Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Teknologi pengenalan wajah, belakangan ini, tampaknya bisa membuat orang merasa tidak nyaman. Semua karena distopia fiksi ilmiah. Mungkinkah ini digunakan seseorang untuk mengenali orang lain di jalanan? Apakah sebuah lembaga yang mengumpulkan database gambar massal bisa menyalahgunakannya untuk melanggar privasi atau hak seseorang?
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dengan semakin banyaknya lembaga pemerintah dan lembaga non-pemerintah, perusahaan, dan lainnya menggunakan teknologi pengenalan wajah dengan cara-cara baru, orang-orang ingin memahami bagaimana privasi mereka dilindungi dan pilihan apa yang mereka miliki atas penggunaan teknologi ini.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Seperti kebanyakan teknologi lainnya, pengenalan wajah sebetulnya bisa digunakan untuk tujuan baik, seperti membantu orang membuka kunci perangkat seluler dengan aman, mengakses rekening bank, dan melakukan pembayaran digital. Selain itu, juga dapat membantu orang mengelola foto dan membagikannya dengan teman. Teknologi ini bahkan bisa digunakan untuk menemukan anak yang hilang dan diculik serta untuk membantu petugas mengonfirmasi apakah wisatawan memiliki paspor asli.
Namun, tak bisa dipungkiri, alat tersebut juga dapat digunakan dengan cara yang mengkhawatirkan. Sebagian orang telah mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa penegak hukum akan menggunakan teknologi ini untuk melanggar privasi. Banyak juga yang melihat adanya potensi bias ras dari penggunaan teknologi ini karena sistem pengenalan wajah akan cenderung salah mengidentifikasi.
Teknologi Face ID berbasis kercerdasan buatan. (cnet.com)
"Kekhawatiran ini bukanlah hal baru," kata Deputy Chief Privacy Office Facebook, Rob Sherman, dalam keterangan pers yang diterima Tempo, Jumat, 22 Desember 2017. Menurut dia, juga banyak inovasi baru yang menerima banyak respon negatif pada awal kemunculannya.
Pada 1888, misalnya, sebuah surat kabar pada waktu itu menayangkan artikel berjudul "Beware the Kodak" saat berbagai perangkat murah memasuki pasar dan fotografi pun menjadi tersedia untuk masyarakat umum. Mereka menyebutnya sebagai "teror baru untuk aktivitas piknik".
Menghadapi munculnya fotografi amatir untuk pertama kalinya, masyarakat bisa saja membatasi pemanfaatan teknologi ini dan secara fundamental mengubah cara bagaimana sebuah sejarah didokumentasikan selama lebih dari seabad. Sebaliknya, Sherman menjelaskan, regulator saat itu memutuskan untuk hanya mengambil tindakan atas pemanfaatan teknologi yang mungkin mengkhawatirkan. Misalnya, dengan melarang penguntitan atau pelanggaran privasi.
Bagaimana dengan teknologi pengenalan wajah? Facebook, menurut Sherman, menjadi salah satu perusahaan yang mencoba mengambil peran seperti Kodak pada 1888. Menurut Sherman, teknologi pengenalan wajah sangat bisa membantu orang menandai foto dengan nama teman. "Ketika Anda mengaktifkan pengenalan wajah, teknologi kami akan menganalisis piksel dalam foto yang sudah menandai Anda dan menghasilkan string angka yang kami sebut sebagai sebuah model standard (template)," kata dia.
Ketika Facebook mengenalkan fitur pengenalan wajah pertama kali pada 2010, tidak ada standar industri tentang bagaimana orang bisa mengendalikan pengenalan wajah. Namun, kini, Facebook menambahkan cara agar pengguna platform media sosial besutan Mark Zuckerberg ini bisa menonaktifkan fitur kapan saja.
"Sama seperti tahun 2010, kami harus mengevaluasi cara kami memberi informasi bagi orang banyak dan memberi mereka pilihan atas penggunaan teknologi baru ini," kata Sherman.
Sherman menjelaskan, tim Facebook telah bekerja selama lebih dari setahun untuk mengumpulkan dan menanggapi masukan mengenai tanggung jawab penggunaan teknologi pengenalan wajah. "Orang meminta kami untuk menjelaskan cara kerja pengenalan wajah dengan lebih jelas, dan untuk memberikan informasi yang lebih jelas tentang bagaimana kami menggunakannya di Facebook," kata dia. :Untuk menanggapi masukan ini, kami menginformasikan orang tentang pembaruan terhadap fitur pengenalan wajah di Kabar Berita, pintu masuk Facebook."
Tim Facebook juga memutuskan untuk memperbarui pengaturan Facebook. Kekhawatiran yang muncul dari pembaruan pengaturan sudah ada sejak lama dan bahkan sama tuanya dengan Faceboook, sehingga Sherman dan tim pun harus berhati-hati dalam mengambil keputusan ini. "Namun, berdasarkan penelitian, kami menemukan bahwa orang lebih menginginkan sebuah cara untuk menonaktifkan teknologi pengenalan wajah secara keseluruhan daripada per fitur," ujarnya.
Pada akhirnya, Facebook tidak memperkenalkan, dan tidak berencana memperkenalkan, fitur yang memberi tahu siapa diri Anda kepada orang asing. "Ini merupakan kekhawatiran umum yang sering kami dengar dari orang ketika kami meneliti fitur baru yang mengandalkan teknologi pengenalan wajah," ujar Sherman.
Simak artikel menarik lainnya tentang teknologi pengenalan wajah hanya di kanal Tekno Tempo.co.