Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Demonstrasi aksi petani dan peternak yang marak pekan-pekan di Eropa dan benua lain ini telah menjadi sorotan di berbagai belahan dunia. Ribuan petani di negara Yunani, Prancis dan India misalnya, menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah dalam menangani berbagai isu yang mempengaruhi kehidupan dan mata pencaharian mereka.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Berikut adalah kisah aksi petani di tiga negara tersebut.
Yunani
Sebanyak 8.000 petani dan peternak Yunani bergabung dalam protes di Lapangan Syntagma pada Selasa, 20 Februari 2024. Mereka mengendarai traktor berwarna-warni melalui jalan-jalan ibu kota, mematikan lalu lintas, dan memarkir kendaraan mereka di luar Parlemen.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dikutip ddari Reuters, aksi ini memperlihatkan keadaan industri pertanian yang terdesak. Para petani menuntut perhatian atas kenaikan biaya dan pajak yang mengganggu, serta kompensasi atas kerugian yang diderita akibat bencana alam tahun lalu.
Pemerintah telah memberikan beberapa konsesi, termasuk diskon untuk tagihan listrik dan bahan bakar, namun tetap menyatakan bahwa keterbatasan anggaran tidak memungkinkan lebih banyak pendanaan.Para petani bersiap meninggalkan pusat kota, setelah bermalam di luar Parlemen untuk mendorong tindakan lebih lanjut oleh pemerintah sehubungan dengan tingginya biaya produksi, di Athena, Yunani, 21 Februari 2024. REUTERS/Louisa Goulimaki
Meski demikian, para petani bersikeras untuk tidak mundur dan bertekad untuk bertahan sampai tuntutan mereka terpenuhi. Pada Rabu, sebagian besar petani telah meninggalkan lapangan setelah semalam bermalam di sana, tetapi kekecewaan mereka terhadap kenaikan biaya produksi tetap menjadi sorotan utama dalam konflik ini.
Prancis
Para petani di Prancis mengekspresikan kekhawatiran mereka terhadap kondisi pertanian. Mereka mengajukan tuntutan untuk keadilan dalam demonstrasi yang berlangsung selama beberapa minggu.
Meskipun beberapa keluhan bervariasi, protes petani di Prancis dan negara-negara Eropa lainnya telah menyoroti ketegangan terkait dampak kebijakan Uni Eropa dalam perang melawan perubahan iklim dan pembukaan pintu untuk impor murah dari Ukraina untuk membantu upaya perang Kyiv.
Serikat petani telah menyuarakan keprihatinan atas kebijakan yang mereka anggap memiliki dampak negatif pada pertanian, termasuk birokrasi yang berlebihan, aturan lingkungan yang ketat, dan persaingan tidak seimbang dengan produk impor. Meskipun demikian, setelah berjanji pada 1 Februari untuk memberlakukan langkah-langkah baru, para petani di Prancis menangguhkan sebagian besar protes mereka.
Namun, mereka tetap menekankan bahwa pendapatan mereka masih belum mencukupi dan menuntut solusi lebih lanjut dari pemerintah. Beberapa serikat petani menyambut baik langkah-langkah yang diumumkan, sementara kelompok pro lingkungan masih merencanakan protes selama pameran pertanian.
India
Di India, petani menghadapi tekanan besar akibat kekurangan air untuk menanam padi dan gandum, sementara tanaman lainnya juga tidak memberikan penghasilan yang cukup. Salah satu Petani bernama Singh mengatakan bahwa tidak ada jaminan harga di pasar yang fluktuatif untuk tanaman lain. Ia mengaku telah menghabiskan lebih banyak uang untuk menanam tanaman lain tanpa penghasilan yang jelas.
“Sekarang, kami juga menghadapi kekurangan air bahkan untuk menanam dua tanaman ini (beras dan gandum). Kami berada dalam stres berat,” kata pria 47 tahun tersebut, sebagaimana dilansir dari Al Jazeera.
Di Haryana, pemerintah dikritik karena menggunakan drone untuk menjatuhkan bom gas air mata kepada para petani yang sedang berunjuk rasa. Kepolisian negara tersebut telah menutup perbatasan dengan blok semen berat, paku besi, dan kawat berduri.
Saat ini, pemerintah membeli padi dan gandum dari petani untuk distribusi publik, dan menawarkan harga pembelian minimum untuk biji-bijian ini. Namun, komoditas pertanian lainnya tidak mendapatkan perlindungan harga ini, yang mengakibatkan produksi berlebihan untuk padi dan gandum. Maka terjadilah aksi petani berdemo menuntut penanganan yang komprehensif pemerintah.