Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Internasional

Waspada Virus Corona, Lufthansa Batalkan 23 Ribu Penerbangan

Lufthansa membatalkan penerbangan jarak pendek, sedang dan jauh demi menekan penyebaran virus corona.

12 Maret 2020 | 06.00 WIB

Seorang penumpang berjalan di Bandara Frankfurt, Jerman, pada saat pilot Lufthansa melakukan mogok kerja, 29 November 2016. Sekitar 180.000 penumpang terkena dampat pemogokan pilot. REUTERS/Ralph Orlowski
Perbesar
Seorang penumpang berjalan di Bandara Frankfurt, Jerman, pada saat pilot Lufthansa melakukan mogok kerja, 29 November 2016. Sekitar 180.000 penumpang terkena dampat pemogokan pilot. REUTERS/Ralph Orlowski

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

TEMPO.CO, Jakarta - Maskapai terbesar asal Jerman, Lufthansa membatalkan 23 ribu penerbangan jarak dekat, sedang dan jarak jauh. Pembatalan dilakukan menyusul penyebaran virus corona atau COVID-19 yang meluas. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

Dikutip dari aa.com.tr, Lufthansa pada Rabu, 11 Maret 2020, mempublikasi pengurangan penerbangan yang dilakukan perusahaan penerbangan itu untuk periode 29 Maret – 24 April 2020. Lufthansa juga kemungkinan membatalkan beberapa penerbangan dalam beberapa pekan ke depan. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Dalam pembatalan itu, langkah kehati-hatian diambil guna memastikan seluruh wilayah tujuan di sebuah benua dapat dijangkau oleh Lufthansa Group melalui pusat-pusat lalu-lintas di Frankfrut, Munich, Zurich, Wina dan Brussels,” tulis Lufthansa dalam keterangannya.

Pesawat Lufthansa. REUTERS/Phil Noble

Virus corona diduga sumber penyebarannya dari Kota Wuhan, Cina, pada Desember 2019 lalu. Dampak wabah penyakit mematikan ini munculnya larangan dan pembatalan sektor penerbangan dunia. 

Data dari Universitas Johns Hopkins, sebuah sekolah bidang penelitian, lebih dari 121 ribu orang terjangkit virus corona di berbagai negara di dunia. Dari jumlah tersebut, 4.369 kasus COVID-19 berujung dengan kematian dan 66.234 orang sembuh.      

Data Universitas Johns Hopkins memperlihatkan kasus virus corona terbanyak di Cina dengan 81 ribu kasus pasien COVID-19, diikuti oleh Italia yang lebih dari 10 ribu pasien serta Iran dengan 9 ribu kasus virus corona terkonfirmasi.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus