Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Erupsi Gunung Marapi Setinggi 1.500 Meter, Badan Geologi: Peningkatan Aktivitas Terdeteksi

Erupsi ini merupakan bagian dari dinamika pasokan fluida atau magma dari kedalaman tubuh Gunung Marapi.

5 April 2025 | 13.32 WIB

Gunung Marapi di Sumatera Barat mengalami erupsi pada Kamis, 3 April 2025, pukul 07.12 WIB. Tempo/Fachri Hamzah.
Perbesar
Gunung Marapi di Sumatera Barat mengalami erupsi pada Kamis, 3 April 2025, pukul 07.12 WIB. Tempo/Fachri Hamzah.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Gunung Marapi Sumatera Barat kembali mengalami erupsi sebanyak enam kali pada April 2025. Letusan paling besar di 2025 terjadi pada Kamis, 3 April 2025, dengan kolom abu terpantau membumbung setinggi 1.500 meter di atas puncak.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Erupsi ini merupakan bagian dari dinamika pasokan fluida atau magma dari kedalaman tubuh Gunung Marapi,” ujar Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid dalam keterangannya, Jumat, 4 April 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Gunung Marapi yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar itu memang dikenal aktif. Sejak tahun 1807 gunung ini telah beberapa kali meletus, dengan periode istirahat terpendek kurang dari satu tahun dan terlama hingga 17 tahun. Rata-rata gunung yang memiliki ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut ini mengalami erupsi setiap 3,5 tahun.

Menurut Wafid, tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik sudah terdeteksi sejak beberapa hari sebelum erupsi. "Pada 27 Maret tercatat empat kali gempa vulkanik dalam, dan pada 1 April tercatat 15 kali gempa vulkanik dangkal," katanya.

Letusan Marapi umumnya bersifat eksplosif dan berasal dari Kawah Verbeek. Selain abu dan lapili, letusan juga bisa disertai lontaran material pijar dan bom vulkanik. Fenomena ini berkaitan dengan proses buka-tutup ventilasi conduit akibat pengerasan lava di dasar kawah. Jika tekanan gas magmatik terakumulasi akibat ventilasi yang tertutup, maka letusan akan terjadi saat tekanan tersebut mencapai ambang kritis.

Saat ini data seismik menunjukkan adanya penurunan kecepatan dan koherensi, yang mengindikasikan peningkatan tekanan dan ketidakstabilan di tubuh gunung. “Potensi terjadinya letusan masih tetap ada dan bisa terjadi sewaktu-waktu,” ujar Wafid. Ia juga menegaskan bahwa area berbahaya berada dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek.

Meski demikian, berdasarkan hasil evaluasi data visual dan instrumental yang dilakukan secara menyeluruh, Badan Geologi menetapkan bahwa tingkat aktivitas Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada.

Badan Geologi mengimbau masyarakat serta pengunjung agar tidak memasuki area dalam radius 3 kilometer dari kawah. “Kami terus memantau perkembangan aktivitas gunung ini secara intensif,” kata Wafid.

 

 

Fachri Hamzah

Kontributor Tempo di Padang, Sumatera Barat

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus