Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Sleman - Rencana pemasangan kembali chattra Candi Borobudur atau payung stupa induk candi menuai pro-kontra para arkeolog. Sebagian dari mereka menyatakan setuju jika bangunan puncak tersebut dipasang kembali. Sebagian lagi menolak chattra tersebut dipasang kembali.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Perang argumen tersebut muncul dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Pemasangan Kembali Chattra Pada Stupa Induk Candi Borobudur" yang digelar di Hotel Alana, Yogyakarta, pada 2-3 Februari 2018. "Kalau iya, katakan iya. Kalau tidak, katakan tidak. Blak-blakan saja. Alasannya yang penting," kata Hari Widianto, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Meski rencana pemasangan kembali chattra adalah perintah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi, Hari memastikan pemerintah tidak akan ikut campur tentang kajian yang dilakukan para arkeolog. Hari mengatakan, Kementerian akan menyerahkan kepada ahlinya.
Dalam beberapa pernyataan, Hari mendorong agar chattra dipasang kembali. "Saya pemerintah, tapi juga arkeolog. Enggak bijak kalau tahu (chattra) bagian dari Borobudur, tapi dibiarkan saja," Hari berdalih.
Sementara berdasarkan hasil kajian tim yang dibentuk Kemendikbud dan Balai Konservasi Borobudur menyebutkan dari 13 lapis batu penyusun chattra hasil rekonstruksi Insinyur Belanda, Theodoor van Erp ada 50 buah batu penyusun strukturnya. Namun batu yang asli hanya 42 persen. Sisanya batu baru. Selain itu, tujuh dari 15 lapisan batu berlapis yang lama belum ditemukan.
"Cagar budaya itu enggak ada yang lengkap. Seperti puzzle saja. Pemugaran kan interpretatif," kata Hari.
Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Profesor Mundardjito mengingatkan agar dalam melakukan pemugaran mengacu pada etika pemugaran. "Kalau enggak lengkap, enggak tahu, jangan dilakukan," kata Mundardjito yang pernah terlibat dalam pemugaran Candi Borobudur.
Di sisi lain, banyak benda-benda cagar budaya masa lalu yang tidak ada dokumentasi rekamannya. Tidak heran keaslian bentuknya pun diragukan orisinalitasnya. "Jadi, bisa saja salah. Borobudur enggak pakai (chattra) tetap world heritage. Why not (kalau tidak dipasang)?" kata Mundardjito.
Kepala Balai Konservasi Borobudur Tri Hartono menambahkan, Candi Borobudur adalah bangunan cagar budaya yang dilindungi UU Nomer 11 Tahun 2010. Bahka pelesarian cagar budaya dilakukan berdasarkan hasil studi kelayakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis, dan administratif. "Kalau dipaksa memasang, tetapi malah merusak stupa candi, ada ancaman pidananya," kata Tri
Simak kabar terbaru tentang chattra Candi Borobudur hanya di kanal Tekno Tempo.co.