Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Seni

Drama Cinta Burung Bulbul

Tiga ekor burung bulbul berkumpul dan saling bercerita tentang seorang mahasiswa yang sedang jatuh cinta namun terlihat galau.

2 April 2021 | 14.29 WIB

Pertunjukan teater drama musikal Bulbul di Bandung, Jawa Barat, pada awal April 2021. TEMPO | Anwar Siswadi
Perbesar
Pertunjukan teater drama musikal Bulbul di Bandung, Jawa Barat, pada awal April 2021. TEMPO | Anwar Siswadi

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Bandung - Tiga ekor burung bulbul berkumpul. Mereka saling bercerita tentang seorang mahasiswa yang sedang jatuh cinta namun terlihat galau. Pemuda itu ingin memberikan sekuntum mawar merah untuk gadis idamannya. Bersama mawar itu dia ingin mengajaknya berdansa di sebuah acara pesta. Tapi, tak ada setangkai pun mawar di kebunnya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dari pohon tempatnya bersarang, bulbul tergerak untuk mencarikan mawar bagi mahasiswa yang dinilainya sebagai pecinta sejati itu. Tubuhnya melayang-layang ke berbagi tempat, tapi mawar merah buruannya sulit didapat. Beberapa mawar yang dijumpainya berwarna kuning atau putih. Hingga di suatu tempat, bulbul menemuka tanaman mawar merah.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Namun kondisi musim menghalanginya untuk berbunga. Sang burung bersedia melakukan apa saja untuk membantu tanaman itu menghasilkan mawar. “Bul, bul, kau begitu polos namun penuh dengan cinta,” kata tanaman. Dia lantas memberitahu caranya agar bunga bisa tumbuh dengan cara yang sadis. Bulbul menyanggupi untuk menusukkan dadanya pada duri pohon mawar. Dia menukar nyawanya demi sekuntum bunga. “Aku akan melakukannya untuk cinta,” kata Bulbul. Tiupan terompet kematian mengakhiri kisah itu secara non-verbal.

 Pertunjukan teater drama musikal Bulbul memakai egrang setinggi 75 sentimeter. TEMPO | Anwar Siswadi

Drama Musikal Bulbul itu melibatkan tiga orang pemain yang semuanya perempuan muda. Mereka adalah Wina Rezky Agustina, Tazkia Hariny Nurfadlillah, dan Maudy Widitya. Berlatar penari, pemain teater, dan bisa bernyanyi, mereka menjadi burung bulbul dalam garapan teater terbaru dari kelompok Stage of Wawan Sofwan, Kamis, 1 April 2021 di Bandung. Arena panggungnya terhitung sempit, hanya sekitar 5-6 meter persegi di sudut teras belakang sebuah restoran. 

Sesuai perannya, para pemain memakai tudung berupa kepala burung dan kostum bersayap. Selama pertunjukan sekitar satu jam itu, mereka pun harus berdiri sambil menjaga keseimbangan tubuh. Sebab kaki mereka terikat dan bertumpu pada egrang setinggi 75 sentimeter. Kaki buatan dari bahan kayu itu dibentuk ramping seperti kaki burung. “Tadinya mau main di atas meja,” kata sutradara pementasan Wawan Sofwan di malam gladi resik, Rabu 31 Maret 2021.

Dia membuat sendiri purwarupa egrang itu hingga memakai empat jenis bahan, seperti kayu albasia, pinus, aluminium, dan besi. Agar lebih menghidupkan tokoh burung bulbul alias cucakrawa itu, Wawan mengemasnya sebagai drama musikal. Seperti karakter burung pengicau itu yang punya beberapa jenis suara, tim menyiapkan lima lagu berlirik yang langgamnya beragam, dari bercorak hip hop hingga tembang Sunda. Melibatkan penari Keni Soeriaatmadja sebagai produser, unsur tarian jaipong hingga kontemporer ikut mewarnai pertunjukan. 

Naskah drama itu berasal dari tulisan cerita pendek Sandra Fiona Long yang berjudul Bagaimana Burung Bulbul Begitu Polos Mencintai, atau Bagaimana Rasanya Membuat Karya Seni. Penulis dan dramawan di Melbourne, Australia itu mengadaptasi naskah dari cerita pendek Oscar Wilde yang berjudul The Nightingale and The Rose pada 1888. Dia menangkap inti ceritanya tentang cinta serta risiko pengorbanan, dan ada kesamaannya dengan proses kesenian. “Memberikan hati sepenuhnya dengan tanpa syarat, ada yang kembali atau tidak,” ujarnya lewat sambungan telepon, Senin 29 Maret 2021.

Dalam bayangan Sandra, cerita yang dirampungkannya pada April 2020 sejak dirancang Oktober 2019 itu akan dimainkan secara monolog. Seorang aktor memainkan beberapa karakter. Dia mengaku kaget dengan ide Wawan. “Heran lihat bentuknya tidak dibayangkan, ada tiga suara pemain,” katanya. Namun begitu Sandara mengaku senang dengan garapan rekannya di Mainteater itu. Rencananya dari Bandung, pementasan ini akan keliling beberapa kota dimulai dari Solo.

Menurut Wawan Sofwan, proses pementasan dirintis sejak Agustus 2020 dan mulai aktif tiga bulan setelahnya. Agar kaki pemain beradaptasi dengan egrang, ketinggiannya dibuat bertahap, dari 25, kemudian 50, hingga akhirnya 75 sentimeter. Walau begitu, insiden sempat terjadi ketika seorang pemain yang menjadi bulbul ini ada yang dua kali terjungkal. Tubuhnya ambruk ke depan juga ke belakang dengan ukuran egrang yang berbeda.

ANWAR SISWADI

Istiqomatul Hayati

Istiqomatul Hayati

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus