Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Cara Orang Tua Nono Mendidik Anaknya yang Raih Juara 1 Kompetisi Matematika Dunia

Dalam keseharian hidupnya, Nono yang meraih juara 1 kompetisi matematika dunia itu diajarkan disiplin oleh orang tuanya.

23 Januari 2023 | 14.20 WIB

Image of Tempo
Perbesar
Nono, siswa SD Inpres Buraen 2 Kupang, NTT meraih juara pertama dalam kompetisi matematika tingkat dunia. Doc: Istimewa

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Siswa Sekolah Dasar Negeri Inpres Buraen 2 di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Caesar Archangels HM Tnunay atau Nono berhasil meraih juara 1 olimpiade matematika dan sempoa tingkat dunia yang diselenggarakan Abacus World Internasional.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Nono merupakan bocah dengan tingkat kecerdasan di atas rata- rata karena mampu menghitung dengan cepat tanpa harus menggunakan alat hitung atau kalkulator. Meski berasal dari keluarga sederhana, Nono dapat membuktikan dirinya bisa meraih prestasi.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ayah Nono sehari-hari bekerja sebagai petani dan tukang bangunan. Sedangkan ibunya bekerja sebagai guru SD. Dalam keseharian hidupnya, Nono yang merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara ini sudah diajarkan disiplin oleh orang tuanya. Misalnya, seperti bangun pukul 5 pagi. Setelah itu dia belajar dan sarapan pagi.

"Lalu bersiap ke sekolah dan diawali dengan doa sebelum berangkat sekolah," ujar Nono kepada Tempo.

Ibunda Nono, Nurhayati Seran, mengatakan anaknya Nono sudah mulai terlihat kecerdasannya sejak kecil. Menurut dia, Nono mempunyai daya ingat yang kuat dan selalu bertanya tentang sesuatu hal yang ingin diketahui. "Dari kecil selalu bertanya ini dan itu. Dia akan selalu ingat," kata Nurhayati.

Ayah Nono, Rafli Meo Tnunay, mengisahkan, untuk mengikuti kompetisi matematika itu, Rafli selalu menyisihkan uang untuk membeli paket data internet agar kompetisi itu bisa terus diikuti dengan baik.  

Walaupun dirinya hanya sebagai tukang bangunan, namun ia tetap berjuang untuk menyekolahkan anaknya. Dia pun bangga dengan keberhasilan Nono. "Kami selalu sisihkan uang untuk pulsa Nono selama mengikuti lomba itu, hingga akhirnya berhasil menjadi juara," kata Rafli.

Keberhasilan Nono ini tidak saja menjadi kebanggaan bagi kedua orang tuanya, tapi juga menjadi kebanggaan guru-guru dan teman-temannya. Nono mendapatkan sambutan meriah oleh guru dan teman-temannya.

Kepala Sekolah SD Inpres Buraen 2, Petrus Kase, mengatakan sehari-hari Nono merupakan anak yang cerdas dan baik. Dia sekolah, kata dia, Nono kerap mengajarkan teman-temannya yang kesulitan memahami soal berhitung. "Kecerdasan Nono tidak saja untuk dirinya, tapi dibagi-bagi ke teman-teman di sekolah," katanya

Adapun Nono bercita-cita menjadi seperti Elon Musk. "Saya bercita-cita ingin menjadi seperti Elon Musk, kerena mampu menciptakan pesawat tercepat dan mobil listrik tercepat," kata Nono.

Meskipun berasal dari wilayah yang tergolong dalam daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), namun tidak menjadi kendala bagi Nono untuk berjuang meraih juara 1 mengalahkan 7.000 peserta siswa dari seluruh dunia. 

Dalam kompetisi tingkat dunia Abacus Brain Gym 2022, Nono merupakan putra asal NTT yang pertama membawa Indonesia meraih peringkat pertama dalam sejarah berdirinya kompetisi tingkat dunia Abacus Brain Gym sejak 2003 silam.

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus