Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Gaya Hidup

Nuansa Etnik Koleksi Dior Cruise, Pakai Kain Afrika yang Mirip Batik

Koleksi Dior menggunakan kain tradisional Togo yang mirip batik tulis, dibuat dengan menggunakan lilin.

2 Agustus 2020 | 12.40 WIB

Dior Cruise 2021 (Instagram/@dior)
Perbesar
Dior Cruise 2021 (Instagram/@dior)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Koleksi Dior Cruise 2021 yang dirilis pada akhir Juli lalu mengundang perhatian pecinta mode Indonesia. Pasalnya, koleksi yang dirancang oleh desainer busana Maria Grazia Chiuri itu membawa nilai etnik yang mengingatkan kepada kain batik Indonesia.

Namun, rupanya Chiuri mengangkat nilai dari kain tradisional Afrika yang ia namai "wax fabric". Hal ini cukup familiar bagi masyarakat Indonesia, mengingat kain motif dari Togo, Afrika, ini juga dibuat dengan menggunakan lilin, seperti layaknya batik tulis.

Menurut perancang busana Indonesia, Musa Widyatmodjo, terdapat banyak kain tradisional di beberapa negara yang menggunakan teknik yang hampir sama seperti batik tulis.

"'Batik' Afrika, pada saat Dior membawa itu, orang-orang menyebut bahwa itu batik Indonesia, padahal bukan," kata Musa melalui siaran Instagram, Sabtu, 1 Agustus 2020.

"Wax printing di Afrika, prosesnya sama dengan batik, dan terjadi dimana-mana, bukan cuma Indonesia. Mereka mampu menciptakan motif-motif yang 'aneh' dan unik, lalu menjadi trademark dan identitas mereka," tambahnya.

Ia kemudian mencoba menjabarkan bagaimana kain asal Togo tersebut bisa menarik perhatian rumah mode dunia seperti Dior dan membawa nilainya ke koleksi tahunan mereka.

"(Pegiat kain wax printing) Afrika bisa membuat 'batik' itu menjadi usaha yang sangat berkembang secara industri. Hal ini yang menjadi jaminan utama untuk rumah mode seperti Dior untuk mengangkat dan memproduksi (kain) tersebut dan keduanya menjadi hubungan bisnis yang menarik," kata Musa.

Dikutip dari Prestige, desainer Chiuri bekerja dengan pabrik dan studio Uniwax di Pantai Gading, salah satu pabrik terakhir yang memproduksi kain wax fabric melalui teknik artisanal mekanis. Inti dari seni ini melindungi warisan kreatif dan budaya Afrika.

Ada kisah belakang yang luar biasa untuk kain ini. Motif dan cara mencetaknya sangat kompleks. Setidaknya terdapat sekitar 20 langkah untuk membuat satu kain.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600
close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus