Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Kateter urine dipasang di tubuh untuk mengalirkan air seni dari kandung kemih. Mengutip laman NHS Inform, kateter ini digunakan orang yang kesulitan buang air kecil. Kateter urine juga berguna untuk mengatasi masalah jaringan perut atau pembesaran prostat untuk melepaskan air seni.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Orang yang mengalami kandung kemih lemah yang mempengaruhi kemampuan buang air kecil juga membutuhkan kateter urine. Selain kegunaan meringankan atau mengatasi gangguan buang air kecil. Pemasangan kateter juga rentan menimbulkan risiko kesehatan.
Risiko kateter urine
- Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih akibat penggunaan kateter merupakan salah satu risiko yang mempengaruhi pasien di rumah sakit. Risiko ini terutama untuk pasien yang menggunakan kateter menetap. Mengutip National Health Service UK, masalah penggunaan kateter ditandai nyeri di perut bagian bawah atau pangkal paha.
- Kebocoran kateter
Kebocoran kateter terjadi akibat kejang kandung kemih atau buang air besar. Kondisi lainnya indikasi kateter tersumbat. Jika kateter tersumbat, kemungkinan terdapat gumpalan darah atau puing-puing dalam saluran,
- Kejang kandung kemih
Mengutip WebMD, kejang kandung kemih bisa terjadi jika ada dorongan tekanan keluar kateter.
- Batu kandung kemih
Merujuk Healthline, batu kandung kemih rentan dialami pasien yang mengalami akibat infeksi penggunaan kateter. Ini khususnya kateter menetap. Kondisi itu menyebabkan pengkristalan mineral sisa urine di kandung kemih.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Batu kandung kemih menimbulkan gejala sering buang air kecil, terutama malam hari. Kondisi lainnya sakit perut bagian bawah, sensasi panas atau nyeri di uretra saat buang air kecil, urine berdarah atau keruh, ketakmampuan untuk mengontrol buang air kecil.
- Septikemia
Septikemia terjadi akibat adanya infeksi saluran kemih, ginjal, atau di bagian perut, dan pneumonia. Bakteri dari salah satu infeksi itu bisa memasuki aliran darah dan berkembang biak.
DELFI ANA HARAHAP
Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.