Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Teknologi & Inovasi

Dubai Bangun Kereta Bawah Air dengan Jalur Sepanjang 2.000 Kilometer ke India

Kereta yang menghubungkan Dubai Mumbai akan berbeda karena akan memungkinkan penumpang untuk melihat laut dengan segala kemegahannya

15 Oktober 2023 | 09.04 WIB

Suasana gedung Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, Selasa 2 November 2021. Burj Khalifa merupakan gedung pencakar langit tertinggi di dunia dengan 160 lantai dan tinggi 828 meter. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Perbesar
Suasana gedung Burj Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab, Selasa 2 November 2021. Burj Khalifa merupakan gedung pencakar langit tertinggi di dunia dengan 160 lantai dan tinggi 828 meter. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Uni Emirat Arab telah merilis rencananya untuk membangun kereta bawah air sebagai pilihan baru bagi wisatawan untuk melakukan perjalanan dari Dubai ke kota Mumbai di India.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bagi penderita claustrophobia atau takut terhadap perairan dalam, mungkin ini bukan suatu pilihan. Bayangkan sebuah kereta api yang turun di laut biru yang dalam, dengan pemandangan biota laut saat Anda melakukan perjalanan dengan kecepatan tinggi menuju tujuan Anda.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Sebagaimana dilaporkan Unilad, 7 Oktober 2023, ini adalah perjalanan sejauh 1.200 mil atau hampir 2.000 kilometer yang tidak hanya digunakan sebagai angkutan umum, tetapi juga sebagai pengangkut air dan minyak, dengan kecepatan yang ditetapkan pada 600–1.000 km/jam.

Proyek kereta bawah air Dubai ke Mumbai itu pertama kali disebutkan pada tahun 2018 sebagai gagasan hipotetis, namun kini dengan cepat menjadi kenyataan, namun memerlukan biaya yang sangat besar.

Ketika Biro Penasihat Nasional Uni Emirat Arab sedang mengerjakan cetak biru jalur kereta api dan jenis kereta api yang dibutuhkan untuk perjalanan tersebut, mereka berharap dapat menjembatani kesenjangan antara kedua kota tersebut dan memberikan sesuatu yang inovatif bagi wilayah tersebut.

Rencana UEA itu bakal menyaingi Arab Saudi dengan peluncuran kota pintar NEOM mereka. Bagaimanapun, UEA dikenal luas karena teknologi, konstruksi, dan infrastrukturnya di Timur Tengah, namun dengan proyek yang sangat besar yang menciptakan gebrakan di seluruh dunia, dibutuhkan sesuatu yang cukup keren untuk bisa mengalahkannya.

NEOM berencana untuk menciptakan kota menara horizontal yang menghubungkan gurun dengan laut, menjadi oasis biofilik dalam iklim yang tidak terduga dengan investasi sebesar 1 triliun dolar.

Kereta bawah air ini tentu akan menjadi sorotan, apalagi jika selesai sebelum proyek NEOM mulai dikerjakan. Karena pembangunan NEOM sudah berlangsung dan direncanakan selesai pada akhir tahun 2030, UEA perlu bekerja cepat.

Meskipun ini merupakan ide yang luar biasa, ini bukanlah kereta bawah air pertama karena Channel Tunnel yang menghubungkan Inggris dan Prancis telah berfungsi sejak tahun 1994.

Namun kereta Dubai-Mumbai akan berbeda karena akan menjadi pengalaman visual dengan jendela tembus pandang yang memungkinkan penumpang untuk melihat laut dengan segala kemegahannya, bukan dinding terowongan batu bata.

Tentu saja, ini akan mengambil rute berpemandangan indah Dubai, yang merupakan nilai jual uniknya dan mungkin menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dimiliki saat dibuka nanti.

Proyek ini tidak dimaksudkan hanya untuk melayani penumpang yang enggan menggunakan jalur udara. Sebaliknya, Dubai melihatnya sebagai sarana untuk memperluas perdagangan bilateral dengan India. Kota pelabuhan Fujairah akan mengekspor minyak ke India sekaligus membawa air segar dari Sungai Narmada ke UEA.

Jarak antara kedua tujuan tersebut kurang dari 2.000 km, namun pembangunan di perairan dalam merupakan tantangan besar. Laporan awal juga menunjukkan bahwa alih-alih melapisi terowongan dengan batu bata buram, proyek ini dapat menggunakan jendela tembus pandang untuk menawarkan pemandangan laut dan kehidupan bawah laut yang indah.

Rincian jenis kereta api yang akan digunakan dan konstruksi yang akan dilakukan akan dieksplorasi melalui laporan kelayakan, namun tentu saja juga memerlukan investasi yang besar, bisa mencapai beberapa miliar dolar, bahkan lebih.

Interesting Engineering melaporkan, bukan uang yang akan menjadi perhatian utama dalam keberhasilan proyek ini. Kelayakan teknis pembangunan di bawah air adalah rintangan utama yang telah diatasi sebelumnya untuk Channel Tunnel.

Perbedaannya adalah Channel Tunnel hanya sepanjang 35 mil (56 km), dan kereta berjalan dengan kecepatan yang relatif lebih lambat yaitu 70 mil (112 km) per jam saat melewatinya.

Sebagai perbandingan, rencana Dubai sangat ambisius karena ingin membangun proyek yang 50 kali lebih besar dan menjalankan kereta sepuluh kali lebih cepat.

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Erwin Prima

Erwin Prima

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus