Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Christina Applegate, Selma Blair, dan John King adalah para pesohor yang menderita multiple sclerosis. Selain ketiga selebritas itu, hampir sejuta orang lainnya di Amerika Serikat didiagnosis mengalami penyakit autoimun ini, menurut National Multiple Sclerosis Society.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Apa itu multiple sclerosis? Kondisi yang juga disebut MS ini adalah penyakit kronis yang menyerang sistem saraf pusat atau sistem yang melibatkan otak, tulang belakang, dan rumah bagi saraf-saraf. "Kondisi ini merusak lemak pelindung yang melingkupi saraf dan merusak komunikasi antara sel-sel saraf," jelas Dr. Roumen Balabanov, spesialis saraf di Northwestern Memorial Hospital di Chicago, Amerika Serikat.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Penderita MS bisa mengalami berbagai gejala seperti gangguan penglihatan, kehilangan daya ingat, sulit bergerak, kejang otot, kesulitan berjalan, masalah keseimbangan, kelelahan, perubahan suasana hati, nyeri, kebas dan kesemutan pada tangan dan kaki.
Gejala sendiri bervariasi, tergantung lokasi peradangan dan kerusakan yang terjadi. MS bisa kambuh kapan saja dan gejala bisa semakin parah. Pada kondisi yang lebih parah, penderita membutuhkan perawatan suportif, jelas Balabanov.
Penyebab Multiple Sclerosis
Penyebab pasti masih belum diketahui, para ilmuwan percaya keturunan dan faktor lingkungan sangat berperan. MS tidak diturunkan secara langsung tapi lebih dari 200 gen telah dikaitkan sebagai pemicu risiko umum berkembangnya MS.
Selain lingkungan, Balabanov menyebut tiga faktor utama, yakni kekurangan vitamin D, merokok, dan infeksi virus seperti Epstein-Barr. Terpapar polusi udara atau zat kimia berbahaya juga bisa meningkatkan risiko terserang penyakit autoimun ini.
"Selain itu, obesitas dan gaya hidup tak sehat dapat berkontribusi pada penyakit ini," tutur Balabanov di USA Today edisi 26 Februari 2025.
Pengobatan MS
Meski tak ada pengobatan untuk MS, banyak jenis obat yang dapat mengurangi risiko dan gejala. "Para ilmuwan telah membuat kemajuan berarti pada beberapa dekade terakhir yang bisa berkembang menjadi pengobatan yang efektif," kata Balabanov.
Pengobatan yang dimaksud termasuk antobodi monoklonal yang bisa mengurangi risiko penyakit kambuh serta memperlambat perkembangan, jelas Balabanov. Julie Fiol dari National Multiple Sclerosis Society menjelaskan pengobatan tersebut tak bisa menyembuhkan atau memperbaiki kerusakan akibat MS tapi bisa mencegah risiko kerusakan lebih parah di masa datang dan mengurangi angka kekambuhan.