Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - Rinaldy Yunardi memenangkan tiga penghargaan di ajang World of WearableArt (WOW) Awards 2019 yang diselenggarakan di Wellington, New Zealand, pekan lalu. Karyanya, The Lady Warrior, meraih Supreme WOW Award, Avant-Garde Section Award, dan International Design Award: Asia.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
The Lady Warrior berwujud baju zirah keemasan. Karya ini terinspirasi oleh perempuan yang menurut Rinaldy merupakan pejuang paling tangguh. Rinaldy menggambarkan perempuan memiliki kekuatan dalam diri yang dimiliki seorang anak perempuan, istri dan ibu.
Aksesori itu dibuat dari berbagai macam bahan untuk merepresentasikan elemen-elemen berbeda. Ia menggunakan kertas daur ulang yang dibuat menjadi tali dan kemudian ditenun erat.
"Ini merupakan simbol kemanusiaan dan kekuatan dalam diri yang dibangun dari pengalaman perempuan – mereka dilahirkan sebagai sosok yang rentan tapi pengalaman hidup mereka membuatnya kuat," kata Rinaldy dalam keterangan pers yang diterima Kamis, 3 Oktober 2019.The Lady Warrior karya Rinaldy Yunardi (Istimewa).
Unsur-unsur logam yang dihiasi dengan motif-motif rumit mencerminkan pilihan-pilihan perhiasan yang dianggap cocok untuk kepribadian wanita yang halus dan indah. Itu melambangkan keindahan dan kekuatan feminin.
Dalam unggahan Instagram, Rinaldy mengatakan karya ini ia persembahkan untuk para wanita Indonesia dan dunia.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Pendiri World of WearableArt yang juga merupakan juri tetap kompetisi ini, Dame Suzie Moncrieff mengatakan The Lady Warrior merupakan metamorfosis luar biasa dari bahan organik yang rapuh menjadi sesuatu yang sangat indah.
"Dengan membangun keseimbangan dan bentuk yang sempurna, serta didukung dengan keahlian apik, The Lady Warrior menggambarkan harmoni antara kerapuhan yang memesona dan kekuatan yang halus. Para juri sangat menyukai penggunaan teknik tenun tradisional untuk membuat bahan yang sangat kontemporer," kata Dame Suzie.
Kompetisi wearable art dilaksanakan selama tiga minggu setiap tahunnya. Tahun ini terdapat 115 finalis yang menyuguhkan enam tantangan desain. Tiga tema tetap yang selalu dipakai setiap tahunnya adalah Aotearoa - sebutan suku Mori untuk New Zealand, Avant-garde yang berarti hal yang baru dan tidak biasa, serta terbuka (Open). Tiga tema lainnya adalah tema baru di 2019, yaitu mitos, transformasi, dan putih.