Scroll ke bawah untuk membaca berita

Logo
Arsip

Menghadapi Tanjakan Emen, Begini Trik Sopir Bus Senior

Sebelum menghadapi medan berat seperti tanjakan Emen Suranto ataupun Dedi mengaku pihaknya selalu melakukan pengecekan rem, oli, dan tekanan angin.

11 Februari 2018 | 19.03 WIB

Supir PO Budiman, Dedi. TEMPO/Naufal Shafly
Perbesar
Supir PO Budiman, Dedi. TEMPO/Naufal Shafly

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

TEMPO.CO, Jakarta - Kecelakaan bus di Tanjakan Emen, Subang telah menelan korban tewas 26 orang dan puluhan korban luka-luka. Menurut supir bus PO Hasta Putra Utama, Suranto, perlu teknik dan skill dalam menghadapi jalur perbukitan yang penuh dengan kelokan dan turunan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo

Suranto melanjutkan jika bus melaju di kendaraan menurun, usahakan perseneling berada di gigi rendah, “Kalau turunan jangan pakai gigi tinggi, maksimal gigi tiga,” kata pria berusia 58 tahun tersebut kepada Tempo, Ahad 11 Februari 2018.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Menurutnya, penggunaan gigi tinggi akan menambah beban pada rem, sehingga rem akan semakin panas dan kemungkinan akan terbakar. “Kalo pakai gigi tinggi kan mobil berarti jalannya kencang, rem juga harus sering ditekan. Nah semakin ditekan maka akan semakin panas, lama lama bisa blong,” ujar Suranto yang sudah menjadi supir bus sejak 1990.

Baca: Tabrak Pesepeda, Dodge Journey Bertenaga Hingga 173 HP

Senada dengan Suranto, supir PO Budiman, Dedi juga memberikan pernyataan serupa. Menurutnya, penggunaan gigi tinggi akan membahayakan dan berpotensi menimbulkan kepanikan. “Kalau rem tiba-tiba blong dalam kondisi kecepatan tinggi itu biasanya banyak supir-supir yang panik,” kata Dedi yang sudah 20 tahun menjadi supir bus.

Suranto juga menjelaskan bahwa supir bus wajib bisa membaca kondisi bus yang mereka bawa melalui panel instrumen yang ada di dasbor kemudi. “Harus tau kalau ini (jarum penunjuk pada panel instrument) sudah di warna merah, itu tandanya kompresor rem atau kanvas rem sudah habis,” jelasnya.

Sebelumnya, kecelakaan maut menimpa bus pariwisata di Tanjakan Emen, Ciater, Kabupaten Subang, pada Jumat, 10 Februari 2018. Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Subang Ajun Komisaris Budhy Hendratno menuturkan kecelakaan itu bermula saat bus bernomor polisi F-7959-AA melaju dari arah Bandung menuju Subang.

Saat bus yang dikemudikan Amirudin itu melintasi jalan yang menurun dan berkelok, ternyata bus itu berjalan tidak terkendali, diduga lantaran remnya blong. "Bus itu pun menabrak sepeda motor Honda Beat bernomor polisi T-4382-MM," ujar Budhy.

Baca: Showroom Subaru Ini Tak Terjamah Manusia Selama Hampir 30 Tahun

Terkait dengan kondisi rem, baik Suranto ataupun Dedi mengaku pihaknya selalu melakukan pengecekan rem, oli, tekanan angin dan komponen kelistrikan pada busnya sebelum melakukan perjalanan.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini

Logo
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus