Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Bandung-Fenomena embun es atau bun upas di Dieng dilaporkan terjadi pada 18 Mei lalu. Kejadian ini lebih cepat dari biasanya yang kerap terjadi pada pertengahan tahun saat musim kemarau. “Untuk kejadian pada tahun ini memang lebih cepat dibanding pada 2018 dan kebiasaannya pada Juli- Agustus,” kata Iis Widya Harmoko, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Semarang.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca: Proyek Listrik Panas Bumi Dieng dan Patuha Resmi Dimulai
Pada 2018, embus es mulai muncul pada Juni hingga Juli. Setelah kejadian Mei itu, menurutnya sampai akhir bulan ini tidak muncul lagi laporan embun es di dataran tinggi Dieng. “Kalau anomali mungkin bisa dikatakan begitu, karena memang biasanya terjadi di puncak musim kemarau Juli-Agustus,” ujarnya Kamis, 30 Mei 2019.
Adapun berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di daerah Dieng dan sekitarnya pada 2019 ini mundur 1-2 dasarian atau 10-20 hari dibandingkan rata-rata musim kemarau biasanya. “Awal musim kemaraunya diprakirakan akan masuk pada awal Juni,” ujar Iis.
Desa Dieng di dataran tinggi Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, memiliki ketinggian rata-rata sekitar 2000 meter di atas permukaan laut. BMKG pernah mencatat di daerah Tambi, sebuah desa tetangga Dieng yang berketinggian 1406 mdpl, pada 15 Mei 2019 malam hari suhu turun hingga kurang dari 15 derajat Celcius.
Kondisi itu berlangsung hingga 17 Mei pagi. Dengan laju penurunan suhu udara terhadap ketinggian yaitu 1 derajat Celcius per 100 meter, maka suhu udara di dataran tinggi Dieng pada waktu yang sama bisa mencapai kurang dari tujuh derajat Celcius. Pada 18 Mei dilaporkan turun embun es yang antara lain menempel di tanaman dan rerumputan.
Sebagai perbandingan dengan Dieng, gambaran kondisi suhu dan cuaca di Wonosobo, pada Jumat, 31 Mei 2019, prakiraan BMKG mencatat suhu bisa berkisar 22-31 derajat Celcius dengan cuaca cerah berawan saat pagi, berawan ketika siang, hujan ringan pada malam hari, dan berkabut waktu dini hari.
ANWAR SISWADI
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini