Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Sekjen PBB Antonio Guterres menuntut agar 2.500 anak-anak di Gaza segera dievakuasi dari wilayah itu agar bisa mendapatkan perawatan kesehatan. Keputusan itu diambil Guterres setelah rapat dengan tim dokter dari Amerika Serikat yang menilai anak-anak di Gaza berisiko menghadapi kematian dalam beberapa pekan ke depan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tim dokter itu adalah empat dokter relawan yang sudah bertugas di Gaza selama 15 bulan perang Gaza berkecamuk. Perang Gaza telah membuat lebih dari 2 juta jiwa warga Gaza kehilangan tempat tinggal dan merusak sistem kesehatan di sana. Beberapa hari sebelum gencatan senjata dimulai pada 19 Januari 2025, WHO mengatakan lebih dari 12 ribu pasien menunggu di evakuasi dan berharap semua ini bisa dirampungkan selama gencatan senjata berlangsung.
Feroze Sidhwa dokter spesialis bedah trauma dari California yang bertugas di Gaza sejak 25 Maret sampai 8 April 2024, mengatakan di antara pasien yang dalam kondisi mendesak adalah 2.500 anak-anak.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Ada sekitar 2.500 anak-anak yang berisiko terhadap kematian dalam beberapa pekan ke depan. Beberapa dari jumlah anak-anak tersebut saat ini sekarat dan beberapa orang seperti akan meninggal dalam hitungan hari,” kata Sidhwa usai rapat dengan Guterres
Dia menceritakan ada seorang balita, 3 tahun mengalami luka bakar di salah satu lengannya. Luka bakarnya sudah sembuh, tapi luka yang menggores jaringan tisu perlahan memutus aliran darah di lengannya sehingga anaknya berisiko diamputasi.
Laporan UNICEF pada Rabu, 8 Januari 2025, mengungkap setidaknya 74 anak tewas di Jalur Gaza selama pekan pertama 2025 akibat serangan Israel. Serangan itu dilakukan pada malam hari di wilayah seperti Gaza City, Khan Younis, dan Al Mawasi, yang disebut sebagai “zona aman”, sehingga merenggut banyak nyawa anak-anak. UNICEF melaporkan serangan terbaru Israel menyebabkan lima anak dilaporkan tewas di Al Mawasi.
Menyoroti krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza, UNICEF mencatat lebih dari satu juta anak hidup di tenda darurat, dengan banyak keluarga yang telah mengungsi selama berbulan-bulan. "Sejak 26 Desember, delapan bayi dan balita dilaporkan meninggal akibat hipotermia, ancaman besar bagi anak-anak kecil yang tidak mampu mengatur suhu tubuh mereka," kata UNICEF.
Sumber: Reuters
Ikuti berita terkini dari Tempo.co di Google News, klik di sini