Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Perjalanan

Melestarikan Tenun Ikat Era Jayabaya di Jalanan Kediri

Desainer Didiet Maulana dan Priyo Oktaviano akan meramaikan Dhoho Street Fashion (DSF) untuk melestarikan kain tenun ikat era Jayabaya.

4 Desember 2019 | 21.06 WIB

Sesi pemotretan desain busana Dhoho Street Fashion 2018 di Goa Selomangleng dan Sentra Tenun Ikat Kota Kediri. Foto: Kediri Creative City Forum
Perbesar
Sesi pemotretan desain busana Dhoho Street Fashion 2018 di Goa Selomangleng dan Sentra Tenun Ikat Kota Kediri. Foto: Kediri Creative City Forum

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Kediri - Desainer Didiet Maulana dan Priyo Oktaviano bakal meramaikan event tahunan Dhoho Street Fashion (DSF) kelima di Kediri. Ia direncanakan berkolaborasi dengan perancang Kediri Samira M. Bafagih, mereka membangun kembali kejayaan Raja Jayabaya melalui tenun ikat.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Dhoho Street Fashion 2019 yang digelar Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kediri besok, Kamis 5 Desember 2019, di Hutan Joyoboyo tak sekedar menampilkan fashion show.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

“Perlu narator agar sejarah tak terjarah oleh zaman yang kian cepat berubah. Dhoho Street Fashion (DSF) merupakan salah satu wujud cara menarasikan sejarah Kota Kediri, tepatnya pemerintahan Raja Jayabaya,” kata Ferry Silviana Abu Bakar, Ketua Dekranasda Kota Kediri kepada TEMPO, Rabu, 4 Desember 2019.

Raja Jayabaya memerintah kerajaan Kadiri pada tahun 1135 – 1157 M. Pada masa inilah slogan yang terkenal Panjalu Jayati atau Kadiri Menang tertuliskan pada Prasasti Hantang. Prasasti ini sebagai penanda kembalinya Jenggala menjadi bagian dari Kerajaan Kadiri.

Pekerja menyelesaikan kain Tenun Ikat khas Kediri menggunakan alat tenun di Kelurahan Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur, 13 Desember 2018. Tenun ikat merupakan kain khas Kota Kediri. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Sebagai catatan, Panjalu dan Jenggala merupakan wilayah pecahan Kerajaan Kahuripan yang saling berebut kekuasaan pasca mangkatnya Raja Airlangga. Selain itu, Jayabaya memberikan warisan berupa ramalan yang terkenal dengan sebutan Jangka Jayabaya. Ramalan-ramalan itu kerap menjadi wacana kekinian.

Kisah-kisah itulah yang diajukan oleh Dekranasda Kota Kediri, untuk diinterpretasikan kepada para desainer yang akan tampil pada The 5th Dhoho Street Fashion (DSF), dengan tema Pride of Jayabaya.

DSF merupakan upaya dari Dekranasda Kota Kediri untuk mempromosikan tenun ikat kediri ke kancah nasional hingga internasional. Sejak tahun 2015, DSF digelar dengan melibatkan desainer nasional dan desainer lokal untuk membuat outfit yang inspiratif.

“Memberi inspirasi bagi masyarakat bahwa tenun bisa disajikan dalam busana yang beragam, tak hanya formal tapi juga kasual, baik laki-laki maupun perempuan” kata Ferry Silviana.

Pekerja mewarnai benang sebelum diolah menjadi kain Tenun Ikat khas Kediri di Kelurahan Bandar Kidul, Kediri, Jawa Timur, 13 Desember 2018. Dalam sejarahnya, tenun ikat sudah ada sebelum Indonesia merdeka atau pada masa pemerintahan Kerajaan Kediri sekitar abad 11-13. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Event-event seperti ini, menurut Ferry, diharapkan mampu meningkatkan penggunaan material tenun ikat Kediri. Sehingga akan menumbuhkan pasar kain tenun ikat kediri yang diproduksi para perajin tenun di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto. Di sisi lain, penenun muda akan tertarik untuk melanjutkan produksi kekayaan wastra Kota Kediri ini.

Tahun ini, Dekranasda Kota Kediri mengundang tiga perancang busana bereputasi nasional untuk tampil di DSF, yaitu Priyo Oktaviano, Didiet Maulana, dan Samira M. Bafagih. Selain mereka, DSF juga akan memberikan kesempatan kepada desainer lokal dan peserta didik SMK Negeri 3 Kediri untuk menampilkan empat outfit.

Desainer Priyo Oktaviano mengaku bangga bisa berkontribusi dalam gelaran DSF 2019. Mengusung konsep Neon Future Kediri, Priyo Oktaviano akan menampilkan karya dengan gaya yang berani namun tetap elegan. Rancangannya menggunakan warna-warna kontras dari kain tradisional tenun ikat tenun kediri.

 “Saya mencoba memberikan satu influence untuk anak muda kota Kediri agar berani berpakaian dengan motif tenun lokal Kediri yang bisa di-mix and match sehingga menjadi casual, fun, young, dan modern looks yang tidak meninggalkan khasanah budaya lokal,” kata pemilik brand Spous by Priyo.

Rancangan-rancangan tersebut akan dipamerkan di Hutan Joyoboyo yang merupakan salah satu ruang terbuka hijau di pusat Kota Kediri. Sebelumnya, area hutan ini kurang terurus dan sangat lekat dengan kesan negatif. Dalam melakukan revitalisasi, Pemerintah Kota Kediri menggandeng Yu Sing, pendiri firma arsitektur Studio Akanoma yang sangat perhatian dengan isu-isu lingkungan hidup.

Kerajinan tenun ikat Kediri sendiri pada awalnya dikerjakan secara tradisional dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di era 1900-an. Jejak historis keberadaan wastra lokal ini tersimpan sebagai koleksi di Tropenmuseum Amsterdam, Kerajaan Belanda.

Setelah sempat mengalami keterpurukan, kebangkitan tenun ikat Kediri terjadi pada tahun 1950-an. Saat itu pengusaha keturunan Tioanghoa dan Arab, mendirikan usaha tenun dengan ATBM. Kemudian sempat menurun ketika diterpa badai politik pada tahun 1965. Banyak pengusaha tenun gulung tikar hingga tinggal beberapa yang bertahan.

Koleksi busana dari bahan tenun Kediri karya Didiet Maulana yang ditampilkan di acara Dhoho Street Fashion 2018 di Taman Sekartaji Kota Kediri. Istimewa 

Tahun 2016, Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengeluarkan Peraturan Wali Kota Kediri, yang mengintrusikan seluruh ASN Kota Kediri mengenakan pakaian kerja berbahan tenun ikat Kediri tiap hari Kamis. Dari sanalah permintaan terhadap tenun ikat Kediri meningkat signifikan.

Hari Tri Wasono

 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus