Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Luka kecil apa pun di rongga mulut disebut sariawan oleh awam, padahal masalah kesehatan di rongga mulut tidak melulu sariawan. Dalam kamus medis, sariawan disebut stomatitis aftosa. Setiap orang pasti mengalami sariawan minimal sekali seumur hidup. Penyakit ini menyerang mukosa atau jaringan lunak di dalam rongga mulut. Baca: Indonesia Siap Eliminasi TBC pada Tahun 2030
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sariawan muncul dengan tanda yang khas. Bentuknya menyerupai kawah. Jika dilihat dari atas tampak bulat atau oval dengan tepi berwarna merah, pertanda ia mengalami peradangan. Dasar lukanya putih kekuningan. “Tanda terakhir yang paling penting, terasa sakit dan tidak disertai demam. Kalau Anda demam dan tidak merasakan sakit, itu bukan sariawan,” kata Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Rahmi Amtha, di Jakarta.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sariawan berdasarkan tingkat keparahannya dibagi tiga yakni minor, mayor, dan herpetiform. Dikatakan minor, jika ukuran lukanya kurang dari 1 cm, bisa sembuh sendiri dalam 2 minggu. Sariawan mayor berukuran lebih dari 2 cm, bisa sembuh sendiri namun butuh waktu hingga 4 minggu. Ia bisa muncul di semua area rongga mulut termasuk gusi. Saat sudah sembuh, ia membentuk jaringan parut (timbul bekas luka). Baca: Insiden Holocaust Syahrini, Pentingnya Berpikir Kritis dan Empati
“Sementara sariawan herpetiform bentuknya mirip penyakit herpes yakni luka kecil-kecil dengan ukuran kurang dari 2 milimeter. Seiring waktu, luka kecil-kecil itu bisa bergabung menjadi luka yang lebih besar. Meski demikian, penderita tidak demam. Kalau demam, perlu pemeriksaan lanjutan. Siapa tahu Anda terjangkit virus,” kata Rahmi.