Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Dua dosen Universitas Islam Indonesia Yogyakarta membuat inovasi pengolahan limbah masker medis menjadi bio-oil.
Teknologi pengolahannya menggunakan teknik pirolisis.
Purwarupa alat masih dikembangkan dengan menambah kapasitasnya.
MASKER medis sekali pakai untuk melindungi diri dari penularan Covid-19 menimbulkan masalah lain, yaitu pencemaran lingkungan. Selain ada potensi penyebaran infeksi, jumlahnya membeludak sehingga fasilitas pengolahan tidak mampu mengolahnya. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagian limbah medis menumpuk di tempat pengolahan akhir di Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kerisauan atas dampak dari limbah masker medis itulah yang mendorong Arif Hidayat dan Fadilla Noor Rahma, dua dosen Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, membuat inovasi pengolahan limbah masker medis menjadi bahan bakar yang dinamakan bio-oil. Teknologi pengolahannya menggunakan teknik pirolisis.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Arif Hidayat menjelaskan ide itu bermula dari kegelisahannya saat melihat banyak sampah popok bayi sekali pakai. Ia mencari inovasi agar limbah itu bisa diolah sehingga tidak mencemari lingkungan. “Saat pandemi datang, saya alihkan ke limbah masker medis,” kata doktor teknik kimia dari Universitas Gadjah Mada ini, Kamis, 19 Agustus lalu. Popok bayi dan masker mengandung polimer sehingga sulit terurai secara alami.
Pembuatan inovasi ini, yang melibatkan mahasiswa, dilakukan sejak Desember 2020. Untuk kebutuhan inovasi, limbah masker diambil dari rumah tangga dan kampus. Dalam satu bulan, mahasiswa mengumpulkan dua-tiga dus masker. Tabung pirolisis pengolah limbah dirakit sendiri dengan biaya Rp 3-4 juta. Untuk pembuatan rangkaian pendingin berkapasitas 5-10 liter, biayanya Rp 5-6 juta.
Sebelum pengolahan dimulai, limbah masker dibersihkan dengan cairan disinfektan untuk menghilangkan virus. Setelah itu, masker dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke tabung pirolisis. Reaktor bekerja dengan energi panas untuk mengubah struktur kimia dalam masker menjadi bio-oil.
Untuk inovasi ini, suhu pemanasan di atas 250 derajat Celsius. Polimer yang terbakar lantas membentuk uap atau gas. Setelah itu, terjadi proses kondensasi yang mengubah bentuknya menjadi senyawa hidrokarbon berupa bio-oil alias minyak pirolisis. Bio-oil merupakan minyak sintetis yang berpotensi menggantikan minyak bumi.
Alat pengolah limbah medis yang sudah selesai dibuat saat ini baru berskala laboratorium dengan kapasitas 5-10 liter bio-oil. Satu kilogram limbah masker medis bisa menghasilkan setengah liter bio-oil. Arif dan timnya saat ini mengembangkan purwarupa alat dengan menambah kapasitasnya. Ia masih mengukur jumlah energi listrik yang diperlukan dan desain alat.
Fadilla Noor Rahma mengatakan penelitian masih dalam tahap awal dan membutuhkan proses panjang. Saat ini mereka berfokus mencampur bahan baku untuk menghasilkan kualitas bio-oil yang lebih baik. Dalam pencampuran itu, mereka akan meneliti pengaruh suhu dalam produksi bio-oil. Dengan cara itu, kelak peneliti juga bisa menghitung produksinya. "Ekonomis atau tidak, harus ada hitungannya," tuturnya.
Fadilla dan Arif berharap Universitas Islam Indonesia bisa menjajaki kerja sama dengan industri untuk memanfaatkan hasil penelitian limbah medis ini. Menurut Fadilla, bio-oil sebagai energi terbarukan sangat potensial. Pasalnya, pengembangan energi terbarukan mulai diarahkan ke sumber-sumber bahan baku yang berasal dari limbah.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo