Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Iran Punya Armada Lumba-lumba Dilatih di Era Soviet

Armada lumba-lumba Iran ini memiliki sejumlah keahlian di antaranya melakukan serangan ala pasukan bunuh diri Jepang, Kamikaze.

11 Januari 2020 | 06.05 WIB

Ikan Lumba-lumba melintas di tengah laut di kawasan Pantai Kondang Merak, Kecamatan Bantur, Malang, Jawa Timur, 30 Oktober 2015. TEMPO/Amston Probel
Perbesar
Ikan Lumba-lumba melintas di tengah laut di kawasan Pantai Kondang Merak, Kecamatan Bantur, Malang, Jawa Timur, 30 Oktober 2015. TEMPO/Amston Probel

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Iran memiliki armada lumba-lumba yang telah dilatih melakukan serangkaian serangan mematikan terhadap kapal maupun pasukan musuh di laut.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Armada lumba-lumba Iran ini memiliki sejumlah keahlian di antaranya melakukan serangan ala pasukan bunuh diri Jepang, Kamikaze.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Lumba-lumba yang sejatinya berasal dan dilatih di Uni Soviet dan kemudian dijual ke Iran tahun 2000 mampu melumpuhkan pasukan katak dengan tombak yang ditaruh di kepala mereka.

Keahlian lain, armada lumba-lumba ini mampu membedakan antara kapal selam Rusia atau Amerika berdasarkan bunyi dari sistem propulsi di bawah laut.

Lumba-lumba ini juga dilatih untuk berenang di kapal musuh dengan membawa ranjau laut yang diikat pada tubuh mereka.

Iran membeli lumba-lumba ini setelah pelatih hewan yang jinak pada manusia ini, Boris Zhurid, kehabisan uang untuk melatih dan merawat lumba-lumba itu.

Proyek Rusia yang mendanai pelatihan militer lumba-lumba itu kehabisan dana. Dia berusaha mencari uang dengan mengadakan atraksi bagi para turis, namun memasuki musim dingin yang panjang berbulan-bulan, keuangannya menipis.

Zhurid putus asa menyaksikan skuadron akuatiknya menderita dan kemudian memutuskan menjualnya ke Iran.

Amerika Serikat memprotes penjualan armada lumba-lumba pembunuh itu ke Iran. Zhurid menanggapi protes AS melalui surat kabar Komsomolskaya Pravda:"bersiap pergi ke Alla, atau bahkan ke setan, sepanjang hewan-hewan saya akan Ok di sana."

"Saya tidak sanggup melihat hewan-hewan saya kelaparan... Kami kehabisan obat-obatan, yang harganya ribuan dollar, dan tidak ada lagi ikan atau makanan pengganti," ujar Zhurid seperti dikutip dari Mirror, 10 Januari 2020.

Sejak itu, menurut harian itu, Zhurid melanjutkan kerjanya melatih armada lumba-lumbanya di Iran. Lumba-lumba itu diperkirakan tetap kuat karena mereka mampu hidup selama 50 tahun.

 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus