Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Pemerintah Prancis Jatuh, Pertama Sejak 1962

Anggota parlemen oposisi Prancis menjatuhkan pemerintah pada Rabu, pertama sejak pemerintahan Georges Pompidou pada 1962.

5 Desember 2024 | 12.00 WIB

Pemimpin sayap kanan Perancis dan anggota parlemen Marine Le Pen, menyampaikan pidato dalam  mosi tidak percaya terhadap pemerintah Perancis yang diajukan oleh aliansi partai sayap kiri "Nouveau Front Populaire" (Front Populer Baru - NFP) dan partai sayap kanan Rassemblement National,di Majelis Nasional di Paris, Prancis, 4 Desember 2024. REUTERS/Sarah Meyssonnier
Perbesar
Pemimpin sayap kanan Perancis dan anggota parlemen Marine Le Pen, menyampaikan pidato dalam mosi tidak percaya terhadap pemerintah Perancis yang diajukan oleh aliansi partai sayap kiri "Nouveau Front Populaire" (Front Populer Baru - NFP) dan partai sayap kanan Rassemblement National,di Majelis Nasional di Paris, Prancis, 4 Desember 2024. REUTERS/Sarah Meyssonnier

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Anggota parlemen oposisi Prancis menjatuhkan pemerintah pada Rabu, yang membuat kekuatan ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa itu semakin terjerumus ke dalam krisis politik. Seperti dilansir Reuters, hal ini mengancam kapasitasnya untuk membuat undang-undang dan mengendalikan defisit anggaran yang besar.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Anggota parlemen sayap kanan dan kiri bergabung untuk mendukung mosi tidak percaya terhadap Perdana Menteri Michel Barnier dan pemerintahannya, dengan mayoritas 331 suara mendukung mosi tersebut.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Barnier diperkirakan akan segera mengajukan pengunduran dirinya dan pemerintahannya kepada Presiden Emmanuel Macron.

Tidak ada pemerintah Prancis yang kalah dalam mosi tidak percaya sejak Georges Pompidou pada 1962. Kali ini, Macron telah mengawali krisis dengan mengadakan pemilihan umum cepat pada Juni yang menghasilkan parlemen yang terpolarisasi.

Dengan kekuasaan presiden yang semakin berkurang, Prancis kini berisiko mengakhiri tahun tanpa pemerintahan yang stabil atau anggaran 2025. Meski begitu, konstitusi mengizinkan langkah-langkah khusus yang akan mencegah penutupan pemerintah seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Kekacauan politik Prancis akan semakin melemahkan Uni Eropa yang sudah terhuyung-huyung akibat runtuhnya pemerintahan koalisi Jerman, dan beberapa minggu sebelum Presiden terpilih AS Donald Trump kembali ke Gedung Putih.

Kaum kiri dan kanan menghukum Barnier karena memilih menggunakan kewenangan konstitusional khusus untuk memaksakan sebagian anggaran yang tidak populer. Hal ini sebagai upaya menghemat 60 miliar euro dalam upaya untuk mengecilkan defisit, melalui parlemen tanpa pemungutan suara akhir.

Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen mengatakan bahwa runtuhnya pemerintahan adalah "satu-satunya cara yang diberikan konstitusi kepada kita untuk melindungi Prancis dari anggaran yang berbahaya, tidak adil, dan menghukum."

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus