Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Seorang prajurit Israel yang menderita gangguan stres berat akibat perang di Gaza, dijatuhi hukuman 42 hari di penjara militer. Dilansir dari The Jerusalem Post, ahli kejiwaan memperingatkan bahwa kesehatan mental prajurit tersebut bakal memburuk karena dipenjara.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut laporan KAN dari Senin, prajurit tersebut diberhentikan dari ketentaraan karena masalah psikologis karena bertugas selama Perang Israel Hamas. Saat ditempatkan di Gaza, ia bertugas mengurus jenazah teman-temannya yang tewas saat perang. Hal ini membuatnya trauma.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Saat bertemu perwira kesehatan mental, prajurit tersebut kehilangan kendali dan melempar kursi yang mengenai perwira tersebut. Kejadian itu dianggap tidak seperti biasanya.
Meskipun kondisinya memburuk dan Kantor Pembela Umum Militer telah mengajukan banding berulang kali, prajurit itu tetap dijatuhi hukuman.
Menurut Kepala Pembela Umum Militer Kolonel Ofira Elkabets-Rothstein, prajurit itu tak semestinya dihukum. “Prajurit itu merasa sangat menyesal dan malu. Ia memahami beratnya tindakannya, tetapi dilakukan tanpa kemauannya karena krisis kesehatan mental,” kata Elkabets-Rothstein. “Mengingat keadaannya, akan lebih tepat untuk mengarahkannya ke rehabilitasi daripada dipenjara.”
Menurut Elkabets-Rothstein, banyak tentara Israel yang mengalami trauma setelah kembali dari Gaza. “Ini baru puncak gunung es. Cedera kesehatan mental di antara pasukan tempur memerlukan pendekatan hukum dan terapi yang sangat berbeda,” katanya.
Dikutip dari France 24, sejak perang dengan Hamas, puluhan tentara Israel telah bunuh diri. Hal ini menandai jumlah korban tertinggi dalam 13 tahun dan menimbulkan kekhawatiran tentang potensi krisis kesehatan mental di tentara.
Militer Israel atau IDF mencatat bahwa dalam dua tahun terakhir angka bunuh diri naik. Pada 2024 ada 21 kasus bunuh diri, naik dibandingkan 2023 sebanyak 17 kasus. Pada 2022, jumlah kasus bunuh diri mencapai 14 kasus dan 11 kasus pada 2021. IDF juga melaporkan bahwa ribuan tentara cadangan telah berhenti bertugas dalam tugas tempur karena tekanan mental.
Pilihan editor: Top 3 Dunia: Gempa Myanmar hingga Pertemuan Sugiono dengan Mantan Menlu