Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Mengenal Pemimpin Syiah Irak yang Ditemui Paus Fransiskus

Paus Fransiskus menggelar pertemuan dengan pemimpin Syiah Irak, Ali Al Sistani.

6 Maret 2021 | 14.33 WIB

Para pekerja berdiri di dekat poster Paus Fransiskus dan ulama Syiah Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, menjelang kunjungan Paus yang direncanakan ke Irak, di Najaf, Irak, 3 Maret 2021. Ini merupakan perjalanan pertama Paus Fransiskus ke luar negeri dalam kurun 15 bulan terakhir karena pandemi virus corona. Ini juga merupakan perjalanan kepausan pertama kali ke Irak. REUTERS/ Alaa Al-Marjani
Perbesar
Para pekerja berdiri di dekat poster Paus Fransiskus dan ulama Syiah Irak, Ayatollah Ali al-Sistani, menjelang kunjungan Paus yang direncanakan ke Irak, di Najaf, Irak, 3 Maret 2021. Ini merupakan perjalanan pertama Paus Fransiskus ke luar negeri dalam kurun 15 bulan terakhir karena pandemi virus corona. Ini juga merupakan perjalanan kepausan pertama kali ke Irak. REUTERS/ Alaa Al-Marjani

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, - Paus Fransiskus menggelar pertemuan dengan pemimpin Syiah Irak, Ali Al Sistani, dalam kunjungan ke negeri seribu satu malam itu. Pertemuan ini diyakini mengirim pesan agar rakyat Irak bisa hidup berdampingan apapun latar belakang suku atau agamanya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Sistani adalah salah satu tokoh terpenting dalam Islam Syiah, baik di Irak maupun di luar. Ia lahir pada 1930 di Iran lalu pindah ke Najaf pada 1950-an. Pada 1993, al-Sistani menggantikan Abu al-Qasim al-Khoei di Hawza Najaf sebagai pemimpin ulama senior Syiah.

Seperti diberitakan Reuters, Sistani memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap politik. Fatwanya mampu mendorong rakyat Irak menggelar pemilihan bebas untuk pertama kalinya pada 2005.

Sistani mampu mengumpulkan ratusan ribu orang untuk melawan ISIS pada 2014. Dia meminta semua warga Irak angkat senjata untuk membela negara, terlepas dari etnis atau agama mereka. Alhasil ribuan sukarelawan menanggapi seruan tersebut dan membentuk Pasukan Mobilisasi Populer yang memainkan peran penting dalam menghentikan ISIS.

Sebelumnya, saat pertempuran Najaf 2004 yang mempertemukan tentara AS dan Irak melawan tentara Mahdi, milisi Syiah Islam yang dipimpin oleh Muqtada al-Sadr pecah, Sistani sedang berada di London untuk berobat. Ia lalu memutuskan segera kembali ke Najaf dan menyerukan gencatan senjata

Selain itu, pada antara 2006-2007 saat Irak mengalami gelombang kekerasan sektarian, Sistani meminta warga agar tidak melakukan kekerasan dan mengutuk tindakan agresif yang menyerang dan memecah belah negara.

Di tengah pandemo Covid-19, Sistani juga memiliki peran besar di Irak. Ribuan rakyat Irak yang menuntut perubahan politik dan pemberantasan korupsi mengirim beberapa permohonan kepadanya. Massa yakin dialah satu-satunya yang dapat memahami permintaan mereka.

Meskipun usianya sudah lanjut dan kondisi kesehatan yang genting, al-Sistani masih dianggap sebagai faktor stabilitas di Irak. Sebabnya pertemuan antara Sistani dan Paus Fransiskus amat dinantikan.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus