Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Film The Unbreakable Boy diangkat dari kisah nyata seorang ayah yang dikaruniai anak pengidap autisme serta osteogenesis imperfecta atau penyakit tulang rapuh dan mudah patah. Karya sutradara Jon Gunn ini diadaptasi dari buku autobiografi Scott LeRette berjudul The Unbreakable Boy: A Father’s Fear, a Son’s Courage, and a Story of Unconditional Love (2014).
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Berdurasi 109 menit, film ini ditulis langsung oleh Jon Gunn bersama Scott LeRette dan Susy Flory. Film dari Lionsgate ini tayang di bioskop Indonesia mulai Jumat, 28 Februari 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pilihan Editor: 5 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Nonton The Unbreakable Boy
Review The Unbreakable Boy
Kisah ini berfokus pada bagaimana orang tua Austin, Scott dan Teresa, berusaha memberikan kehidupan yang penuh kasih serta dukungan bagi sang mereka sambil mengatasi tantangan pribadi mereka sendiri. Film ini juga menceritakan bagaimana kehidupan yang sesungguhnya terjadi. Tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan, akan ada rintangan yang hadir. Namun film ini memberikan pembelajaran tentang kehidupan melalui seorang karakter yang mengidap autisme dan penyakit tulang rapuh.
Tokoh Austin yang dimainkan oleh Jacob Laval, memiliki karakter yang ceria dan selalu antusias akan menyambut hari esok. Namun Scott (Zachary Levi), selalu merasa menjadi ayah yang gagal karena kekurangan yang dimiliki anaknya. Rasa frustasi tersebut membuat Scott menjadi pecandu alkohol. Dalam film ini diceritakan bagaimana Scott dan Teresa (Meghann Fahy), berusaha untuk memperbaiki semuanya bersama-sama. Meski pertengkaran dan masalah ekonomi juga menimpa keluarganya, pada akhirnya mereka berhasil melewati tantangan dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Zachary Levi memainkan peranya sebagai Scott LeRette dengan baik, seorang ayah yang penuh kasih dan dedikasi. Levi berhasil menggambarkan kompleksitas emosi perjuangan ayah untuk memahami dan mendukung anaknya yang memiliki kebutuhan khusus. Meghann Fahy sebagai Teresa LeRette juga memberikan penampilan yang menyentuh hati sebagai ibu yang penuh kasih dan pengorbanan. Jacob Laval berhasil membawa karakter Austin dengan kehangatan dan keceriaan yang menular, meskipun menghadapi tantangan besar dalam hidupnya. Gavin Warren berperan dengan sangat baik sebagai adik Austin yang peduli dengan saudaranya.
Plot yang Datar Kurang Mengunggah Emosi
The Unbreakable Boy menjadi film yang menarik untuk ditonton bersama keluarga. Tidak hanya menyentuh sisi emosional penonton, tetapi film ini juga berhasil menyampaikan pesan tentang ketahanan dan kasih sayang keluarga.
Namun sayangnya, film ini menyajikan alur cerita yang cenderung datar dan kurang mengundang ketegangan. Kurang mendalam dalam mengeksplorasi dinamika keluarga dan dampak kondisi Austin terhadap anggota keluarga lainnya. Meskipun karakter-karakter dalam film ini menarik, perkembangan cerita yang stagnan sehingga membuat penonton merasa sulit untuk terhubung dengan emosi yang ingin disampaikan.
Setiap adegan tampak berjalan dengan klimaks yang kurang mengunggah emosi penonton, sehingga alur cerita terasa datar. Terkesan ringan dan tidak menantang, membuat film ini tidak mampu membangkitkan rasa penasaran atau ketegangan yang diharapkan dalam sebuah kisah dramatis.
Secara keseluruhan, The Unbreakable Boy cukup menghibur dan juga mengedukasi para penonton. Banyak pesan yang bisa diambil. Bagaimana perjuangan orang tua yang memiliki anak spesial, kesabaran serta ketangguhan, serta rasa sayang keluarga sebagai bentuk saling mengingatkan akan arti dari bersyukur.