Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Dubes Swiss Sarankan WNI Tak Ikut Tren Kabur Aja Dulu: Banyak Peluang di Indonesia

Dubes Swiss merespons tren #KaburAjaDulu yang ramai di media sosial. Ia meminta WNI tetap di Indonesia karena banyak peluang kerja.

27 Februari 2025 | 20.00 WIB

Bendera Swiss terlihat saat matahari terbit di Distrik Komersial dan Keuangan di Jenewa, Swiss, 23 November 2017. [REUTERS / Denis Balibouse]
material-symbols:fullscreenPerbesar
Bendera Swiss terlihat saat matahari terbit di Distrik Komersial dan Keuangan di Jenewa, Swiss, 23 November 2017. [REUTERS / Denis Balibouse]

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Olivier Zehnder, angkat bicara soal tren kabur aja dulu yang viral di media sosial. Fenomena itu merupakan seruan warga negara Indonesia (WNI) untuk mencari pekerjaan dan hidup di luar negeri.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Zehnder menilai bahwa pemuda Indonesia masih memiliki banyak kesempatan untuk bekerja di dalam negeri. Dia mendorong WNI bisa melanjutkan karir di Indonesia karena masih banyak peluang yang tersedia. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Saya menyarankan para pemuda Indonesia untuk berada di sini dan melakukan sebanyak mungkin untuk negara mereka," kata Zehnder saat menghadiri seminar bertajuk "Skills in Action Forum: Advancing Competitiveness" di Menara Danareksa, Jakarta Pusat, pada Kamis, 27 Februari 2025. 

Zehnder mengungkap bahwa jumlah WNI di Swiss masih terbilang sedikit. Dia juga menyampaikan bahwa melalui pembangunan ekonomi yang baik Indonesia mampu memberikan kesempatan kerja yang luas untuk warga negaranya. 

"Anda bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa Anda lakukan di tempat lain," ujarnya. 

Peluang Kerja di Taiwan

Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) Bruce Hung merespons tren Kabur Aja Dulu yang ramai di media sosial. Dia mengaku mengikuti fenomena yang mencerminkan keresahan warga negara Indonesia (WNI) itu.

"Mereka menginginkan kehidupan baru, saya tahu itu. Tentu saja, kami menyambut baik," kata Hung saat menggelar konferensi pers di kawasan Senayan, Jakarta, pada Jumat, 21 Februari 2025.

Meski memberikan tanggapan baik, Hung menegaskan pemerintah Taiwan menyerahkan keputusan ihwal perpindahan ke luar negeri kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia. Dia juga menyebut bahwa Taiwan membuka berbagai peluang. 

Hung mengatakan bahwa Taiwan memberikan kesempatan bagi WNI yang ingin melanjutkan studi atau bekerja di berbagai sektor. Indonesia, sambung dia, memiliki populasi anak muda yang banyak sehingga memiliki peluang di Taiwan. Hung juga mengingatkan Taiwan tetap memiliki persyaratan khusus. 

Hung mengungkap bahwa hingga saat ini ada sekitar 400 ribu WNI di Taiwan. Dia menilai angka itu sangat besar jika dibanding dengan populasi Taiwan yang hanya 23 juta penduduk. 

Hung juga membeberkan bahwa WNI di Taiwan bekerja hampir di semua sektor. "Baik itu layanan medis, manufaktur, atau konstruksi. Pokoknya semua sektor," tuturnya.

Kesempatan Kerja di Jepang

Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masaki Yasushi berharap lebih banyak pelajar Indonesia memilih kuliah di Jepang karena universitas-universitas di sana sudah mulai menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Masaki menyampaikan bahwa Jepang uga menerima pekerja terampil dari berbagai negara, terutama Indonesia. Dia memuji pekerja Indonesia sebagai sosok pekerja keras di bidang layanan medis, manufaktur, pertanian, perikanan dan jasa.

“Mereka sangat dihargai oleh orang Jepang. Jadi, misi saya adalah meningkatkan jumlah orang seperti itu,” kata Masaki di sela-sela perayaan ulang tahun Kaisar Jepang Naruhito ke-65 di Jakarta pada Kamis malam, 20 Februari 2025, dikutip dari Antara. 

Lebih lanjut, Masaki menuturkan selain bidang-bidang tadi, warga Indonesia juga bisa bekerja di sektor transportasi Jepang.

“Di bidang apa pun, saya rasa orang Indonesia diterima. Dan saya dengar, ada seorang sopir bus dari Indonesia; pertama di Jepang,” ucap Masaki.

Menuturkan Masaki, pekerja asing di Jepang masih diharuskan mengerti bahasa Jepang meski tidak harus fasih. Dia juga menegaskan bahwa masyarakat Jepang mengerti agama Islam dan menghormati budaya Islam. Karena itu, kata Masaki, orang-orang Jepang bisa menerima lebih banyak pekerja terampil dari Indonesia. 

Savero Aristia Wienanto

Savero Aristia Wienanto

Bergabung dengan Tempo sejak 2023, alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini menaruh minat dalam kajian hak asasi manusia, filsafat Barat, dan biologi evolusioner.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus