memastikan hanya atlet terbaik yang tetap menghuni pelatnas. "Jadi sistemnya tidak seperti dulu yang menunggu setahun untuk promosi dan degradasi. Sekarang bisa kapan saja," kata dia kepada pewarta di Jakarta, Rabu, 26 Maret 2025, seperti dikutip dari Antara, Kamis. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Menurut Taufik, kalau sudah diberikan banyak kesempatan bertanding tapi tidak ada hasil, tidak ada alasan untuk dipertahankan. "Lebih baik beri kesempatan kepada yang lebih potensial," ujar peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 itu.

PBSI beralasan penerapan sistem yang lebih ketat ini bertujuan untuk mempercepat regenerasi pemain dan memberikan kesempatan bagi atlet muda berbakat untuk tampil di turnamen internasional. Evaluasi atlet akan didasarkan pada hasil turnamen BWF dan multievent. 

Meski begitu, keputusan promosi dan degradasi tetap mempertimbangkan masukan dari tim pelatih serta data performa atlet. "Keputusan ini dibuat dengan pertimbangan matang dari pelatih teknik, fisik, dan semua data capaian atlet. Dengan sistem yang lebih fleksibel, regenerasi bisa berjalan lebih cepat," ujar Taufik.

PBSI berharap kebijakan ini dapat meningkatkan daya saing atlet Indonesia di kancah internasional serta memastikan pelatnas diisi oleh pemain yang benar-benar layak. Penerapan sistem baru ini diambil setelah rentetan hasil yang kurang maksimal dari sejumlah pertandingan di sepanjang musim 2025. Salah satu yang mendapat sorotan tajam adalah kegagalan wakil Indonesia mempertahankan gelar di BWF World Tour Super 1000 All England 2025.

Dari 11 wakil yang bertanding di turnamen bulu tangkis tertua di dunia tersebut, tak satu pun yang mampu membawa pulang gelar juara. Hasil ini bukan sekadar kekalahan, tetapi alarm keras bagi pembinaan bulu tangkis nasional yang selama ini dikenal sebagai salah satu kekuatan utama di dunia. 

Kegagalan terbesar datang dari sektor ganda putra, yang selama bertahun-tahun menjadi andalan. Pasangan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana menjadi wakil terjauh Indonesia di turnamen ini dengan menembus final. Namun, mereka harus puas menjadi runner-up setelah dikalahkan pasangan Korea Selatan, Kim Won-ho/Seo Seung-jae, dengan skor 19-21, 19-21.

Lebih mengejutkan, dua juara bertahan tahun sebelumnya, tunggal putra Jonatan Christie dan ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto tersingkir di babak kedua. Hasil tersebut menjadi pukulan telak, terutama setelah PBSI mengklaim bahwa persiapan menghadapi All England 2025 dilakukan sudah cukup matang.

Sejak lama, Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama di All England dengan total 52 gelar juara. Tradisi juara ini bahkan sempat terjaga di sektor ganda sejak 2016, kecuali pada 2021 akibat pandemi COVID-19. Namun, tren positif itu kini terhenti, menandakan ada persoalan mendasar dalam sistem pembinaan.

ANTARA

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus