Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Semua jari tanganku sampai ada bekasnya untuk rapid test, padahal baru sebulan masuk Indonesia,” kata Nova Ruth Setyangingtyas, melalui sambungan telepon, 1 Oktober lalu. Musikus asal Malang, Jawa Timur, itu tertawa kecil. Tak semata karena mesti berkali-kali menjalani tes cepat pengujian Covid-19, tapi lantaran Nova selama beberapa bulan terakhir tinggal di lautan. Rumahnya adalah kapal sepanjang 18 meter bernama Arka Kinari, yang artinya bertahan hidup di dalam kapal. Bahtera berumur 73 tahun itulah yang membawanya pulang kampung ke Indonesia, setelah lebih dari setahun mengarungi samudra. “Aku tetap harus rapid test. Padahal di lautan kan sebenarnya enggak ketemu siapa-siapa kecuali ikan.”
Nova tak sedang bertamasya. Arka Kinari membawanya menjelajahi lautan sejak bertolak dari Pelabuhan Rotterdam, Belanda, 23 Agustus tahun lalu. Bersama Arka Kinari, musikus hip-hop itu menjalani mimpinya: menyebarluaskan pesan untuk menjaga bumi, bijaksana dengan sampah, dan mengasihi lautan. Misi itu dia rawat bersama sang suami yang musikus sekaligus komposer asal Amerika Serikat, Grey Filastine. Mereka disokong tim relawan yang ikut serta dalam pelayaran: Benjamin Blankenship, Claire Fausat, Sarah Payne, Titi Permata, I Made Bradley, dan Tommy Panjang.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo