Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Keluarga Michael Schumacher telah mendapatkan kompensasi sebesar 200.000 euro (Rp 3,4 miliar) dari majalah Jerman Die Aktuelle yang menerbitkan 'wawancara' yang dihasilkan kecerdasan buatan atau AI dengan juara dunia Formula 1 tujuh kali itu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Seorang juru bicara keluarga Schumacher pada Rabu, 22 Mei 2024, mengkonfirmasi keputusan dari Pengadilan Perburuhan Munchen itu, tanpa memberikan komentar lebih lanjut. Editor majalah tersebut dipecat tahun lalu, dan Funke, yang menaungi media itu, meminta maaf kepada keluarga Schumacher.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Rincian penyelesaian tersebut terungkap dalam kasus ketenagakerjaan terpisah yang diajukan Anne Hoffmann, edito yang dipecat itu. Pengadilan memutuskan bahwa pemecatan itu tidak dapat dibenarkan, yang berarti bahwa publikasi tersebut juga harus membayar biaya penyelesaian, demikian dilaporkan oleh media Jerman UberMedia.
Schumacher adalah legenda F1 yang kini berusia 55 tahun. Mantan pembalap Ferrari itu tidak terlihat di depan umum sejak ia menderita cedera otak serius dalam kecelakaan ski saat liburan keluarga di Pegunungan Alpen Prancis pada Desember 2013.
Keluarga Schumacher menjaga privasi ketat mengenai kondisi pembalap F1 ini. Akses terbatas hanya pada orang-orang terdekatnya.
Die Aktuelle menjadikan Schumacher sebagai sampul depan pada bulan April 2023. Mereka membuat gambar Schumacher yang tersenyum dan judul yang menjanjikan 'Michael Schumacher, wawancara pertama'.
Kalimat di bawah judul itu menambahkan, "Kedengarannya sangat nyata" tetapi di dalam 'tanda kutip' tersebut terungkap bahwa itu dihasilkan oleh kecerdasan buatan.
Apa Isi Wawancara Itu?
Menurut media Inggris, The Sun, Die Aktuelle mengklaim pada bulan April lalu telah mendapatkan "wawancara eksklusif dunia" dengan pembalap Ferrari yang mengalami cedera parah itu. Dalam sebuah berita dua halaman, yang dipromosikan dengan foto Schumacher, mereka mengklaim bahwa juara F1 tujuh kali itu mengatakan "Hidup saya telah berubah total".
Mereka menjanjikan bahwa ini bukanlah cerita yang didasarkan pada "setengah kalimat dari teman", melainkan "wawancara luar biasa" dengan sang bintang F1 dengan "jawaban yang menebus pertanyaan-pertanyaan yang telah lama ditanyakan oleh seluruh dunia."
Sisa artikel ditulis dalam bentuk tanya jawab, dengan chatbot AI yang dirancang untuk meniru para selebritis yang membuat jawaban yang seharusnya diberikan oleh Michael. Bot tersebut bahkan berbicara tentang kondisi fisik, keluarga, dan prospek pemulihan mantan pembalap itu di masa depan.
Artikel yang dipelintir itu berjudul "Hidup saya benar-benar berubah," dimulai dengan: "Kesempatan untuk berbicara dengannya sekali. Untuk menanyakan kabarnya."
Die Aktuelle hanya mengakui bahwa kutipan tersebut, yang menggunakan detail grafis untuk menggambarkan cederanya, ditulis oleh chatbot dalam sebuah catatan di halaman dalam.
Selanjutnya: Cerminan bahaya AI
Bahaya AI
The Sun juga menampilkan komentar Lisa Palmer, seorang analis dan pakar AI, untuk mengulas kasus tersebut. Sang Pakar menggarisbawahi betapa berbahayanya bot digital dalam situasi seperti ini. Ia menyebut bot AI dapat digunakan dengan cara yang semakin menakutkan dan berbahaya.
Dia memperingatkan konten seperti wawancara palsu yang dibuat oleh AI akan menjadi semakin umum seiring dengan perkembangan teknologi dan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang "jahat".
"Tuntutan hukum sudah menunggu untuk pencemaran nama baik karena 'kebohongan' yang diabadikan oleh alat AI generatif seperti ChatGPT," katanya.
Apakah hal seperti akan kita lihat lebih banyak di masa depan? Lisa Palmer menjawab, "Ya, kebohongan dalam berbagai bentuk - tulisan, suara, dan video - semuanya meledak."
Penyajian berita bohong berbasis AI, diibaratkan Lisa Palmer dengan menyajikan makanan busuk. "Seorang koki yang menyajikan makanan busuk adalah tindakan yang tidak etis dan membahayakan kesehatan pelanggan. Makanan busuk dapat menyebabkan penyakit. Pemberitaan yang busuk menyebabkan penyakit masyarakat."
REUTERS | THE SUN