Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
SEBUAH narasi beredar di Threads [arsip] yang menyatakan bahwa kerusuhan Mei 1998 di Indonesia tidak spesifik menyasar etnis Tionghoa. Dikatakan korban kekerasan saat itu 99 persen pribumi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Konten tersebut menyebut tidak ada hasil pemeriksaan forensik yang mendukung klaim banyak dari etnis Tionghoa yang menjadi korban di masa itu. Berikut narasi selengkapnya: “Kerusuhan Mei 1998 korban utamanya adalah 99% pribumi. Tidak ada korban spesifik etnis Tionghoa yg dapat ditelusuri otentisitas forensiknya. Jika ada pihak terus menerus framing menghubungkan rusuh Mei 98 sbg kekuatan rekayasa yg dikatakan untuk menargetkan (anti) etnis tertentu…”
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Namun, benarkah narasi yang mengatakan penyerangan dalam kerusuhan Mei 1998 tidak spesifik menyasar etnis Tionghoa?
PEMERIKSAAN FAKTA
Berdasarkan informasi terkonfirmasi yang didapatkan dari sumber terbuka di internet, terbukti bahwa korban-korban kerusuhan Mei 1998 banyak yang dari etnis Tionghoa. Mereka mengalami pemerkosaan, kekerasan, pembunuhan, serta pencurian dan perusakan harta benda.
Berikut sumber-sumber informasinya:
Laporan Resmi
Pada Juli 1998, pemerintah yang saat itu dipimpin Presiden BJ Habibie, membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada Juli 1998 untuk menyelidiki kerusuhan Mei.
Tim itu kemudian menghasilkan sekitar 100 lembar laporan berjudul “Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998,” yang dicetak dan diterbitkan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada November 1999.
Laporan TGPF menyatakan kerusuhan yang terjadi 13-15 Mei 1998 merupakan dampak dinamika sosial dan politik di periode sebelumnya. Pola kemunculan kerusuhan bervariasi mulai dari yang bersifat spontan, lokal, sporadis, hingga yang terencana dan terorganisir.
Tim itu mendefinisikan korban kerusuhan Mei 1998 sebagai orang-orang yang telah menderita secara fisik dan psikis karena kerugian fisik/material seperti rumah atau tempat usaha dirusak atau dibakar dan hartanya dijarah. Sejumlah korban meninggal dunia saat terjadinya kerusuhan karena berbagai sebab terbakar, tertembak, teraniaya dan lain-lain. Ada pula yang kehilangan pekerjaan, penganiayaan, penculikan dan kekerasan seksual.
Korban yang menderita kerugian material seperti penjarahan dan perusakan, paling banyak berasal dari etnis Cina. Sedangkan Korban kehilangan pekerjaan dari masyarakat biasa. Korban meninggal versi tim relawan mencapai 1.190 orang, sementara versi Polda dan Kodam Jakarta sekitar 600 orang.
Jumlah korban perkosaan di Jakarta dan sekitarnya, Medan, serta Surabaya adalah 52 orang. Namun jumlah itu belum mencakup semua korban yang belum terdata. Pola perkosaan yang mencolok dan beberapa kali terjadi adalah pelaku melakukan secara berkelompok dan bergantian pada satu korban (gang rape).
“Meskipun korban kekerasan tidak semuanya berasal dari etnis Cina, namun sebagian besar kasus kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 lalu diderita oleh perempuan etnis Cina. Korban kekerasan seksual ini pun bersifat lintas kelas sosial,” tulis laporan itu.
Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) mempublikasikan data bahwa pada tanggal 6 Mei 1998, kerusuhan di Medan, Sumatera Barat, meluas disertai sentimen rasial yang menyasar keturunan Tionghoa. Hal itu menyebabkan warga keturunan Tionghoa pergi menyelamatkan diri ke hotel-hotel di kawasan Danau Toba yang dijaga ketat oleh petugas keamanan.
Awal Mula Kerusuhan 1998
Dilansir Tempo, kerusuhan Mei 1998 didahului demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti, Jakarta Barat, yang menuntut diberlakukannya reformasi di tengah keresahan dan rasa frustasi masyarakat menghadapi krisis moneter 1997-1998.
Aksi demonstrasi yang awalnya damai itu berubah menjadi aksi kekerasan fisik di mana empat mahasiswa meninggal dunia karena tertembak atau ditembak. Hal itu meningkatkan kemarahan masyarakat pada Orde Baru yang kemudian menggelar aksi demonstrasi di berbagai daerah.
Kerusuhan pada tanggal 14 Mei 1998 mulai menyasar warga etnis Tionghoa. Toko-toko mereka dijarah, dirusak, dibakar, bahkan penghuninya turut tewas terbakar. Perempuan-perempuan Tionghoa diserang secara fisik dan seksual. Saat itu juga, beredar narasi bohong yang menyatakan etnis Tionghoa-lah penyebab krisis moneter yang diderita rakyat.
Satu dekade setelah kerusuhan 1998
Setelah 10 tahun berlalu, pada tahun 2008 Komnas Perempuan membentuk Tim Pelapor Khusus untuk mendokumentasikan pernyataan dari para korban perkosaan dalam kerusuhan Mei 1998 yang bersedia menceritakan kembali pengalaman pahit mereka, keluarga, dan para pendamping korban.
Para korban, keluarga, bahkan tenaga kesehatan yang merawat mereka, mendapat ancaman dan dipaksa untuk tidak membahas kekerasan yang mereka alami di depan publik. Hal itu menyebabkan mereka memutuskan terus bungkam.
Di sisi lain, pihak-pihak tertentu mempertanyakan kenapa mereka tidak lapor polisi, bahkan meragukan adanya kekerasan dalam kerusuhan Mei 1998. Hal ini semakin menyudutkan para korban, karena seolah-olah kasus-kasus itu tak terungkap karena kesalahan mereka juga.
Dalam program pendokumentasian itu, para korban, keluarga, saksi, pendamping dan petugas kesehatan yang menangani korban menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998, kebanyakan menyasar keturunan Tionghoa.
Setelah 22 tahun, penelitian Eunike Mutiara Himawan yang saat itu berstatus PhD candidate, The University of Queensland, Australia, melalui survei juga mengungkapkan korban kekerasan Mei 1998 masih terluka batin dan kenangan buruk mereka kerap terpantik saat mendengar adanya kerusuhan lagi.
Di sisi lain, anggapan sebagian masyarakat yang secara keliru mengatakan penyebab krisis moneter tahun 1997-1998 adalah etnis Tionghoa juga belum hilang. Hal ini juga menghalangi orang-orang keturunan Tionghoa untuk melepas trauma masa kelam tersebut.
KESIMPULAN
Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa narasi yang mengatakan etnis Tionghoa tidak spesifik menjadi korban kerusuhan Mei 1998 adalah klaim yang keliru.
Korban yang menderita kerugian material seperti penjarahan dan perusakan, paling banyak berasal dari etnis Cina. Demikian juga sebagian besar kasus kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998 lalu, diderita oleh perempuan etnis Cina.
TIM CEK FAKTA TEMPO
**Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email [email protected]