Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Gunung Fuji sejak dulu menjadi destinasi populer bagi para fotografer yang mengunjungi Jepang. Ada beberapa titik populer di Jepang tempat favorit mereka karena bisa memotret keindahan gunung tersebut dengan sempurna. Salah satu titik pandang gunung berapi ini adalah sebuah toko serba ada Lawson di kota Kawaguchiko, tidak jauh dari stasiun yang memiliki nama sama dengan area tersebut. Namun, titik pandang itu kini ditutup.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dalam beberapa tahun terakhir, gerai Lawson itu semakin populer dan dikunjungi oleh banyak sekali pelancong. Mereka mengambil foto etalase toko tersebut, di mana fasad toko serba ada yang berwarna biru modern kontras dengan Gunung Fuji.
Pengunjung tak bisa dikendalikan
Makin lama, pengunjung tak bisa lagi dikendalikan. Ini membuat kawasan itu terganggu. Pengunjung membuang sampah sembarangan, jalur pejalan kaki terhambat, dan parkir tanpa izin berkembang. Semua ini demi menghasilkan foto estetik keajaiban puncak tertinggi di Jepang itu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sebuah klinik gigi di seberang toko serba ada itu mengaku sangat terganggu oleh orang-orang yang memblokir pintu masuk klinik untuk mencari pemandangan terbaik. Dilaporkan bahwa beberapa orang bahkan naik ke atap klinik untuk mendapatkan gambar terbaik.
Menurut Asahi Shimbun, rambu-rambu dalam berbagai bahasa dipasang untuk memperingatkan masyarakat terhadap perilaku berbahaya seperti menyeberang jalan dan menimbulkan risiko bagi pengendara. Meskipun demikian, itu tidak membuat perilaku pengunjung jadi lebih baik. Akhirnya, tindakan lebih ekstrim diambil untuk mengurangi kerumunan massa.
Pemandangan ditutup dinding
Pada 30 April, kota tersebut mulai memasang dinding di seberang toko serba ada, berukuran tinggi sekitar 2,5 meter dan lebar 20 meter. Langkah ini diharapkan bisa mencegah orang berkumpul di seberang jalan untuk berfoto dan mengganggu klinik gigi dan bisnis di sekitarnya.
Asahi Shimbun juga melaporkan bahwa enam pagar besi selebar tiga meter akan dipasang di sepanjang jalan untuk menghentikan orang-orang yang menyeberang jalan. Konstruksi penghalang tersebut diperkirakan akan selesai pada 2 Mei.
Ini adalah salah satu dampak pariwisata berlebihan atau overtourism di Jepang setahun belakangan ini. Sejak dibuka kembali pada Oktober 2022 setelah pandemi, Jepang mengalami lonjakan kunjungan wisata. Tahun ini kunjungan wisata bertambah karena didukung dengan nilai yen yang turun.
Jepang telah membuat beberapa langkah untuk mengatasi overtourism. Setelah membatasi jumlah pengunjung dan memberlakukan tiket masuk ke Gunung Fuji mulai musim panas tahun ini, Jepang juga menutup jalan distrik Geisha di Kyoto. Turis disarankan menjelajahi tempat-tempat lain di negara tersebut.