Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Angkasa Pura II Menggandeng Kampus Memasuki Era Industri 4.0

Kampus, menurut Awal, perlu memutakhirkan kurikulum industri karena kurikulum perguruan tinggi yang berlaku saat ini belum menjawab tantangan global.

6 Maret 2019 | 05.55 WIB

Kuliah umum AP II di Unpad
Perbesar
Kuliah umum AP II di Unpad

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

INFO NASIONAL—Industri kebandaraan, seperti halnya industri-industri lain di Indonesia, memasuki era industri generasi keempat atau industri 4.0. Banyak perubahan terjadi dengan beralihnya sumber daya dari yang selama ini didominasi manusia ke pemanfaatan teknologi.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Industri harus pintar-pintar menggabungkan antara konsep-konsep berbasis fisik dengan nonfisik atau teknologi tadi. Korporasi juga mesti mendesain ulang organisasinya agar sesuai dengan kondisi penyinergian itu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Pertanyaannya, siapkah kampus atau perguruan tinggi dengan tri dharmanya menghadapi tantangan-tantangan industri 4.0? Mampukah melahirkan talenta atau SDM berkualifikasi sesuai dengan kebutuhan industri? Bagaimana lembaga-lembaga penelitiannya bisa bekerja sama dengan industri untuk melahirkan teknologi-teknologi pendukung perindustrian?.

PT Angkasa Pura II (Persero) adalah salah satu BUMN yang sudah cukup lama menggandeng perguruan tinggi untuk terlibat dalam hal pengembangan teknologi, manajemen, bisnis, maupun layanan dan operasionalnya. Dalam kuliah umumnya bertajuk “Campus-Industry Partnership in the Industry 4.0” di Bale Sawala, Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Senin, 4 Maret 2019, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin mengingatkan kembali kritik Presiden Joko Widodo terhadap kampus dengan keterbatasan konsep-konsep kekiniannya.

“Saya rasa bagus sekali (kritik itu) karena memang kalau kita lihat, Fakultas Ekonomi misalnya, dari dulu sejak saya kuliah, Studi Pembangunan, Manajemen, dan Akuntansi. Kalau kritiknya harus beradaptasi dengan industri 4.0, saya rasa yang harus didorong adalah Digital Business,” katanya.

Memasuki era industri generasi keempat, tri dharma universitas-universitas di Indonesia menghadapi banyak tantangan. Kampus, menurut Awal, perlu memutakhirkan kurikulum industri karena kurikulum perguruan tinggi yang berlaku saat ini belum menjawab tantangan global yang memerlukan sumber daya manusia yang unggul.

Dalam hal fasilitas dan teknologi, kondisi perangkat keras dan lunak di perguruan tinggi pun sudah tidak memadai untuk mendukung proses pendidikan dan penelitian demi terciptanya SDM yang berkualitas. Keluaran hasil penelitian yang dilakukan mahasiswa dalam tugas akhir juga tidak langsung dapat diaplikasikan di dunia industri.

Agar kampus dapat menyejajarkan langkah dengan perkembangan industri, khususnya industri kebandarudaraan, PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II meluncurkan Indonesia Airport Research Study Center.

“Kami menawarkan, apabila Unpad atau kampus-kampus lain berkenan, AP II bisa menjadi obyek riset atau obyek studi untuk kebandarudaraan karena use case-nya banyak. Anda mau cari use case di operasi bisa, di bisnis bisa, macam-macam. Tidak mesti ekonomi. Contohnya big data, bisa diambil opportunity-nya oleh mahasiswa Statistika,” kata Awal.

AP II memprioritaskan program ini untuk kampus-kampus top dalam negeri. Memang belum banyak yang merespons, sehingga dirinya merasa perlu terus mengingatkan.

“Mungkin mereka (kampus) belum terlalu familiar dengan situasi kebandarudaraan karena untuk beberapa pihak, industri kebandarudaraan masih dilihat seperti eksklusif. Kenapa? Karena industrinya kan masih monopoli. Kalau tidak ingin disebut dia tidak terlalu terbuka karena menurut undang-undang operatornya masih terbatas. Jadi menurut saya ini masih harus dipublikasikan ke masyarakat,” ucap Awal.

Kampus, menurut Awal, mungkin terbiasa dengan hal-hal rutin yang membuat sivitas akademika tidak terpicu atau tertantang untuk mencari topik-topik penelitian baru, sehingga lebih banyak meneruskan topik yang pernah ada. “Ganti variabel atau ganti judul, tapi kalau menurut saya, coba keluar dari zona nyaman penelitian yang lama, masuk ke topik baru. Kami terbuka,” ucap Awal.

AP II membutuhkan talenta-talenta di bidang hukum udara, digital business, environment economic atau lingkungan kebandarudaraan. Awal mencontohkan, mahasiswa bisa menjadikan Bandara Kertajati sebagai obyek riset, misalnya bagaimana menumbuhkan minat masyarakat di Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) untuk melihat bandara sebagai potensi keekonomian.

Selain Indonesia Airport Research Study Center, AP II juga membuka program Fast Track/Best Talent Recruitment dan Certified Internship Student Program, di mana mahasiswa yang mengikuti program magang di AP II tidak hanya digaji, tapi juga mendapatkan sertifikat.

Ada juga program Scholarship for Final Study of Airport Management/Business/Service and Operation. Dalam program ini, AP II membiayai penelitian mahasiswa dalam tugas akhirnya. “Ini salah satu yang baru yang kami dorong, mudah-mudahan direspons, tapi syaratnya satu, dia memilih tugas akhirnya tentang studi kebandarudaraan,” kata awal.

Beasiswa tugas akhir ini tidak hanya terbuka bagi mahasiwa S1, melainkan juga S2 dan S3. (*)

Abdul Jalal

Abdul Jalal

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus